Minyak Turun Seiring Terbukanya Peluang Perdamaian AS–Iran

medcom.id
1 jam lalu
Cover Berita
Jakarta: Harga minyak dunia melemah pada Selasa, 3 Februari 2026. Pelaku pasar merespons terbukanya peluang de-eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, sementara penguatan dolar AS turut menekan pergerakan harga.
  Baca juga: Harga Minyak Dunia Stabil, Pasar Waspada Perang Ukraina dan Tarif Baru AS ke India
Kontrak berjangka minyak mentah Brent turun 34 sen atau 0,5 persen ke level USD65,96 per barel pada pukul 06.23 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS melemah 32 sen atau 0,5 persen menjadi USD61,81 per barel.
 
Dikutip dari Channel News Asia, pelemahan ini berlanjut setelah harga minyak anjlok lebih dari 4 persen pada perdagangan Senin. Penurunan dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut Iran “serius berbicara” dengan Washington, mengindikasikan meredanya ketegangan dengan salah satu anggota OPEC tersebut.
 
Iran dan AS dijadwalkan melanjutkan pembicaraan nuklir pada Jumat mendatang di Turki. Hal itu disampaikan pejabat dari kedua negara kepada Reuters. Meski demikian, Trump juga melontarkan peringatan bahwa “hal-hal buruk bisa terjadi” jika kesepakatan gagal tercapai, seiring pengerahan kapal perang besar AS ke kawasan dekat Iran.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian melalui akun X menyatakan bahwa dialog dengan AS perlu dilanjutkan demi mengamankan kepentingan nasional Iran, selama ancaman serta tuntutan yang tidak masuk akal dapat dihindari.
 
Analis pasar senior OANDA Kelvin Wong menilai fluktuasi harga minyak dalam empat pekan terakhir dipicu oleh premi risiko geopolitik. Menurutnya, hal itu berkaitan erat dengan kebijakan luar negeri pemerintahan AS yang cenderung ekspansif, terutama ancaman yang naik-turun terhadap Iran.
 
Tekanan tambahan datang dari penguatan dolar AS. Indeks dolar bertahan di dekat level tertinggi dalam lebih dari sepekan, yang membuat minyak mentah berdenominasi dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri.
 
Analis ING mencatat bahwa penguatan dolar dipicu pencalonan Kevin Warsh oleh Presiden Trump sebagai calon ketua Federal Reserve berikutnya, yang semakin menekan harga minyak.
 
Di sisi perdagangan, Trump pada Senin mengumumkan kesepakatan dengan India yang memangkas tarif impor AS terhadap barang-barang India menjadi 18 persen dari sebelumnya 50 persen. Sebagai imbalannya, India sepakat menghentikan pembelian minyak Rusia dan menurunkan sejumlah hambatan perdagangan.
 
Namun, ING memperingatkan bahwa jika kesepakatan itu terealisasi, justru berpotensi menambah pasokan minyak Rusia yang mengambang di laut. Trump juga menyebut India akan meningkatkan pembelian minyak dari AS dan kemungkinan dari Venezuela. Sejumlah analis memperkirakan volatilitas harga minyak masih akan berlanjut sepanjang Februari.
 
“Hingga Februari, harga minyak kemungkinan tetap bergejolak dan bergerak dalam kisaran, sangat reaktif terhadap berita utama dan sinyal makroekonomi, dengan risiko yang cenderung mengarah ke bawah,” ujar analis pasar senior Phillip Nova, Priyanka Sachdeva.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
BTN Proyeksikan Pertumbuhan Rumah Subsidi di Atas 10 Persen pada Tahun 2026
• 20 jam lalumerahputih.com
thumb
Eks Presiden Ingatkan Bahaya Jika Perjanjian Nuklir AS-Rusia Berakhir
• 9 jam laludetik.com
thumb
Airlangga: Negosiasi Indonesia–AS Rampung, Tinggal Finalisasi Dokumen Hukum
• 13 jam lalubisnis.com
thumb
Ciri Kepribadian Orang Humoris
• 4 jam lalubeautynesia.id
thumb
Ledakan ”Bom Paku” di Sekolah di Kalbar, Pelaku Sudah Ditangkap
• 1 jam lalukompas.id
Berhasil disimpan.