Pertumbuhan kendaraan listrik di Indonesia kini tak lagi hanya tercermin dari lonjakan penjualan semata. Dampak yang lebih signifikan justru terlihat pada perubahan struktur pasar otomotif nasional, di mana sejumlah segmen yang sebelumnya stagnan mulai kembali bergerak berkat masuknya produk-produk EV yang tepat sasaran.
Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) hingga November 2025 menunjukkan bahwa sepanjang Januari–Desember 2025, beberapa segmen kendaraan mencatat pertumbuhan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Menariknya, mayoritas kenaikan tersebut memiliki korelasi kuat dengan kehadiran kendaraan listrik di masing-masing segmen.
Segmen low hatchback menjadi salah satu contoh paling menonjol. Setelah beberapa tahun tertekan dan cenderung menyusut, segmen entry-level di tahun 2025 justru tumbuh hampir dua kali lipat dibandingkan 2024, seiring hadirnya EV berharga rasional dengan biaya kepemilikan rendah dan teknologi yang relevan untuk mobilitas perkotaan.
Fenomena ini tak lepas dari kehadiran BYD Atto 1, yang praktis mengubah peta persaingan di kelas bawah. Dengan banderol yang beririsan langsung dengan LCGC setelah insentif, Atto 1 menjadi pintu masuk baru bagi konsumen first car buyer untuk beralih ke mobil listrik, sekaligus menggeser dominasi mesin pembakaran internal di segmen tersebut.
“Efek domino pertumbuhan EV di Indonesia berdasarkan data Gaikindo sampai Desember 2025 memang menunjukkan penetrasi EV sudah menembus 13 persen dengan volume 104.000 unit, naik empat kali dibanding 2023. Artinya, komposisi permintaan mulai bergeser dari LCGC berbasis ICE ke EV,” ujar pengamat otomotif sekaligus Pakar Desain Produk ITB, Yannes Martinus Pasaribu, kepada kumparan, Senin (29/12/2025).
Efek elektrifikasi juga terasa pada segmen sedan yang selama bertahun-tahun kehilangan daya tarik di pasar domestik. Sejak 2024 dan berlanjut sepanjang 2025, sedan kembali mencatat pertumbuhan, didorong oleh hadirnya model-model listrik yang mengedepankan efisiensi, kenyamanan, dan teknologi, bukan lagi sekadar performa atau citra status.
Salah satu kontribusi penting datang dari BYD Seal, yang membawa persepsi baru terhadap sedan di Indonesia. Model ini tidak lagi diposisikan sebagai kendaraan performa atau simbol status semata, melainkan sebagai sedan modern dengan efisiensi tinggi, fitur ADAS lengkap, serta karakter berkendara yang sesuai kebutuhan pengguna urban dan komuter jarak jauh.
Di kelas atas, transformasi terjadi pada segmen high MPV dan high SUV. Sepanjang Januari–Desember 2025, penjualan high MPV tercatat tumbuh sekitar 70 persen, sementara high SUV meningkat sekitar 20 persen dibandingkan tahun sebelumnya, menandakan bahwa elektrifikasi mulai diterima di segmen keluarga dan premium yang sebelumnya sangat konservatif.
Masuknya MPV listrik premium seperti Denza menjadi salah satu katalis penting. Elektrifikasi di kelas ini tidak hanya menawarkan efisiensi, tetapi juga pengalaman berkendara yang lebih senyap, fitur kenyamanan kelas atas, serta citra premium baru yang berbeda dari MPV konvensional bermesin besar.
“Bukti lapangannya makin jelas saat BYD lewat memasarkan seri terjangkaunya seperti Atto 1. BYD bahkan mencatat penjualan lebih dari 54.000 unit (periode Januari-Desember 2025) dengan pangsa sekitar 52 persen, bahkan melampaui total penjualan EV nasional sepanjang 2024,” kata Yannes.
Dengan kehadiran produk listrik di hampir seluruh segmen—mulai dari kendaraan kompak, sedan, hingga MPV dan SUV premium—EV kini tidak lagi berdiri sebagai kategori terpisah. Elektrifikasi mulai berfungsi sebagai penggerak lintas segmen yang mempengaruhi arah desain, strategi harga, hingga positioning produk pabrikan.
“Sehingga perang value ini memaksa merek-merek tradisional, termasuk Jepang, untuk merombak portofolio desain modelnya lewat penyesuaian harga, pengayaan fitur ADAS, serta penekanan total cost of ownership yang lebih rendah,” pungkas Yannes.
Dari sudut pandang industri, kondisi tersebut menandai fase baru pasar otomotif nasional. Pertumbuhan EV tidak lagi bersifat linear, melainkan menciptakan efek domino yang menghidupkan kembali segmen lama, membentuk preferensi baru konsumen, dan mendorong pabrikan meninjau ulang strategi produknya secara menyeluruh.


/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F02%2F03%2F852f85a74a93d24cb81a397fe26421bf-WhatsApp_Image_2026_02_03_at_13.05.32_1_.jpeg)

