Jakarta, tvOnenews.com - AC Milan kembali menghadapi persoalan klasik yang seolah tak pernah benar-benar selesai. Pencarian penyerang utama lagi-lagi menjadi cerita lama yang terulang, dengan hasil yang belum juga memuaskan hingga bursa transfer musim dingin ditutup.
Rossoneri sejatinya menyadari betul bahwa sektor ujung tombak membutuhkan figur yang konsisten. Namun, upaya demi upaya yang dilakukan justru kerap berujung pada tanda tanya besar soal keberuntungan klub.
La Gazzetta dello Sport mengingatkan publik pada masa ketika Milan meraih Scudetto dengan kontribusi krusial dari lini depan. Dua gol ke gawang Sassuolo pada laga terakhir musim itu menjadi simbol betapa pentingnya peran seorang striker dalam perjalanan menuju gelar juara.
Setelah Olivier Giroud hengkang pada musim panas 2024, posisi penyerang utama kembali terasa kosong. Nomor punggung 9 yang dulu identik dengan kejayaan kini seolah membawa beban tersendiri bagi siapa pun yang memakainya.
Giroud sejauh ini menjadi pengecualian dari apa yang kerap disebut sebagai “kutukan” lini depan Milan. Sejak era Pippo Inzaghi berakhir, hampir tidak ada striker yang benar-benar mampu bertahan lama dan memberi dampak signifikan di San Siro.
Episode baru kembali tercatat pada awal pekan ini. Milan sekali lagi dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa masalah lini depan belum juga menemukan solusi ideal.
Kilasan ke belakang membawa ingatan pada musim panas 2022. Setelah menjuarai Serie A, manajemen merasa perlu menambah penyerang baru mengingat usia Giroud dan Zlatan Ibrahimovic yang kian menua.
Divock Origi pun didatangkan dengan kontrak empat tahun bernilai sekitar empat juta euro bersih per musim. Harapannya, ia menjadi jawaban jangka menengah atas kebutuhan gol Milan.
Realitas berbicara lain. Origi hanya mampu mencetak dua gol dari 36 pertandingan kompetitif, sebelum menjalani masa peminjaman yang gagal dan perlahan menghilang dari radar tim utama.
Selama lebih dari satu setengah tahun, Origi masih tercatat sebagai pemain Milan tanpa pernah bermain atau bahkan berlatih bersama tim. Kisahnya berakhir dengan pemutusan kontrak yang menutup salah satu bab paling mengecewakan dalam proyek lini depan Rossoneri.




