Munculnya kembali wabah virus Nipah di India menjadi perhatian serius dunia kesehatan. Menyikapi kondisi tersebut, Ari Baskoro pengajar senior Divisi Alergi-Imunologi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair), mengingatkan Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi masuknya virus mematikan tersebut.
Peringatan ini disampaikan menyusul laporan wabah virus Nipah di India yang telah menelan korban jiwa, termasuk dari kalangan tenaga kesehatan.
Meski Kementerian Kesehatan RI memastikan virus Nipah belum terdeteksi di Indonesia, Ari menilai langkah antisipasi tetap harus diperkuat mengingat tingginya risiko penularan lintas negara.
Ari Baskoro menjelaskan, virus nipah sejatinya adalah penyakit zoonosis yang ditularkan dari hewan ke manusia, dengan kelelawar buah sebagai sumber utamanya.
Namun, kasus terbaru di India menunjukkan pola yang mengkhawatirkan: penularan antar-manusia.
“Terjadinya penularan antar manusia itulah yang mengharuskan dunia lebih waspada. Kejadiannya mirip dengan awal mula pandemi Covid-19,” terang Ari Baskoro dalam keterangan yang diterima suarasurabaya.net, Selasa (3/2/2026).
Ia menyatakan bahwa risiko meningkat tajam ketika diketahui dua perawat di India tertular saat merawat pasien dengan infeksi pernapasan berat.
Mengapa Indonesia Harus Waspada?
Ari menjelaskan. terdapat sejumlah alasan mengapa Indonesia perlu meningkatkan level siaga. Pertama adalah kedekatan geografis. Sebab negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Filipina sudah pernah mengalami wabah ini.
Faktor kedua adalah ekologi. Kerusakan hutan dan kebakaran lahan di Indonesia dapat memicu kelelawar buah bermigrasi ke pemukiman manusia atau peternakan, meningkatkan risiko penularan.
Yang ketiga adalah tingkat kematian tinggi. Berdasarkan data ScienceDirect (2024), tingkat fatalitas kasus atau Case Fatality Rate global mencapai 58 persen.
Kenali Gejala dan Langkah Pencegahan
Hingga saat ini, belum ditemukan obat antivirus spesifik maupun vaksin untuk infeksi Nipah. Gejala awal biasanya muncul setelah masa inkubasi tiga hingga 14 hari, meliputi:
1. Demam tinggi, nyeri telan, dan sakit kepala.
2. Rasa kantuk berlebihan hingga disorientasi mental.
3. Kejang atau hilangnya kesadaran (pada kasus berat akibat radang otak).
4. Gangguan saluran napas atau pneumonia.
Sebagai langkah preventif, masyarakat diimbau untuk konsisten menerapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).
“Pengenaan masker serta rajin mencuci tangan dengan sabun merupakan langkah preventif yang sudah teruji, seperti saat pandemi Covid-19,” tambahnya.
Selain itu, masyarakat disarankan menghindari kontak dengan kelelawar atau babi, mencuci buah dengan bersih, dan memastikan daging babi dimasak hingga benar-benar matang sebelum dikonsumsi. (saf/ipg)


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5490838/original/043209800_1770026678-IWS_3410.jpg.jpeg)