Pengrajin genteng di sentra produksi Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, menyambut positif wacana Presiden Prabowo Subianto yang menginginkan gerakan nasional penggantian atap seng menjadi genteng berbahan tanah liat. Program yang disebut sebagai proyek gentengisasi itu dinilai berpotensi meningkatkan permintaan sekaligus menggerakkan ekonomi pengrajin lokal.
Salah satu pengrajin genteng di Desa Burujul Wetan, Kecamatan Jatiwangi, Syamsul (25), mengaku siap jika permintaan genteng meningkat seiring realisasi program tersebut.
“Sanggup, siap,” kata Syamsul saat ditemui kumparan di pabrik genteng miliknya, Selasa (3/2).
Syamsul saat ini mempekerjakan 35 orang pekerja dengan kapasitas produksi sekitar 1.800 genteng per hari. Ia menyebut jumlah tenaga kerja dan produksi akan ditambah apabila permintaan pasar meningkat.
Selama ini, Syamsul rutin mengirimkan genteng ke sejumlah toko material bangunan di berbagai daerah. Selain wilayah Ciayumajakuning, produk genteng miliknya juga dipasarkan ke Bandung, Garut, Semarang, Kendal, Tegal, hingga Brebes.
“Alhamdulillah rutin kirim genteng empat mobil per minggu, jumlahnya sekitar 18 ribuan genteng,” ujarnya.
Syamsul menjalankan usaha genteng dengan merek ‘Sri Jaya’ sejak 2018. Usaha tersebut merupakan warisan dari ayahnya yang telah merintis produksi genteng sejak 2005.
Dalam proses produksi, Syamsul memproduksi dua jenis genteng, yakni morando yang memiliki bentuk gelombang besar melengkung, serta plentong yang cenderung lebih rata dengan sedikit gelombang. Kedua jenis genteng itu tersedia dalam varian glazur dan natural.
Genteng glazur dibuat dengan tambahan zat pewarna yang menghasilkan tampilan mengkilap, sementara versi natural mempertahankan warna alami tanah liat.
Dari sisi harga, genteng morando glazur dijual sekitar Rp 3.800 hingga Rp 4.000 per buah, sedangkan morando natural berkisar Rp 2.500 hingga Rp 2.600 per buah. Untuk jenis plentong, harga glazur dijual Rp 2.800 hingga Rp 3.000 per buah, sementara plentong natural berkisar Rp 1.800 hingga Rp 2.000 per buah.
“Yang glazur lebih mahal karena ada tambahan zat pewarna dan dua kali pembakaran,” jelasnya.
Proses produksi genteng di pabrik Syamsul masih menggunakan metode tradisional dengan memanfaatkan sinar matahari untuk proses pengeringan. Tanah liat yang telah dibentuk menjadi adonan dicetak, kemudian dipress dan didiamkan hingga mengeras. Setelah itu, genteng dijemur di bawah sinar matahari selama lima hingga enam jam sebelum masuk ke proses pembakaran.
Dalam satu kali pembakaran, tungku atau hawu milik Syamsul mampu menampung sekitar 8.000 genteng ukuran besar atau hingga 15.000 genteng ukuran kecil. Proses pembakaran berlangsung selama 8 hingga 12 jam, tergantung jenis kayu bakar yang digunakan.
Khusus untuk genteng glazur, setelah pembakaran pertama, genteng akan diberi zat pewarna sebelum kembali dibakar untuk menghasilkan lapisan mengkilap.
Usaha pembuatan genteng tersebut juga menjadi sumber penghidupan bagi para pekerjanya. Salah satu pekerja, Soleh (31), mengaku telah bekerja di pabrik tersebut selama 20 tahun sebagai kuli panggul.
“Sistem bayarannya mingguan, cukup untuk memenuhi kebutuhan anak sama istri,” tuturnya.
