JAKARTA, iNews.id - Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyampaikan duka mendalam atas tragedi siswa SD bunuh diri di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT). Peristiwa memilukan ini disebut menjadi perhatian serius pemerintah pusat.
Korban berinisial YBS (10), siswa kelas IV SD diduga mengakhiri hidup akibat tekanan ekonomi keluarga. Bocah tersebut disebut tidak mampu membeli perlengkapan sekolah berupa buku dan pena.
Menanggapi kasus ini, Gus Ipul menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah pusat dan daerah agar warga miskin mendapat perlindungan sosial yang layak.
“Ya, tentu kita prihatin dulu ya, turut berduka, ya. Yang kedua, ya tentu ini menjadi perhatian, menjadi atensi kita bersama,” ujar Gus Ipul di Jakarta, Selasa (3/2/2026).
Gus Ipul menilai tragedi ini harus menjadi pelajaran penting, khususnya dalam penanganan kemiskinan dan perlindungan sosial. Kunci utama ada pada akurasi data warga penerima bantuan.
“Bersama pemerintah daerah, kita harus memperkuat pendampingan, kita harus memperkuat data kita, dan kita harapkan tidak ada yang tidak terdata. Ini hal yang sangat penting saya kira, kembali kepada data,” katanya.
Lebih lanjut, Gus Ipul menjelaskan data yang akurat akan menentukan efektivitas program bantuan sosial agar tepat sasaran dan menjangkau seluruh masyarakat yang membutuhkan.
“Bagaimana data ini kita sajikan sebaik mungkin, sehingga kita bisa menjangkau seluruh keluarga-keluarga yang memang memerlukan perlindungan, memerlukan rehabilitasi, dan memerlukan pemberdayaan. Ya, jadi itu sampai di situ dulu, dan ini sungguh-sungguh menjadi keprihatinan kita bersama,” ucapnya.
Sebelumnya, kasus siswa SD bunuh diri di Ngada mengundang keprihatinan luas setelah polisi menemukan surat tulisan tangan korban yang ditujukan kepada ibunya.
Surat tersebut ditemukan saat anggota Polres Ngada melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Kamis (29/1/2026) siang.
Korban ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tergantung di pohon cengkeh, tidak jauh dari pondok sederhana tempat dia tinggal bersama neneknya.
Dalam surat yang ditulis menggunakan bahasa daerah Ngada, korban menyampaikan pesan perpisahan kepada sang ibu yang dipanggil Mama Reti. Surat itu diawali dengan kalimat “Kertas Tii Mama Reti” dan ditutup dengan pesan perpisahan “Molo Mama”. Di akhir surat, korban menggambar wajah menangis, yang memperkuat kesan emosional dalam kematiannya.
Original Article


