Satu kehormatan bagi saya, menjadi orang yang mempunyai ketertarikan melihat anak-anak SMALB atau SMPLB dari ketunaan B(ahasa) manakala mereka terlibat dalam suatu dialog. Terkadang tampak di mata saya, mereka memainkan gerakan demi gerakan tangan, lengkap dengan mimik wajah yang sesuai dengan ekspresi pikiran atau perasaannya. Ada yang menyertai dengan suara seperti “aaa … aaa …”. Ada pula yang diam tanpa sertaan suara, tapi gerak-gerik tangannya begitu fasih “berbicara”.
Sementara itu, dari unggahan FaceBook yang menampilkan Yulia Dewi, wanita muda Tuli asal Bali yang telah bersuami dan memiliki anak, selain berupa gerakan tangan, juga ada suara yang hampir sebaguan besar membentuk kata-kata yang relatif jelas. Akan tetapi, ada pula yang sebagian kecil lainnya hanya menyerupai bunyi yang sulit teridentifikasi sebagai kata yang berada pada jangkauan pengenalan kita. Bagi saya, suara yang muncul menyertai gerak-gerik visualisasi bahasa isyarat wanita yang Tuli sejak lahir itu, mendekati sajian teks yang mentranskripsi secara verbatim ucapannya.
Dan, satu lagi, ada seorang siswa yang sering bareng naik BRT Trans Semarang Koridor V atau kebetulan bareng di halte. Kalau melihat seragamnya, dia anak SMPLB dari ketunaan B. Berkali-kali, pandangan saya bertemu dengan kejadian, saat dia menerima panggilan video di handphone, tangannya begitu “fasih” mengucapkan bahasa isyarat. Tidak terdengar ada suara seperti Yulia Dewi. Dia lebih banyak terangkul dalam kebisuan, namun dengan ekspresi wajah yang begitu hidup. Menyiratkan sorot mata penuh kecerdasan.
Anak itu lebih sering menggerak-gerakkan tangannya menghadap layar handphone dalam rengkuh kediaman. Tanpa suara. Namun, ekspresi wajahnya sangat menunjukkan bahwa dirinya sedang berbicara dengan seseorang. Mungkin dengan ayah atau ibunya. Bisa juga dengan teman sebayanya, kalau melihat dia tampak begitu asyik, hangat, dan antusias menjalin konversasi dengan bahasa isyarat.
Pengguna Bahasa Isyarat
Mereka yang memiliki keterbatasan dalam pendengaran, ada yang tergolong pada tahapan tunarungu atau tuli total (totally deaf). Mereka benar-benar mengalami kehilangan pendengaran. Sama sekali tidak mampu mendengar, bahkan untuk suara yang sangat keras sekalipun. Istilah medisnya Anakusis.
Sebagai catatan tambahan, untuk selanjutnya saya menggunakan istilah Tuli untuk menyulihi sebutan tunarungu. Saya baru mengerti, jika banyak anggota komunitas penyandang disabilitas pendengaran di Tanah Air, lebih menyukai penyebutan Tuli (dengan “T” kapital). Mereka menganggapnya lebih menghargai dan sopan.
Sementara itu, sebutan “tunarungu” yang sesungguhnya merupakan bentuk eufemisme (misalnya tentu lebih santun daripada memakai kata “budek”) dalam pandangan umum, bagi mereka justru merendahkan. Karena secara maknawi mengimplikasikan pada “kerusakan” indra pendengaran.
Penyebutan Tuli lebih mereka sukai, karena bukan sekadar menunjukkan kondisi fisik, melainkan juga sekaligus sebagai penanda identitas kelompok masyarakat yang mempunyai bahasa sendiri. Bahasa isyarat. Oleh karena itu untuk uraian selanjutnya, saya akan berupaya untuk istikamah menggunakan sebutan Tuli.
