Penulis: Ricardo Julio
TVRINews, Jakarta
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa Indonesia saat ini berhasil menyeimbangkan kekuatannya di kancah internasional. Hal tersebut dibuktikan dengan penyelesaian berbagai perjanjian kemitraan ekonomi komprehensif (CEPA) dengan negara-negara mitra strategis.
Sebagai negara middle power yang konsisten menjaga prinsip non-blok, stabilitas kawasan, dan kerja sama multilateral pemerintah memilih memperkuat ketahanan ekonomi domestik sekaligus mengubah tantangan menjadi momentum percepatan pertumbuhan yang inklusif.
“Sangat penting bagaimana menyeimbangkan kekuatan sebagai negara non-blok. Dan Indonesia, sekarang dapat saya umumkan bahwa sebagian besar CEPA telah diselesaikan. Dengan Kanada, dengan Uni Eropa, dengan Eurasia, dengan EREU,” ujar Airlangga Hartarto dalam keterangannya pada, Selasa 3 Februari 2026.
Menko Airlangga menjelaskan bahwa kinerja perekonomian nasional pada awal tahun 2026 menunjukkan tren konstruktif. Indeks PMI Manufaktur berada pada fase ekspansi di level 52,6 pada Januari 2026 dan telah bertahan selama enam bulan berturut-turut. Kondisi ini didukung oleh inflasi yang terkendali serta kepercayaan konsumen yang tetap terjaga.
Ketahanan ekonomi tersebut juga diperkuat oleh performa sektor eksternal yang solid. Neraca perdagangan Indonesia mencatatkan surplus selama 68 bulan berturut-turut dengan cadangan devisa di atas USD 142 miliar. Di pasar keuangan, pemerintah melanjutkan reformasi pasar modal melalui pilar likuiditas, transparansi, tata kelola, serta pendalaman pasar untuk memperkuat kepercayaan investor.
Pertumbuhan ekonomi nasional pun dinilai telah memberikan dampak nyata pada kesejahteraan masyarakat. Angka kemiskinan terus menurun ke level satu digit, tingkat pengangguran berada di angka 4,9 persen, dan Indeks Pembangunan Manusia meningkat menjadi 75,9. Pemerintah kini menargetkan pertumbuhan ekonomi 8 persen sebagai fondasi menuju Indonesia Emas 2045 melalui penguatan industri manufaktur bernilai tambah tinggi.
Untuk menjaga daya beli masyarakat dalam jangka pendek, pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif berupa stimulus ekonomi yang disalurkan secara terarah.
“Kami telah menyiapkan Rp12,83 triliun untuk mendukung daya beli dan mobilitas,” kata Menko Airlangga.
Stimulus tersebut dialokasikan antara lain untuk diskon transportasi selama periode Idulfitri serta penguatan konsumsi rumah tangga. Menko Airlangga menegaskan bahwa konsistensi reformasi dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan menjadi kunci utama dalam menghadapi tantangan ekonomi global serta mendorong pertumbuhan yang semakin inklusif.
Editor: Redaktur TVRINews





