Harapan baru muncul bagi anak-anak dengan kanker otak mematikan. Sebuah uji klinis pertama di dunia akan menguji vaksin personalisasi berbasis mRNA yang dirancang khusus untuk menyerang sel kanker setiap pasien secara spesifik. Program ini akan dilaksanakan di delapan rumah sakit di seluruh Australia mulai akhir tahun ini.
Uji coba selama empat tahun tersebut melibatkan sekitar 70 anak dengan prognosis yang sangat buruk atau sudah kehabisan pilihan terapi. Penelitian ini bertujuan menilai keamanan sekaligus efektivitas vaksin eksperimental yang bekerja dengan memanfaatkan sistem imun tubuh.
Vaksin ini dirancang untuk memicu tubuh memproduksi sel T pembunuh — semacam “rudal medis” — yang dapat mengenali dan menghancurkan tumor.
Vaksin Dibuat Khusus untuk Tiap AnakKetua peneliti dari University of Queensland, Profesor Brandon Wainwright, menjelaskan bahwa sampel kecil tumor dari setiap anak akan dianalisis secara genetik. Dari sana, peneliti mengidentifikasi penanda kanker unik yang bisa dijadikan target terapi.
Berdasarkan hasil tersebut, vaksin khusus akan diproduksi dalam waktu sekitar delapan minggu setelah pasien bergabung dalam uji coba.
Setiap anak akan menerima delapan suntikan di lengan dengan jeda dua minggu, lalu dilanjutkan dosis booster beberapa bulan kemudian.
Profesor Wainwright, yang telah meneliti kanker otak anak selama 30 tahun, mengatakan uji coba ini ditujukan bagi pasien yang benar-benar tidak memiliki pilihan pengobatan lain.
“Karena penyakit ini sangat serius, kami bisa melihat respons pengobatan dalam waktu 12 bulan sejak terapi dimulai,” ujarnya.
Peneliti berharap terapi ini tak sekadar memperpanjang angka harapan hidup, tetapi juga memperbaiki kualitas hidup pasien.
“Anak-anak ini mengalami berbagai gejala berat. Jika kami bisa mengurangi tingkat keparahan penyakit dan memperpanjang hidup mereka, itu adalah kemajuan besar yang sebelumnya tidak mungkin,” kata Wainwright.
Kanker Otak Penyebab Kematian Utama Akibat Kanker di AustraliaDi Australia, sekitar 40 anak meninggal setiap tahun akibat kanker otak — menjadikannya kanker paling mematikan pada anak. Sayangnya, angka kelangsungan hidup untuk jenis kanker otak terburuk hampir tidak berubah selama puluhan tahun.
Teknologi yang digunakan dalam vaksin ini adalah messenger RNA (mRNA), teknologi yang sama yang terbukti efektif pada vaksin COVID-19.
Sebelumnya, vaksin kanker personalisasi berbasis mRNA telah menunjukkan hasil menjanjikan pada pasien dewasa dengan kanker pankreas dan melanoma.
Menurut Wainwright, kanker otak pada anak sering “bersembunyi” dari sistem imun. Vaksin ini membantu sistem kekebalan mengenali protein penanda kanker di permukaan sel tumor, sehingga tubuh bisa menyerangnya.
Tanpa Plasebo demi EtikaProfesor Jordan Hansford, spesialis kanker anak sekaligus pemimpin klinis uji coba dari Women’s and Children’s Hospital Adelaide, menegaskan bahwa semua peserta akan menerima vaksin.
“Kami tidak menggunakan plasebo. Itu tidak etis bagi anak-anak dengan kondisi penyakit yang sangat serius,” katanya.
Tahap awal akan menguji keamanan dan dosis optimal pada 7–10 pasien pertama sebelum masuk fase kedua untuk menilai efektivitas.
Didukung Keluarga PasienUji klinis ini juga didukung oleh keluarga pasien. Salah satunya Marisa Rosin, ibu dari Marcus, yang meninggal karena kanker otak di usia sembilan tahun setelah berjuang selama bertahun-tahun.
Melalui Marcus Rosin Fund, keluarganya membantu mendanai penelitian ini.
“Saya sedih ini tidak ada lebih cepat, tapi kalau Marcus masih ada, saya pasti akan memasukkannya ke uji coba ini 110 persen!” katanya.
Berpotensi untuk Berbagai Jenis KankerPerusahaan bioteknologi Southern RNA akan memproduksi vaksin personalisasi ini, sementara Australian and New Zealand Children’s Haematology/Oncology Group akan mengawasi jalannya penelitian.
Profesor Nigel McMillan dari Griffith University, yang tidak terlibat langsung dalam studi, menilai pendekatan ini sangat menjanjikan.
Ia menggambarkan vaksin ini seperti memberikan “foto identitas” kanker kepada sistem imun, sehingga tubuh bisa mengenali mana sel sehat dan mana sel kanker.
“Teknologi ini berpotensi diterapkan pada berbagai jenis kanker di masa depan,” ujarnya.