Karena mereka yang Tuli total tidak mampu mendengarkan suara, akibatnya mereka tidak dapat mengidentifikasi dan menirukan kembali (belajar) suara dari kata-kata yang membentuk bahasa sebagai kode verbal. Untuk berkomunikasi mereka sangat membutuhkan bahasa isyarat atau mengandalkan kemampuan membaca gerak bibir. Mereka yang tuli total otomatis tunawicara.
Sementara itu, ada pula mereka yang termasuk tunawicara murni. Kemampuan pendengaran mereka normal. Ketidakmampuan berbicara itu berbiang penyebab dari faktor gangguan pada otot mulut. Bisa pula lantaran perkembangan otak yang kurang optimal. Atau, masalah artikulasi yang terganggu.
Problem artikulasi sebagai penyebab mereka menjadi tunawicara murni lantaran adanya gangguan yang menimpa pada organ pengucapan, yaitu lidah, bibir, langit-langit. Atau, bisa pula akibat dari sistem motorik otak mereka tidak mampu memproduksi bunyi bahasa dengan jelas.
Para tunawicara murni ini, sebagaimana para tunarungu total, juga begitu memerlukan bahasa isyarat untuk berkomunikasi. Walaupun fungsi indra pendengarannya normal, bahasa isyarat menolong mereka untuk mengekspresikan diri dengan cara yang relatif bisa bersambut dengan respons pemahaman. Dengan demikian bahasa isyarat dapat menjadi semacam jembatan sehingga meminimalisasi hambatan komunikasi dan memudahkan interaksi sosial.
Sementara itu, bagi para penyandang Tuli ringan (sulit mendengar di tempat yang bising atau ramai) dan kategori sedang (sulit mendengarkan percakapan tanpa bantuan alat bantu dengar), bisa memanfaatkan alat yang menurut istilah bahasa Inggrisnya, antara lain dalam Cambridge Dictionary, mendapat naungan istilah hearing aid. Alat bantu dengar dalam bahasa Indonesianya. Kendati begitu, pada umumnya mereka juga masih menggunakan bahasa isyarat.
Alat bantu dengar itu dapat memperkuat suara. Dengan demikian, mereka memiliki kemampuan mendengar dan mengenal kata-kata dalam bahasa verbal yang lebih baik. Hearing aid dapat mempertegas sisa kemampuan mendengarkan dari para tunarungu kategori ringan dan sedang itu.
Hal ini dapat memfasilitasi proses terapi wicara. Pemakaian alat bantu dengar pada usia dini sangat memengaruhi keefektifan proses pemerolehan bahasa pertama. Tentu saja, dengan terapi wicara akan lebih menemukan hasil maksimal.
Terdapat beberapa jenis hearing aid. Ada yang dipasang di belakang telinga (behind the ear) atau singkatannya BTE yang terhubung dengan earmold. Komponen cetakan kustom terbuat dari silikon atau akrilik lunak/keras yang terpasang di dalam liang telinga. Fungsinya untuk mengirim suara dari alat ke dalam telinga dengan optimal.
Ada lagi jenis hearing aid yang pembuatannya secara khusus sesuai dengan bentuk telinga. Penempatannya di sebagian atau seluruh cuping telinga luar (in the ear [ITE]). Ada pula yang bentuknya lebih kecil dan tersembunyi sepenuhnya di dalam liang telinga (in the canal [ITC] & completely in the canal [CIC]). Selain itu ada receiver in canal (RIC)/receiver in the ear (RITE), mirip BTE namun penempatan speaker langsung di liang telinga dengan kabel kecil.
Walaupun sudah mengenakan hearing aid, para penyandang Tuli ringan dan sedang, masih tetap sering menggunakan bahasa isyarat. Alat bantu dengar memang membantu mendengarkan suara dan memperjelas konversasi. Tetapi, alat tersebut tidak mengembalikan pendengaran menjadi normal. Bahasa isyarat tetap merupakan kebutuhan bagi mereka sebagai metode komunikasi yang dapat meminimalisasi kelelahan mental dalam memahami suatu percakapan dalam komunikasi sehari-hari.
