Penulis: Rifiana Seldha
TVRINews, Jakarta
Dewan Pengawas LPP TVRI menegaskan pentingnya pembenahan menyeluruh di internal TVRI menjelang pelaksanaan siaran Piala Dunia 2026. Momentum ini dinilai bukan hanya soal menghadirkan tontonan hiburan, tetapi juga menjadi sarana edukasi publik dan penguatan nilai karakter bangsa.
Hal tersebut disampaikan Ketua Dewan Pengawas LPP TVRI, Agus Sudibyo, usai forum Dialog Meja Bundar bertajuk “Piala Dunia 2026, Pers, dan Peradaban Publik Kita” yang digelar di Auditorium TVRI Pusat, Jakarta, Selasa, 3 Februari 2026.
Agus menyebut, forum tersebut memberikan sejumlah masukan strategis bagi TVRI sebagai pemegang hak siar resmi Piala Dunia 2026 di Indonesia.
“TVRI harus melakukan banyak pembenahan, mulai dari meningkatkan jangkauan siaran, kualitas penyiaran, hingga persiapan teknis, substansi, promosi, dan aspek lainnya,” ujar Agus.
Menurutnya, para narasumber yang hadir dalam dialog tersebut juga menaruh harapan besar agar Piala Dunia dapat menjadi momentum perbaikan ekosistem sepak bola nasional dengan belajar dari praktik terbaik negara-negara dunia.
“Ini kesempatan baik untuk meningkatkan prestasi sepak bola nasional melalui best practices yang bisa kita dapatkan dari sepak bola global,” jelasnya.
Lebih jauh, Agus menekankan bahwa Piala Dunia tidak boleh dipandang sekadar sebagai hiburan semata. Siaran olahraga harus mampu menjadi media pembentukan karakter, terutama bagi generasi muda.
“Piala Dunia bukan hanya tontonan, tapi juga sarana membangun mentalitas yang lebih baik, seperti disiplin, kerja keras, menghargai lawan, dan memahami bahwa prestasi itu harus melalui proses, tidak instan,” katanya.
Selain nilai edukatif, Agus menilai ajang ini juga berpotensi memberikan dampak sosial dan ekonomi yang luas, termasuk bagi sektor ekonomi kreatif dan UMKM.
“Siaran Piala Dunia 2026 harus memberikan kegembiraan sekaligus efek yang memberdayakan ekonomi kreatif, UMKM, dan pembangunan di tingkat daerah,” tambahnya.
Terkait langkah lanjutan, Agus memastikan TVRI akan menindaklanjuti seluruh kritik dan saran yang disampaikan dalam forum tersebut.
“Acara ini akan bermakna kalau masukan-masukan yang sangat berharga ini tidak berhenti sebagai catatan, tetapi benar-benar diterapkan untuk memperbaiki kinerja TVRI dalam menyiarkan Piala Dunia 2026 dan setelahnya,” tegas Agus.
Saat ditanya mengenai independensi TVRI dalam pengelolaan hak siar Piala Dunia, Agus menilai transparansi publik justru menjadi pengawasan utama. Menurutnya, yang perlu diperkuat adalah profesionalisme lembaga penyiaran publik.
“Piala Dunia itu public domain, semua orang bisa melihat bagaimana TVRI mempersiapkan diri. Yang harus ditingkatkan bukan lagi soal independensi, tetapi profesionalisme kita,” pungkasnya.
TVRI bersama lembaga penyiaran publik RRI dan Antara diharapkan mampu menghadirkan Piala Dunia 2026 sebagai ruang edukasi, literasi olahraga, sekaligus penguatan nilai kepublikan bagi masyarakat Indonesia.
Editor: Redaktur TVRINews