Sementara itu, Anggota Komisi II DPRD Majalengka, Iip Rivandi, mengaku bangga mendengar wacana gentengisasi yang disampaikan Presiden Prabowo. Ia menilai kebijakan tersebut dapat mendorong pertumbuhan usaha kecil dan menengah di sektor kerajinan genteng.
“Ketika melihat pidato Presiden terkait genteng, saya sebagai warga Jatiwangi merasa tersentuh,” kata Iip.
Meski demikian, Iip berharap wacana tersebut dapat ditindaklanjuti menjadi kebijakan yang lebih konkret, seperti instruksi presiden atau produk hukum, agar dapat diimplementasikan secara berkelanjutan oleh pemerintah daerah.
Pemkab Majalengka Siap DukungPemerintah Kabupaten (Pemkab) Majalengka menyatakan komitmennya mendukung arahan Prabowo terkait penggunaan atap genting pada bangunan, khususnya gedung pemerintahan dan fasilitas publik.
Komitmen tersebut ditegaskan Bupati Majalengka, Eman Suherman, MM, usai menghadiri Rapat Koordinasi Pemerintah Daerah yang dibuka langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di Sentul, Bogor, Senin (2/2).
Menurut Eman, kebijakan penggunaan atap genting sejalan dengan arah pembangunan daerah melalui program Majalengka Langkung SAE, yang menekankan pembangunan berkelanjutan, berkeadilan, serta berpihak pada ekonomi rakyat.
“Penggunaan atap genting sejalan dengan semangat Majalengka Langkung SAE. Pembangunan tidak hanya mengejar fisik semata, tetapi juga harus memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat, khususnya pelaku usaha dan perajin lokal,” kata Eman.
Ia menjelaskan, Majalengka memiliki potensi industri genting rakyat yang cukup besar dan tersebar di sejumlah kecamatan. Dengan adanya arahan dari Presiden, Pemkab Majalengka berencana mendorong penggunaan atap genting pada pembangunan gedung pemerintahan, sekolah, fasilitas kesehatan, hingga infrastruktur publik lainnya.
“Ini merupakan bentuk keberpihakan nyata kepada produk lokal. Selain ramah lingkungan dan sesuai dengan karakter iklim daerah, genting juga mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan serta membuka lapangan kerja,” ujarnya.
Eman menegaskan, implementasi kebijakan tersebut akan disinergikan dengan perencanaan pembangunan daerah agar tetap selaras dengan visi dan misi Majalengka Langkung SAE sebagai fondasi pembangunan wilayah.
Melalui sinergi kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah, Eman berharap Majalengka dapat terus tumbuh sebagai daerah yang mandiri secara ekonomi, kuat secara sosial, serta berkelanjutan dari sisi lingkungan.
Sejarah Genteng MajalengkaSebagai informasi, Kabupaten Majalengka sejak lama dikenal memiliki dua ikon yang melekat kuat di masyarakat, yakni kecap Majalengka dan genting Jatiwangi.
Dari dua identitas tersebut, genting Jatiwangi bukan sekadar material bangunan, melainkan simbol warisan budaya, keterampilan turun-temurun, sekaligus denyut ekonomi rakyat.
Pada masa keemasannya, sekitar era 1980-an hingga awal 2000-an, genting Jatiwangi menjadi merek dagang unggulan yang memasok pasar di berbagai daerah di Indonesia, bahkan menembus pasar Asia dan Eropa. Saat itu, jumlah pabrik genting Jatiwangi tercatat mencapai lebih dari 600 unit.
Namun seiring perubahan zaman dan masifnya pembangunan kawasan industri, seperti Bendungan Jatigede, Bandara Internasional Kertajati, serta Tol Cisumdawu yang terhubung dengan Tol Cipali, industri genting rakyat mulai tergerus.
Saat ini, diperkirakan hanya tersisa sekitar 120-an pabrik genting yang masih bertahan. Generasi muda pun dinilai lebih memilih bekerja di sektor manufaktur besar yang dianggap lebih modern dan menjanjikan.