Ada beberapa pengecualian yang bersifat kasuistis. Pada sementara orang Tuli, kategori ringan dan sedang, seperti Yulia Dewi, dalam salah satu unggahannya di FaceBook mengaku, justru merasa tidak nyaman dengan penggunaan hearing aid alias alat bantu dengar. Dia pernah menggunakannya, tetapi karena merasa terganggu dengan kebisingan suara yang dia dapat dengar, akhirnya lebih memutuskan dan memilih untuk tidak mengenakannya.
Dengan demikian boleh terbilang, pengguna utama bahasa isyarat adalah mereka penyandang Tuli dan tunawicara murni. Di Tanah Air, mereka menggunakan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) atau Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI).
Bisindo tumbuh secara alami dari budaya komunitas Tuli. Sebab, bahasa isyarat ini dibentuk langsung oleh komunitas Tuli yang didasarkan pada kebutuhan komunikasi praktis keseharian. Di samping itu juga didasarkan pada pengalaman visual dan interaksi sosial mereka. Berkembang natural karena digunakan antarteman Tuli di rumah, sekolah (luar biasa), dan lingkungan sosial. Dengan demikian, isyarat yang tercipta pun lebih sederhana, cepat, dan mudah dipahami oleh mereka.
Berbasis visual atau mengandalkan indra penglihatan sebagai wujud budaya komunitas Tuli. Pemakaian Bisindo mencerminkan budaya ini, yaitu dengan pemanfaatan ekspresi wajah, gerak tubuh, dan posisi tangan yang ikonik (visual). Dalam budaya Tuli, adalah wajar dan sopan berkomunikasi sambil mengunyah makanan.
Bukan sempadan alat komunikasi, Bisindo juga merepresentasikan identitas dan solidaritas. Bisindo merupakan identitas budaya yang memperkokoh rasa persaudaraan antarteman Tuli. Berkat tumbuh dari komunitas Tuli di berbagai daerah, tidak dapat ternafikan adanya pengaruh ragam dialek daerah masing- masing sebagaimana bahasa lisan kode verbal.
Adapun Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) merupakan sistem isyarat buatan dari Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Pengembangannya bermula pada tahun 1990-an. SIBI mengikuti tata bahasa Indonesia formal. Penggunaannya di sekolah luar biasa untuk pendidikan literasi. Adaptasi dari American Sign Language (ASL).
Tujuan utama pengembangan SIBI guna menopang proses pembelajaran di sekolah luar biasa, untuk membantu para siswa-siswi Tuli memahami bahasa Indonesia lisan dan tertulis. Mengikuti struktur gramatika bahasa Indonesia dengan ketat. Lebih banyak menggunakan ejaan jari (finger spelling). Teknik mengeja huruf-huruf abjad untuk mengisyaratkan nama orang, tempat, atau kata yang tidak memiliki isyarat khusus. Pemakaian SIBI di lingkup pendidikan dan situasi formal.
Bisindo lebih praktis lantaran beranjak dari basis komunikasi visual yang efektif. Kerap menggunakan dua tangan dengan melibatkan ekspresi wajah yang sedemikian kuat mendukung isi maksud dari pelaku komunikasi bahasa isyarat. Sementara itu, SIBI begitu mengkiblati struktur gramatika bahasa Indonesia lisan dan tertulis yang baku, termasuk penggunaan afiks (imbuhan) yang lengkap. Pada umumnya menggunakan satu tangan.
Bahasa isyarat juga menjadi bagian dari upaya pembelajaran bagi keluarga teman Tuli, agar terjalin proses komunikasi yang menyamankan di antara mereka. Juga, untuk kepentingan pembawa berita bahasa isyarat yang menyertai pembacaan siaran berita di televisi. Atau, bagi juru bahasa isyarat, misalnya dalam seminar yang pesertanya sebagian dari komunitas Tuli. Dan, tentu saja kalangan guru sekolah luar biasa di kelas para siswa-siswi Tuli, sehingga proses pembelajaran berjalan maksimal. Serta, masyarakat umum yang ingin menjalin komunikasi dengan komunitas Tuli.
