KHAN YOUNIS, KOMPAS.TV — Warga Palestina kembali memadati kedua sisi perlintasan Rafah pada Selasa (3/2/2026).
Mereka berharap bisa melintas setelah perbatasan Gaza–Mesir dibuka kembali sehari sebelumnya.
Namun, pembukaan yang dinilai simbolis itu berjalan lambat dan penuh ketidakpastian, menimbulkan frustrasi di tengah kebutuhan kemanusiaan yang mendesak.
Di sisi Mesir, warga Palestina yang sebelumnya mengungsi dan menjalani perawatan medis menunggu izin kembali ke Gaza.
Baca Juga: MUI Tunggu Penjelasan Prabowo Soal Keanggotaan Indonesia di Dewan Perdamaian Gaza
Sementara di sisi Gaza, pasien yang membutuhkan pengobatan di luar wilayah—yang kini minim fasilitas akibat kerusakan parah—dibawa dengan bus dan ambulans oleh Palestinian Red Crescent menuju Rafah, menanti keputusan akhir.
Hari pertama pembukaan diwarnai penundaan panjang. Butuh lebih dari 10 jam agar hanya sekitar belasan orang bisa menyeberang di masing-masing arah—jauh di bawah target 50 orang per arah yang sebelumnya disampaikan pejabat.
Angka ini nyaris tak mengurangi antrean panjang: puluhan ribu warga Gaza membutuhkan evakuasi medis atau kepulangan.
Upaya evakuasi Selasa pagi berpusat di sebuah rumah sakit Palang Merah di Khan Younis, saat tim World Health Organization tiba untuk mengawal pasien.
Konvoi ambulans bergerak menuju Rafah, namun jumlah yang diizinkan melintas tetap kecil.
Juru bicara Palang Merah Palestina mengatakan, hanya 16 pasien—didampingi 40 kerabat—yang dibawa ke sisi Gaza Rafah hari itu, jauh dari kuota yang dijanjikan.
Keterbatasan ini memicu kritik dari otoritas kesehatan. Direktur RS Shifa di Gaza City menyebut laju pembukaan Rafah sebagai “manajemen krisis, bukan solusi”, dan mendesak agar Israel mengizinkan masuknya obat-obatan serta peralatan medis.
Penulis : Rizky L Pratama Editor : Deni-Muliya
Sumber : Associated Press
- perlintasan Rafah
- perbatasan Gaza Mesir
- evakuasi medis Gaza
- gencatan senjata Gaza
- krisis kemanusiaan Gaza
- Palestina





