MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa percaya diri menyebut kinerjanya lebih baik dibandingkan menteri keuangan pendahulunya. Ia optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia mampu di level 6% pada tahun ini.
“Tahun ini pertumbuhan akan mencapai 6%. Sekarang menterinya lebih baik dari sebelumnya,” ujar Purbaya dalam Indonesia Economic Summit di Jakarta, Selasa (3/2).
Ia menilai, selama dua dekade terakhir mesin pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak berjalan optimal. Pada 10 tahun pertama era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menurutnya, perekonomian hanya ditopang sektor swasta, sementara pemerintah cenderung pasif dan tidak banyak melakukan intervensi, termasuk dalam pembangunan infrastruktur.
Baca juga : Pemerintah Optimistis Ekonomi 2025 Tembus 5,2%, Sesuai Target
"Dia (SBY) tidak membangun banyak infrastruktur," kata Bendahara Negara.
Kondisi tersebut berubah pada era Presiden Joko Widodo. Pemerintah, kata Purbaya, gencar membangun infrastruktur di berbagai wilayah. Namun, pada saat yang sama, sektor swasta justru dinilai kurang bergairah karena kebijakan moneter yang belum sepenuhnya mendukung.
Saat ini, pemerintah berupaya menggerakkan dua mesin pertumbuhan sekaligus, yakni sektor pemerintah dan sektor swasta. Dengan strategi tersebut, Purbaya meyakini pertumbuhan ekonomi di atas 6% bukan hal yang sulit dicapai.
Baca juga : Pertumbuhan Ekonomi 5,12%, Apindo: Fondasi Perekonomian Masih Kuat tapi Jangan Terlena
Ia bahkan memproyeksikan pertumbuhan ekonomi akan terus meningkat dalam beberapa tahun ke depan.
"Tahun ini pertumbuhan akan mencapai 6%. Tahun depan 6,5%, tahun berikutnya mendekati 7%. Mendekati 2029, bisa 8%," ucapnya.
"Jika saya masih di sini, saya rasa setelah itu, mencapai pertumbuhan di atas enam bukanlah hal yang sulit," lanjut Purbaya.
Untuk mencapai target tersebut, pemerintah berkomitmen memanfaatkan seluruh mesin pertumbuhan ekonomi agar berjalan pada kapasitas penuh. Meski demikian, ia mengakui tantangan terbesar saat ini adalah birokrasi yang tidak mudah diubah.
Namun, Purbaya menegaskan dirinya memiliki kewenangan untuk mengendalikan birokrasi. Ia menyebut dapat memangkas anggaran kementerian lain jika ada menteri yang tidak menjalankan kebijakan yang telah ditetapkan.
"Sekarang saya memiliki wewenang untuk mengendalikan birokrasi. Karena, jika misalnya, seorang menteri tidak mau melakukan apa yang saya perintahkan, saya dapat memangkas anggarannya," ungkapnya.
Ia menegaskan kebijakan fiskal Indonesia terus berkembang dengan memberikan stimulus ekonomi secara terukur, tanpa melampaui batas defisit 3% dari produk domestik bruto (PDB).
“Di luar stimulus, kita tetap menjaga kehati-hatian fiskal. Dibandingkan Jepang, Amerika Serikat, dan negara-negara lain, posisi kita cukup baik. Jadi jangan khawatir berinvestasi di negara ini,” kata Purbaya. (Ins/P-3)