Gagasan Puitis
Bahasa isyarat tentu saja bukan sebatas kumpulan gestur sederhana. Lebih daripada sekadar itu, ia juga bahasa yang sesungguhnya dengan kepemilikan sistem dan struktur gramatika yang juga kompleks. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika bahasa isyarat mampu membawakan pula gagasan-gagasan abstrak dan filosofis. Bahkan hingga membentuk suatu narasi puitis dengan kandungan makna mendalam lewat modalitas visual-spasial yang unik.
Sekali lagi perlu memperoleh penegasan, bahwa bahasa isyarat memiliki sentuhan pemungkinan untuk bisa mengungkapkan gagasan puitis, kompleks, abstrak, dan filosofis. Bahasa isyarat bukan sekadar kumpulan isyarat tangan atau pantomim belaka, melainkan merupakan bahasa alami yang utuh dengan raut tata bahasa, dengan sistem morfologi dan sintaksis serta diskursus yang tidak sederhana.
Bahasa isyarat ternyata bisa juga untuk mengekspresikan gagasan puitis. Salah satu kanal untuk memenuhinya adalah puisi isyarat (sign language poetry). Genre ini merupakan bentuk apresiasi budaya komunitas Tuli yang berpihak pada penonjolan keindahan, keunikan, dan kekuatan visual yang teraksentuasikan pada potensi dalam kandungan bahasa isyarat.
Puisi isyarat bukan sebatas puisi verbal yang mendapatkan penerjemahan kata demi kata, melainkan merupakan penciptaan genuine atau langsung dalam bahasa isyarat dalam upaya guna memaksimalkan potensi visualnya. Ia mewujud sebagai genre sastra yang unik. Ia dipertunjukkan lewat gerakan tangan dan tubuh sang penyair. Ia difondasikan oleh estetika visual. Sekali lagi, ia mengandalkan keindahan visual, gerakan tangan, dan gestur tubuh dalam menghadirkan ritme dan makna.
Dalam puisi isyarat, ada pula yang menyebutnya deaf poetry, rima visual (visual rhyme) terucap dengan penggunaan elemen visual. Misalnya memanfaatkan bentuk tangan (handshape) yang sama secara repetitif (berulang) dalam satu kuplet (bait). Juga tercipta ketika sang penyair memproduksi berbagai isyarat di area tubuh yang sama, seperti area dahi atau dada.
Di samping itu, pola gerakan.yang sama dapat memunculkan harmoni visual, penggunaan bentuk tangan yang sama, atau sekurang-kurangnya mirip, dalam intensitas repetitif dapat mengambil alih fungsi aliterasi. Pengulangan bunyi konsonan yang sama pada awal kata secara berurutan dalam baris, atau frasa, atau kalimat dalam puisi verbal
Ritme dalam puisi isyarat terciptakan kehadirannya lewat kecepatan, ketegangan, dan aliran gerakan tangan berikut tubuh. Sang penyair dapat mempercepat gerakan untuk menunjukkan ekspresi ketegangan. Atau, memperlambatnya secara dramatis guna memberikan suasana kesenyapan dengan tikaman duka yang menusuk begitu dalam menyakitkan. Atau lagi, dengan pengulangan bentuk tangan lewat jalur gerakan serupa dan lokasi isyarat yang konsisten guna menghadirkan estetika ritmis.
Puisi isyarat dalam Sastra Tuli mempunyai ketergantungan yang kuat pada pemakaian klasifikasi dan visualisasi (classifiers). Suatu ketergantungan terhadap isyarat yang merepresentasikan ukuran, bentuk, dan keberadaan objek dalam ruang tiga dimensi. Ruang kreativitas ini memungkinkan penyair Tuli “melukis” pemandangan di udara dengan detail-detail yang melampaui pagar-pagar pemaknaan dari kiprah kontribusi kosakata standar dalam bahasa verbal. Isyarat tangan bisa mendeskripsikan bentuk, ukuran, pergerakan, atau tekstur suatu objek secara visual, menghadiahkan rincian puitis yang berlimpah ruah.
