Pernahkah kita bertanya-tanya, mengapa surat terpanjang dalam Al-Qur’an justru diberi nama Al-Baqarah, yang berarti sapi? Padahal isinya sangat luas: hukum, iman, ibadah, muamalah, sejarah umat terdahulu, hingga prinsip hidup seorang mukmin.
Jika melihat cakupannya, nama seperti “Surat Hukum” atau “Surat Iman” mungkin terdengar lebih mewakili. Namun Allah memilih satu kisah singkat, kisah penyembelihan sapi. Sebagai judul surat terpanjang dalam Al-Quran. Pilihan ini tentu bukan kebetulan.
Kisah sapi dalam Surat Al-Baqarah hanya muncul dalam beberapa ayat, tepatnya berkaitan dengan perilaku Bani Israil saat menerima perintah Allah. Mereka diminta menyembelih seekor sapi.
Perintahnya jelas, sederhana, dan tegas. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Alih-alih segera taat, mereka mulai bertanya berulang-ulang: sapinya seperti apa, warnanya apa, usianya berapa. Pertanyaan demi pertanyaan diajukan bukan untuk memahami, melainkan untuk menunda dan mencari celah.
Di sinilah letak inti pelajaran Al-Baqarah. Allah tidak mempersulit perintah-Nya. Yang membuat perintah itu terasa berat adalah hati yang enggan tunduk. Semakin banyak syarat ditambahkan, semakin sulit pula perintah itu dilaksanakan. Pada akhirnya, sesuatu yang seharusnya mudah berubah menjadi rumit. Bukan karena kehendak Allah, tetapi karena sikap manusia sendiri.
Penyakit ini bukan hanya milik Bani Israil. Ia adalah penyakit lama yang masih hidup hingga hari ini. Ketika perintah Allah datang, tentang salat, kejujuran, menutup aurat, meninggalkan maksiat, atau berhijrah menuju hidup yang lebih baik. Sering kali respons kita bukan “kami taat”, melainkan “tapi…”. Tapi bagaimana kalau kondisinya begini? Tapi belum siap. Tapi nanti saja. Tapi orang lain juga begitu. Tanpa sadar, kita mengulangi pola yang sama: menunda ketaatan dengan alasan-alasan yang tampak rasional.
Inilah sebabnya mengapa kisah sapi diangkat dan dijadikan nama surat terpanjang. Al-Baqarah ingin menanamkan satu prinsip mendasar: iman sejati bukan tentang banyak berdebat, melainkan tentang tunduk dan bergerak. Ketaatan bukan soal seberapa jauh kita bisa berdiskusi, tetapi seberapa cepat kita merespons perintah Allah dengan amal.
Tidak mengherankan jika Nabi Muhammad ﷺ bersabda bahwa rumah yang dibacakan Surat Al-Baqarah tidak akan dimasuki setan. Bukan semata-mata karena panjangnya ayat, tetapi karena isi surat ini melatih jiwa untuk patuh. Al-Baqarah membentuk mentalitas seorang mukmin: menerima perintah Allah dengan lapang, bukan dengan perlawanan tersembunyi.
Surat ini memang terasa berat bagi orang munafik, karena ia menuntut konsistensi antara iman dan perbuatan. Namun bagi orang beriman, Al-Baqarah justru menenangkan, sebab ia memberi arah hidup yang jelas. Apa yang harus diyakini, apa yang harus dilakukan, dan bagaimana bersikap ketika perintah terasa tidak sesuai dengan keinginan pribadi.
Pada akhirnya, Al-Baqarah adalah cermin. Ia memantulkan sikap kita saat berhadapan dengan perintah Allah. Apakah kita taat, atau justru sibuk mencari alasan? Allah menamai surat ini Al-Baqarah agar kita selalu ingat: yang membuat iman terasa berat bukanlah syariat, melainkan hati yang enggan tunduk. Dan jika ingin hidup terasa lebih ringan, barangkali yang perlu kita pelajari bukanlah banyak alasan. Melainkan ketaatan yang sederhana.





