PADANG, KOMPAS — Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Provinsi Sumatera Barat meluncurkan program tebang sawit gratis untuk petani dan perusahan di Kabupaten Pasaman Barat. Batang sawit yang ditebang akan diambil niranya untuk diolah masyarakat menjadi gula sawit.
Program bertajuk “Tebang Pohon Sawit Gratis” ini ditujukan bagi petani ataupun perusahaan perkebunan kelapa sawit di Pasaman Barat. Penebangan akan dilakukan oleh masyarakat Nagari Sungai Aua, Kecamatan Sungai Aur, yang mengelola usaha gula merah dari nira sawit.
“Tebang pohon sawit gratis bertujuan membantu petani sekaligus menjamin ketersediaan bahan baku gula sawit secara berkelanjutan,” kata Kepala Balitbang Provinsi Sumatera Barat, Febrina Tri Susila Putri, dalam siaran pers, Selasa (3/2/2026).
Sejak 2024, Balitbang Sumbar mengembang produk inovasi gula merah dari nira sawit di Pasaman Barat. Dalam penelitian tersebut, Balitbang Sumbar berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Bappelitbangda Pasaman Barat, dan Universitas Andalas.
Pohon sawit yang biasanya nonproduktif hanya dicacah atau diracun hingga busuk untuk persiapan penanaman kembali (replanting). Dengan adanya pengembangan gula merah ini, batang sawit yang biasanya menjadi limbah bisa bernilai ekonomi bagi masyarakat (Kompas.id, 28/11/2024).
Akan tetapi, produksi gula sawit sangat bergantung pada ketersediaan pohon sawit tua yang siap ditebang dan dimanfaatkan niranya. Di sisi lain, banyak pemilik kebun enggan menebang pohon sawit karena keterbatasan biaya, tenaga kerja, dan peralatan. Program tebang sawit gratis ini diharapkan menjadi simbiosis mutualisme bagi kedua pihak.
“Melalui inovasi ‘Tebang Pohon Sawit Gratis’, proses penebangan pohon sawit dilakukan tanpa biaya bagi pemilik kebun baik perusahaan maupun swasta, dengan pola kolaborasi antara pemerintah, kelompok usaha, dan masyarakat,” ujar Febrina.
Febrina menambahkan, program ini merupakan ikhtiar Balitbang dalam menjawab persoalan riil masyarakat. Perekayasaan gula sawit tidak berhenti pada aspek teknologi pengolahan, tetapi juga dikembangkan menjadi inovasi turunan yang menyentuh hulu, termasuk melalui program tebang sawit gratis.
Peneliti muda Balitbang Sumbar sekaligus Ketua Perekayasaan Gula Sawit, Edwin Mangatur Tampubolon, mengatakan, inovasi tersebut dirancang agar mudah direplikasi daerah lain.
“Kami ingin memastikan inovasi ini sederhana, aplikatif, dan memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat. Tebang pohon sawit gratis menjadi pintu masuk untuk memperkuat ekosistem usaha gula sawit dari hulu hingga hilir,” katanya.
Dalam program tebang sawit gratis ini, kata Edwin, sawit nonproduktif ditebang. Batang bagian atas sawit dideres atau disadap dan niranya ditampung sekitar 40 hari untuk digunakan sebagai bahan baku gula sawit oleh Nagari Sungai Aua melalui Kelompok Gula Sawit Raya dengan Sekretaris Nagari Sungai Aua, Ali Akbar, sebagai koordinator.
Adapun kayu dari pohon sawit yang ditebang turut dimanfaatkan sebagai bahan bakar produksi gula sawit sehingga tercipta efisiensi biaya sekaligus mendukung konsep ekonomi sirkular. Dengan pola ini, hampir tidak ada limbah yang terbuang karena seluruh bagian pohon sawit dapat digunakan.
Edwin menjelaskan, potensi kebutuhan pasar gula sawit masih sangat besar. Pengusaha gula merah di Kabupaten Serdang Bedagai, Sumatera Utara, setidaknya membutuhkan 20 ton per hari gula sawit cair dari Pasaman Barat. Namun, saat ini, Nagari Sungai Aua baru sanggup menyuplai 6 ton per bulan.
“Kebutuhan pasar di Serdang Bedagai sangat besar dan ini menjadi peluang usaha untuk peningkatan ekonomi masyarakat,” ujarnya sekaligus berharap inovasi gula sawit dapat direplikasi di daerah lain.
Tebang pohon sawit gratis bertujuan membantu petani sekaligus menjamin ketersediaan bahan baku gula sawit secara berkelanjutan
Edwin pun berharap program tebang sawit gratis dapat mendorong peremajaan kebun sawit, meningkatkan pendapatan masyarakat, dan membuka peluang usaha baru berbasis potensi lokal.
Balitbang Sumbar menyebut, potensi nira dari sawit non produktif di Pasaman Barat relatif besar. Merujuk data Dinas Perkebunan Tanaman Pangan dan Hortikultura tahun 2023, ada sekitar 85.000 hektar kebun sawit masyarakat yang harus diremajakan (replanting). Jika dapat dimanfaatkan semua, potensi itu akan meningkatkan ekonomi masyarakat (Kompas.id, 28/11/2024).