Dalam dunia sastra Tuli, ekspresi wajah (non-manual makers), ekspresi tersebut bukan hanya sekadar penopang performa seni. Dalam puisi isyarat, ekspresi wajah bisa berfungsi sebagai “adjektiva (kata sifat)” atau “adverbia (kata keterangan)” yang mengokohkan ketergenggaman khusyuk gelegak emosional pada tiap isyarat yang tersaji. Ia menjadi begitu krusial untuk mempersembahkan emosi, nada, dan intensitas puisi isyarat.
Penyair Tuli juga memfaedahkan penggunaan ruang di sekitar tubuhnya sebagai “kanvas”. Mereka bisa menempatkan karakter atau objek di titik tertentu dalam ruang imajiner itu. Dan, terus merujuk ke titik itu pada sepanjang durasi “pembacaan” (penunjukan isyarat-isyarat yang berisikan gagasan puitis) untuk mempertahankan koherensi narasi.
Gerakan tangan di ruang visual (depan tubuh) mendapat pengelolaan mobilitas sedemikian rupa guna menghadirkan gambar-gambar puitis tiga dimensi. Metafora spasial dapat terbentuk di sekitar tubuh penyair. Contoh, menempatkan posisi suatu isyarat di lokasi tertentu untuk menyimbolkan konsep masa lalu, status sosial, atau kepekaan emosional secara bersamaan.
Mengambil jarak perlainan tegas dengan bahasa verbal lisan yang berwatak linier (satu kata demi satu kata), bahasa isyarat lebih simultan. Penyair Tuli dapat memanfaatkan ekspresi wajah guna menunjukkan “kesedihan yang menghunjam”. Sementara itu, tangannya memperlihatkan isyarat mengenai “hujan yang luruh ke Bumi”. Semua ini mengkreasikan lapisan makna yang kaya dalam satu waktu.
Dalam kapasitasnya sebagai seni pertunjukan, puisi isyarat acapkali mendapat bentuk pengemasan lewat media Visual Poetry atau Teatrikalisasi Puisi. Di sini, bahasa isyarat tidak hanya menuai fungsi sebagai sarana komunikasi antarteman Tuli, namun pun menempati posisi sebagai elemen estetika yang utama dalam seni pertunjukan.
Contoh pertunjukan puisi isyarat di Indonesia, yaitu Pentas Musikal Senandung Senyap yang berlangsung pada Sabtu, 26 Oktober 2024 di Ciputra Artpreneur Jakarta dalam Festival Musikal Indonesia 2024. Ini drama musikal inklusif di Tanah Air yang memainkan gabungan aktor Tuli dan Dengar.
Pertunjukan ini hadir dengan keunikannya karena sebagian para pemerannya dari komunitas Tuli. Dan, narasinya berceloteh soal pengalaman riil mereka di sekolah luar biasa. Fokus pada penggunaan bahasa isyarat dan ekspresi tubuh sebagaimana tertuang dalam sajian puisi isyarat. Gerak tubuh puitis dan bahasa isyarat berkolaborasi menghadirkan keselarasan dengan ritme visual. Karya seni pertunjukan ini mengeksplorasi keresahan yang bercampur aduk dengan kebanggaan identitas Tuli lewat narasi puitis.
Selanjutnya, ada Kelompok Fantasi Tuli yang secara aktif memberdayakan bahasa isyarat untuk kepentingan performa seni panggung. Salah satu karya mereka, yaitu Teater Musikal Jemari yang dipentaskan di Komunitas Salihara, Jakarta pada 3 - 7 Desember 2025 (tayang pertama dan pementasan utama) dalam rangka merayakan Hari Disabilitas Internasional.
