Dia memulai usahanya pertama kali dengan menjadi pengemudi ojek daring. Seiring waktu, dia kemudian mencoba layanan pesan-antar makanan.
Awalnya, ia memakai motor dari sang kakak. Kini, ia meminjam kendaraan milik pamannya sebagai kendaraan utama dalam menjalani pekerjaannya.
Berkat kerja keras dan usahanya, Ryaas berhasil membayar uang kuliah mandiri. Dia juga selalu berusaha membagi waktu kuliah agar tidak ada yang terlewat dan tertinggal.
“Sebenarnya kalau manajemen waktu, aku biasanya mulai merencanakannya pas memilih mata kuliah atau saat masa KRS. Jadi, saat memilih mata kuliah, aku juga harus mempertimbangkan jumlah SKS sebagai patokan waktu antara waktu kuliah dan bekerja,” cerita Ryaas dikutip dari laman ugm.ac.id.
Ryaas mengaku keputusan tersebut bukan hal mudah. Namun, dia telah mempertimbangkan beberapa hal sebelum memutuskan menjalani pekerjaan sebagai pengantar makanan.
“Kalau pekerjaannya tuh sebenernya relatif mudah, karena fleksibel dan bisa dilakukan di mana aja. Kalau ditekuni tuh penghasilannya juga tidak mengecewakan, kok.” ungkap dia.
Menurutnya, sebuah impian dan keinginan merupakan hal yang harus diperjuangkan. Ia selalu berusaha mewujudkan impiannya dengan usaha dan kerja keras.
Baca Juga :
Anak Petani Jadi Menteri di Timor Leste, Ini Kisah Inspiratif Alumnus UGM Manuel VongHal tersebut menjadi motivasi utamanya menjalani kuliah sembari menekuni pekerjaannya sebagai pengemudi ojek online. “Penghasilan bisa diatur. Ada saatnya istirahat, ada saatnya harus bekerja. Jadi kalau memang memiliki keinginan, kita harus benar-benar mengusahakannya,” kata dia.
Ryaas mengatakan kebutuhan yang mendesak tidak selalu sejalan dengan ketersediaan sumber daya yang ada. Keinginannya untuk lebih berani mengambil keputusan dan hidup mandiri membuatnya terus berusaha mengupayakan impiannya.
Ia tidak ingin bergantung terus-menerus kepada orang tuanya. “Aku tuh pengin sesuatu, tapi aku pengin mewujudkannya atas usahaku sendiri. Jadi, kalau misal itu zonk, aku enggak merasa ngerugiin orang tuaku,” ungkapnya seraya menyebutkan pengahasilannya rata-rata Rp3 juta per bulan.
Pengalaman kuliah sambil kerja ini menjadikan Ryaas sebagai pribadi yang lebih tangguh dan gigih dalam berusaha. Apalagi ia mendapat restu dan dukungan dari orang tua.
“Orang tua selalu mendukung, tapi engga secara terang-terangan. Yang penting, kuliah sama kerjanya seimbang,” kata dia.
Ia mengungkapkan usaha yang telah ia tekuni dapat menjadi bekalnya menjalani kehidupan setelah menyelesaikan kuliah. Ryaas sudah terbiasa menghadapi berbagai rintangan dan permasalahan.
“Proses ini bisa jadi bekalku setelah lulus kuliah nanti, sih. Aku jadi bisa terbiasa mengatur skala prioritas, multi-tasking, dan kadang mengatasi konflik dari para pelanggan,” tutur dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




