Penulis: Rifiana Seldha
TVRINews, Jakarta
Indonesia dinilai masih membutuhkan sejumlah pembenahan mendasar sebelum mampu bersaing dan tampil di ajang Piala Dunia. Pandangan tersebut disampaikan mantan pelatih Timnas Indonesia, Indra Sjafri, dalam Dialog Meja Bundar bertajuk “Piala Dunia 2026, Pers, dan Peradaban Publik Kita” yang digelar di Auditorium LPP TVRI, Jakarta Pusat, Selasa (3/2/2026).
Indra menyebut ada lima aspek krusial yang harus segera dibenahi agar Indonesia memiliki peluang realistis menembus panggung sepak bola dunia.
Pertama, pembenahan infrastruktur sepak bola yang tidak hanya terfokus di kota-kota besar. Menurutnya, pembangunan stadion saja tidak cukup, melainkan perlu menyentuh lapangan-lapangan di daerah dan desa.
“Infrastruktur bukan hanya membangun stadion di kota. Lapangan sepak bola di desa juga harus diperbaiki,” ujar Indra di Senayan.
Ia mengapresiasi langkah TVRI sebagai pemegang hak siar Piala Dunia 2026 karena jangkauan siaran yang luas dinilai dapat memotivasi masyarakat hingga ke pelosok.
Kedua, Indra menekankan pentingnya pembaruan kurikulum sepak bola nasional agar selaras dengan tren permainan dunia.
“Kita sudah punya kurikulum, tinggal bagaimana meng-upgrade dengan informasi, terutama dari Piala Dunia. Tren sepak bola 2026 itu seperti apa,” jelasnya.
Ketiga, ia menyoroti minimnya jumlah pelatih berkualitas. Indra membandingkan Indonesia dengan Jepang yang jauh lebih unggul dari sisi sumber daya kepelatihan.
“Pelatih kita baru 13 ribu orang, Jepang sudah 86 ribu. Lisensi pro kita baru 44 orang,” ungkapnya.
Keempat, ia menekankan perlunya tahapan pembinaan pemain yang jelas dan terstruktur, seperti yang diterapkan negara-negara maju sepak bola.
Kelima, kompetisi usia muda harus diperkuat sebagai fondasi regenerasi jangka panjang.
“Kalau lima hal ini diperbaiki, baru cita-cita 2034 bisa dibicarakan,” tegasnya.
Indra menilai siaran Piala Dunia melalui TVRI dapat menjadi sarana edukasi bagi pelatih dan praktisi sepak bola di seluruh Indonesia.
“Walaupun belum punya sertifikasi, dengan melihat pertandingan tim-tim dunia, para pelatih bisa belajar mempercepat pengetahuan sepak bola,” ucapnya.
Ia berharap penunjukan TVRI sebagai pemegang hak siar dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat dan ekosistem sepak bola nasional.
“TVRI punya saluran yang luas, manfaatnya bisa diambil oleh praktisi, masyarakat, dan orang-orang yang bergerak di sepak bola,” pungkasnya.
Dialog Meja Bundar ini menjadi ruang diskusi kepublikan untuk membahas bagaimana siaran Piala Dunia 2026 tidak hanya berorientasi hiburan, tetapi juga berkontribusi pada edukasi, literasi, dan kemajuan olahraga Indonesia.
Editor: Redaktur TVRINews