Mengisahkan tentang Mentari, gadis penari Tuli yang mampu bangkit dari keterpurukan sepeninggal ayahnya. Dia berhasil berkat dukungan dan bantuan pemuda bernana Awan. Dalam karya ini, Kelompok Fantasi Tuli memadukan puisi isyarat dengan koreografi guna menghadirkan pengalaman sensorik bagi penonton. Mereka menghidangkan bahasa isyarat dengan gagasan puitis laksana kata-kata yang siapa saja dapat menikmatinya. Baik orang Tuli itu sendiri serta penyandang ketunaan lain maupun orang Dengar.
Ini menjadi kolaborasi pertama teater musikal Tuli dengan Cerita Beda Hak Sama (CBHS). Komunitas seni dan sosial yang menaruh perhatian terhadap pertunjukan teater musikal dan tari. Elemen-elemen seni yang ditampilkan, yaitu bahasa isyarat yang memuat gagasan puitis, seni peran, dan musik.
Dengan demikian pertunjukan itu inklusif. Siapa pun memiliki hak yang sama untuk menikmatinya. Yang Tuli dapat mengenyam keindahan visualnya. Yang memiliki keterbatasan indra penglihatannya dapat mengenyam keindahan audionya. Dan, yang tunadaksa pun dapat menonton dan mengagumi performa estetika seninya. Yang tunagtahita pun bisa menikmati sependek jangkauan intelektual mereka. Serta, yang normal bisa secara utuh dan nyaman mencecap seluruh elemen estetika yang terhidang.
Merawat kesuksesan tampilan sebelumnya, kemudian Kelompok Fantasi Tuli mengembangkannya dengan mementaskan Jemari Kecil pada Sabtu, 31 Januari 2026 di Galeri Indonesia Kaya, Grand Indonesia Jakarta. Kembali hadir dengan format lebih intim dan hangat. Ini merupakan pembukaan dari rangkaian musikal Indonesia hingga bulan Maret 2026 mendatang.
Sementara itu, sejumlah sosok Tuli Indonesia yang berkarya di bidang sastra dan seni mulai menggunakan teknik visual vernacular. Bentuk puisi pertunjukan fisik yang sangat visual. Mengoptimalkan penggunaan gestur tubuh yang rinci dan ekspresi wajah yang relevan untuk mengisahkan cerita.
Sosok Abdurrahman Phieter Angdika (lahir di Jakarta, 19 Juli 1990) yang Tuli sejak lahir sering mempraktikkan elemen ini dalam presentasi literasinya. Peraih gelar Master of Art pada Sign Language Education dari Gallaudet University, Amerika Serikat pada medio Mei 2023 tersebut, walaupun fokus utamanya pada pendidikan bahasa isyarat, tidak jarang membawakan puisi isyarat yang mengekspresikan identitas Tuli.
Ada lagi sosok Rachel Ramadhini (lahir di Jambi, 22 November 2002). Aktivis dan penggerak komunitas Tuli di Jambi ini kerap menyuarakan keresahan teman Tuli lewat narasi-narasi literasi. Dia memfokuskan diri pada media ajar dan literasi yang ramah dan nyaman bagi teman Tuli. Dia sering memakai pendekatan puitis dalam menunjukkan pengalaman hidupnya sebagai penyandang disabilitas.
Tidak sedikit karya sastra Tuli yang lahir dari kolaborasi sejumlah komunitas, seperti Puisi “Aku Juga Anak-Anak Adam dan Hawa”. Sebuah karya bersama yang seperti menjadi sajian wajib dalam berbagai acara komunitas Tuli sebagai bentuk penegasan akan kesetaraan hak.
