Langit Abu Dhabi mulai merekah kemerahan saat adzan Maghrib berkumandang. Sesaat setelah panggilan umat Muslim untuk menunaikan sholat itu selesai dilantunkan, berakhir pula pertemuan Presiden Kelima Republik Indonesia Megawati Soekarnoputri beserta rombongan dengan Duta Besar Republik Indonesia untuk Uni Emirat Arab Judha Nugraha, Senin (2/2/2026).
Selama hampir dua jam, Judha menjadi tuan rumah bagi Megawati di Wisma Duta Besar RI, Jalan Al Yaqout 42 Abu Dhabi. Seusai pertemuan, Megawati lalu mengisi buku tamu. Presiden perempuan pertama Indonesia itu duduk sejenak, menunduk, lalu mulai menggoreskan pena. Ia menulis perlahan, dengan pilihan kata yang tampak dipikirkan sungguh-sungguh.
“MERDEKA. Sebagai Bangsa Indonesia kita selalu harus punya keyakinan, keteguhan, keberanian, kesabaran dalam membangun negara kita tercinta.” Megawati berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Karena perjuangan kita memerdekaan INDONESIA SEJATI belum selesai!”
Sebelum menyelesaikan pesan di buku tamu, Megawati sempat memastikan tanggal peristiwa itu kepada anaknya, Muhammad Prananda Prabowo yang mendampingi selama kunjungan ke Uni Emirat Arab.
Megawati seperti ingin tetap berhati-hati saat menuliskan sebuah detail kecil meski hanya berupa kata-kata dan waktunya. Tulisannya lalu ditutup dengan identitas yang melekat kuat dalam sejarah perjalanan Bangsa Indonesia, Presiden Kelima RI.
Megawati seolah mengajak Judha dan para diplomat Indonesia yang bertugas di Abu Dhabi untuk berhenti sejenak, merenungkan perjalanan panjang Indonesia sebagai bangsa merdeka.
Sebagai anak proklamator Indonesia, Bung Karno, yang di kemudian hari mendapat mandat serupa untuk memimpin negara berpenduduk ratusan juta dan berlatar belakang sangat majemuk, Megawati seperti tengah berbagi pengalaman untuk siapa pun yang membaca pesannya tersebut.
Menurut Judha, dalam pertemuan dengan Megawati, banyak pelajaran penting yang didapat para diplomat Indonesia, terutama mereka yang bertugas di negara Timur Tengah, kawasan yang saat ini sedang bergejolak dengan kondisi geopolitiknya yang tidak stabil.
“Ya secara singkat kami juga menyampaikan update mengenai situasi geopolitik yang ada di Timur Tengah. Tadi Ibu juga menyampaikan berbagai macam pandangan. Termasuk juga tentunya bagaimana kami bisa melihat suasana dan situasi geopolitik kita di Timur Tengah ini. Bagaimana kami juga tetap bisa fokus meningkatkan kerja sama yang baik. Secara khusus di UEA dan juga secara umum di kawasan Timur Tengah,” kata Judha.
Judha melanjutkan, dalam pertemuan tersebut, Megawati bercerita mengenai pengalamannya saat berada di pemerintahan, juga tentang sejarah panjang bangsa Indonesia sejak kemerdekaan hingga saat ini. “Kami belajar banyak dari Ibu Megawati,” ujarnya.
Kunjungan Megawati ke KBRI di Abu Dhabi merupakan bagian dari rangkaian lawatan resminya di Uni Emirat Arab. Selain ditemani putranya, Megawati dalam lawatan ini juga didampingi antara lain oleh Ketua DPP PDI-P Bidang Hubungan Luar Negeri Ahmad Basarah dan Ketua DPP PDIP Bidang Agama (non aktif) yang juga Duta Besar RI untuk Tunisia Zuhairi Misrawi.
Kunjungan ke KBRI di Abu Dhabi ini merupakan rangkaian lawatan Megawati yang diundang Pemerintah UEA untuk mengikuti berbagai kegiatan Zayed Award for Human Fraternity, sebuah penghargaan internasional yang mengapresiasi upaya-upaya kemanusiaan lintas negara, agama, dan budaya.
Bagi Indonesia, kehadiran Megawati di forum ini memiliki makna tersendiri. Dubes Judha menyebut partisipasi tersebut sebagai sesuatu yang patut dibanggakan.
“Zayed Award for Human Fraternity ini merupakan salah satu event tahunan Pemerintah UEA, yang memberikan penghargaan kepada insan-insan yang berjuang di isu-isu kemanusiaan,” ujarnya.
Judha mengingatkan bahwa pada 2024, Megawati tercatat sebagai salah satu anggota dewan juri Zayed Award. Pada tahun yang sama, dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), menjadi penerima penghargaan tersebut. “Ini kebanggaan bagi kita. Organisasi Islam di Indonesia diakui secara internasional atas kiprahnya dalam kegiatan kemanusiaan,” kata Judha.
Secara terpisah Basarah mengungkapkan peran Megawati saat menjadi juri pada Zayed Award tahun 2024. Saat itu, berkat perjuangan dan diplomasi Megawati di dalam komite juri, dua organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah, berhasil dinobatkan sebagai pemenang Zayed Award.
“Beliau memaparkan bukti nyata bagaimana kedua organisasi ini menjadi pilar perdamaian, toleransi, dan persaudaraan kemanusiaan di Indonesia, bahkan dunia," ujar Basarah.
Menurut Basarah kemenangan NU dan Muhammadiyah di ajang Zayed Award dalam kategori organisasi kemasyarakatan tahun 2024 tersebut bukan sekadar pengakuan simbolis.
"Penghargaan Zayed untuk Persaudaraan Manusia adalah penghargaan tahunan independen dan internasional. Penghargaan ini mengakui individu atau entitas di seluruh dunia yang memimpin dengan memberi contoh, berkolaborasi tanpa pamrih, dan bekerja tanpa lelah untuk menjembatani kesenjangan serta menciptakan hubungan manusia yang nyata," jelas Basarah.




