Pantau - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto membuka acara Indonesia Economic Summit (IES) 2026 yang berlangsung di Jakarta pada 3–4 Februari 2026.
Dalam pidato pembukaannya, Airlangga menyampaikan bahwa forum ini menjadi ruang strategis bagi mitra global untuk memahami arah kebijakan ekonomi Indonesia serta prioritas pembangunan nasional.
Airlangga menyoroti kemitraan ekonomi antara Indonesia dan Inggris melalui UK-Indonesia Economic Growth Partnership (EGP), yang dinilainya berpeluang untuk ditingkatkan menjadi comprehensive economic partnership agreement (CEPA).
"Ini bentuk awal sudah ditandatangani, namanya Economic Growth Partnership (EGP). Nah, berikutnya tahapnya nanti kita akan upgrade menjadi separate," ungkapnya.
Kerja Sama Strategis di Lima Sektor UtamaAirlangga menjelaskan bahwa kerja sama kedua negara mencakup sejumlah sektor strategis yang dinilai krusial untuk pertumbuhan berkelanjutan.
Sektor-sektor tersebut antara lain energi bersih dan transisi hijau, melalui pengembangan teknologi ramah lingkungan dan pembiayaan energi berkelanjutan.
Bidang ekonomi digital juga menjadi fokus, khususnya dalam inovasi teknologi dan penguatan infrastruktur digital.
Selain itu, ketahanan pangan dan pertanian menjadi perhatian, dengan tujuan meningkatkan standar dan memperluas akses pasar bagi produk makanan dan minuman.
Di sektor pendidikan dan kesehatan, Inggris berencana membuka universitas di Indonesia untuk memperkuat kerja sama pendidikan tinggi.
Sektor maritim menjadi komponen penting dalam kemitraan ini, termasuk pembangunan kampung nelayan dan investasi di industri perkapalan.
Inggris Komitmen Investasi Rp91 Triliun untuk Proyek MaritimIndonesia berhasil mengamankan komitmen investasi dari Inggris sebesar 4 miliar poundsterling, atau setara dengan Rp91,74 triliun.
Porsi signifikan dari investasi ini akan dialokasikan ke sektor maritim, termasuk rencana pembangunan sekitar 1.500 kapal nelayan dan pengembangan kampung nelayan.
"Mereka (Inggris) juga akan membantu mendesain kapal mengisi kebutuhan kita yang diperkirakan 1.582 kapal melayan," ia mengungkapkan.
Kolaborasi ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan dan memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.