Komunitas Fantasi Tuli juga menggagas Program Seni Inklusif BERISY(ART). Dari paduan kata “berisyarat” dan “art”. Tujuannya merayakan keberagaman cara berkomunikasi dan berekspresi seni, memadukan bahasa isyarat dengan seni pertunjukan. Kegiatannya, olah tubuh untuk berakting, menikmati lagu dan puisi dalam bahasa isyarat, serta menggapai cara alternatif untuk menikmati seni.
Penonjolan perhatian program ini pada interpretasi lagu dan puisi ke bahasa isyarat melalui sajian pertunjukan seni yang utuh. Dengan demikian, mengubahnya menjadi “musik atau aliran kata-kata puitis yang terlihat atau tampak”.
Kegiatan dalam BERISY(ART), antara lain menggubah lagu atau puisi lewat interpretasi artistik. Proses subjektif memaknai peristiwa kehidupan dan kemudian menyajikannya ke dalam suatu cipta seni. Bahasa isyarat yang mengemasnya tidak hanya menyampaikan makna lirik. Tetapi juga emosi, rima, dan irama dengan uluran bantuan ekspresi tubuh dan visual.
Komunitas Fantasi Tuli menyelenggarakan kegiatan ini guna menganalisasi keberagaman cara berkomunikasi dan berekspresi, serta memberi ruang untuk semua budaya, Tuli dan Dengar. Menjadi wadah penting dalam menciptakan ekosistem seni yang inklusif, mempertemukan kedua budaya itu di dalam satu panggung pertunjukan.
Aktivitas seni pertunjukan dengan konsep musikalitas visual mengusung bukti bahwa bahasa isyarat mampu menjadi media perantara untuk mewadahi luapan estetika dan kecamuk emosional manusia. Dalam tautan konteks ini, menyejajarkan isyarat dengan keindahan melodi.
Program BERISY(ART) menyediakan sebuah ruang seni inklusif yang menjadi ajang penampilan interpretasi lagu dan puisi ke dalam bahasa isyarat sebagai entitas suatu pertunjukan seni yang utuh dan bukan hanya sekadar hasil dari langkah penerjemahan semata. Suatu pertunjukan yang mempunyai sejumlah karakteristik unik.
Seperti rhyming shapes, pengulangan bentuk tangan demi efek rima visual. Juga spatial mapping, memanfaatkan ruang di sekitar tubuh penyair guna menempatkan “objek” imajiner dalam puisi. Serta, ekspresi non-manual, di antaranya gerakan alis, mata, dan mulut untuk memunculkan “nada” dan emosi pada kuplet-kuplet isyarat.
Bahasa isyarat juga menggenggam fungsi sebagai identitas budaya dan intelektual. Bahasa isyarat memang tidak hanya alat bantu komunikasi. Akan tetapi, ia pun merupakan sarana pencerdasan dan ekspresi jati diri yang memiliki kesetaraan dengan bahasa daerah atau bahasa nasional di Indonesia.
Sebagaimana bahasa verbal, demikian pula dengan bahasa isyarat, secara alami akan terus mengalami perkembangan untuk menampung pelbagai istilah teknis, akademis, dan seni yang berseiring jalan dengan peningkatan inklusivitas sosial. Dalam perjalanan di bidang seni sastra Tuli, terdapat temuan antologi puisi isyarat yang memperlihatkan pembuktian adanya upaya perekaman dan penganalisisan dengan kajian atau telaah secara akademis.
Gagasan Kompleks
Bahasa isyarat bisa juga mengekspresikan gagasan kompleks dan abstrak. Kemampuannya melakukan pembahasan konsep-konsep intelektual yang rumit mendapat sokongan dukungan fitur linguistik spesial. Seperti sistem klasifikator (classifiers), bentuk tangan khusus yang merepresentasikan kategori objek atau konsep. Pemakaiannya menghadirkan pemungkinan penjelasan secara terinci mengenai bagaimana sesuatu bergerak, berinteraksi, atau bertransformasi dalam ruang. Sering menunjukkan tingkat kepresisian yang lebih dari kata-kata sebagai kode verbal.
