Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa mengapresiasi peran seluruh pihak dalam menata ulang wisata bahari yang berkelanjutan.
Dirinya menegaskan, selain menawarkan keindahan alam, Indonesia juga berkomitmen dalam menjaga alam dengan penguatan kebijakan yang mendorong keselamatan, keamanan, dan keberlanjutan pariwisata.
Baca Juga: Purbaya Prediksi IHSG Naik Setelah Pemilihan Ketua OJK Baru
Ini disampaikan Wamenpar saat menjadi pembicara kunci di Bali Ocean Days 2026 di Jimbaran Convention Center, InterContinental Bali Resort, Sabtu (31/1/2026).
“Indonesia memperkuat keselamatan dan keamanan pariwisata. Komitmen ini membutuhkan kekuatan kolektif untuk membentuk pariwisata bahari yang inklusif, tangguh, dan berkelanjutan, memastikan lautan kita terus menginspirasi kemakmuran dan kebanggaan bagi generasi mendatang,” kata Wamenpar, dikutip dari siaran pers Kemenpar, Selasa (3/2).
Para penggerak lingkungan, pelaku industri, dan pemangku kebijakan menyuarakan optimisme dengan menempatkan pengelolaan sampah sebagai titik krusial dalam menjaga keberlanjutan destinasi wisata.
Perubahan dimulai dari cara seseorang memandang tanggung jawab, bahwa keindahan alam adalah hasil dari upaya yang diperjuangkan bersama.
Aktivis lingkungan sekaligus Founder Ecotourism Bali, Suzy Hutomo, menekankan bahwa sampah bukanlah urusan ‘orang lain’, melainkan tanggung jawab pribadi yang melekat pada setiap individu.
“Aktor pariwisata harus menyadari bahwa keindahan Bali yang luar biasa ini sebanding dengan usaha yang kita berikan. Kita harus mau ‘repot’ dan berinvestasi untuk mengurus sampah,” ujar Suzy Hutomo usai menjadi moderator dalam acara Bali Ocean Days.
Ia juga menyoroti pentingnya peran wisatawan dalam menjaga destinasi. Bagi Suzy, operator wisata bahari tidak hanya melayani, tetapi juga membimbing wisatawan agar berperilaku selaras dengan kelestarian alam.
“Ini membutuhkan kolaborasi dan struktur yang kuat untuk benar-benar mempertahankan keindahan alam Bali dan Indonesia,” katanya.
Selaras dengan semangat tersebut, CEO Wedoo, Valerine Chandrakesuma, menyampaikan bahwa keberlanjutan lingkungan bahari merupakan persoalan kompleks yang harus dikerjakan secara bergotong royong. Menurutnya, kesehatan laut adalah jantung dari ekonomi pariwisata.
“Wisatawan memiliki banyak pilihan destinasi di dunia. Jika terumbu karang rusak dan ikan bermigrasi karena air yang tercemar, pesona menyelam dan berselancar kita akan hilang. Koral dan laut kita adalah salah satu yang terindah di dunia. Menjaganya bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk masa depan,” kata Valerine.
Melalui Wedoo, ia menghadirkan mesin pengelolaan sampah inovatif yang mampu mereduksi volume hingga 95 persen. Inovasi ini dirancang untuk mematahkan hambatan logistik yang selama ini dihadapi daerah terpencil, sekaligus mengubah limbah menjadi produk bernilai tambah.
“Dengan volume yang mengecil, sampah bukan lagi beban operasional yang mahal, melainkan aset bernilai ekonomi yang bisa diolah kembali,” katanya.
Valerine berharap teknologi tersebut dapat membantu menjaga wisata bahari Indonesia. Ia juga mendorong penguatan regulasi dan implementasi yang konsisten agar destinasi tetap lestari dalam jangka panjang.
“Harapan kami, pemerintah memperketat dan menegakkan regulasi dengan baik, sehingga tempat yang indah ini tetap terjaga hingga ribuan tahun ke depan,” ujarnya.
Upaya menjaga keberlanjutan bahari juga berdenyut kuat di Desa Pemuteran, Bali. Keterlibatan masyarakat yang dinaungi Yayasan Karang Lestari dalam melindungi terumbu karang telah mendapatkan pengakuan internasional.
Manajer Yayasan Karang Lestari, Komang Astika, mengisahkan bahwa desa tersebut sebelumnya menghadapi kerusakan ekosistem karang. Melalui berbagai inisiatif, termasuk penerapan metode biorock, masyarakat bersama-sama memulihkan kehidupan laut.
“Dengan mengamankan dan merestorasi terumbu karang, pariwisata Desa Pemuteran berkembang lebih baik dan semakin berkualitas,” kata Komang.
Keterlibatan warga dalam konservasi perlahan memulihkan karang yang sempat terancam akibat praktik penangkapan yang merusak lingkungan. Kesadaran kolektif ini mengubah tantangan ekologis menjadi peluang untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat.