Bahasa isyarat yang memiliki kontekstualitas tinggi, memudahkan pengungkapan konsep visual-spasial yang sulit bagi kata-kata bahasa verbal menjelaskannya, seperti struktur arsitektur yang rumit atau dinamika fisik antarobjek. Menurut Quora, bahasa isyarat seperti American Sign Language (ASL), salah satu yang sangat kontekstual.
Pergerakan alis, arah pandangan mata, dan gerakan tubuh berfungsi sebagai gramatika (tata bahasa), seperti tanda baca atau nada suara. Ini namanya non-manual signals yang memberi wilayah pemungkinan adanya penyampaian ironi, keraguan, atau intensitas intelektual krusial dalam suatu rangkaian peristiwa diskusi yang kompleks.
Bahasa isyarat juga dapat mengekspresikan kompleksitas dan konsep abstrak. Bahasa isyarat dapat menghadirkan konsep filosofis, politik, sains, dan emosi yang mendalam sama halnya dengan bahasa kode verbal. Sementara itu, ekspresi wajah (non-manual markers) bukan sekadar emosi, melainkan juga bagian dari gramatika. Alis yang naik, gerakan bibir, atau posisi kepala dapat mengubah makna isyarat dari statement menjadi question, atau menunjukkan intensitas emosi.
Bahasa isyarat secara konseptual bukan satu isyarat mewakili satu kata. Satu isyarat dapat mewakili satu gagasan utuh. Dan, memungkinkan penyampaian gagasan demi gagasan rumit secara efisien. Bahasa isyarat mempunyai komponen yang menyebabkan proses komunikasi bisa sangat detail. Variasi bentuk tangan yang tidak terbatas. Lokasi tempat isyarat hadir, di dada atau dahi, menentukan makna. Selain itu, juga orientasi telapak tangan (palm orientation). Tidak ketinggalan, kecepatan dan arah gerakan pun demikian.
Bahasa isyarat begitu mengandalkan visualisasi ikonik dan metafora spasial untuk memodifikasi konsep abstrak menjadi sesuatu yang konkret atau terlihat. Misalnya konsep abstrak “waktu” (time) mendapatkan visualisasi dengan memakai garis waktu spasial di sekitar tubuh.
Waktu lampau (past) tervisualisasikan dengan tangan dominan bergerak ke arah bahu. Ini mendeskripsikan sesuatu yang telah berlalu dan tidak terlihat lagi. Sementara itu, waktu kini (present), kedua telapak tangan menghadap ke atas, mendapat penekanan sedikit di depan dada. Ini melambangkan “saat ini” atau “di sini”. Lalu, waktu mendatang (future), tangan bergerak lurus ke depan menjauhi tubuh. Ini memvisualisasikan sesuatu yang akan datang. Adapun untuk waktu spesifik, misalnya pukul 2 siang, jari telunjuk menunjuk ke pergelangan tangan (ikonik untuk jam tangan) kemudian dengan isyarat angka 2.
Selanjutnya, konsep abstrak “keadilan” (justice/fairness) yang mendapatkan wujud visualisasi melalui keseimbangan dan lurus/sejajar. Contoh, kedua tangan berbentuk datar (palm down) dengan posisi sejajar. Lalu ada gerakan sedikit naik-turun secara bersamaan atau lurus ke depan. Ini mengimitasi visualisasi timbangan yang seimbang, melambangkan keadilan atau kesetaraan (fairness). Isyarat ini bergabung dengan ekspresi wajah yang serius atau netral.
Kemudian konsep abstrak “belajar/paham” (learning/understanding) kerap mendapat visualisasi dengan metafora “memasukkan ke dalam otak”. Contoh untuk “paham/mengerti”, dengan menyentuhkan ke dahi ujung jari tangan (lazimnya jari tengah atau telunjuk). Lalu menjauh sedikit atau ujung jari melentik (melengkung sedikit). Visualisasi ini hendak menunjukkan seolah informasi keluar dari otak atau cahaya lampu menyala di kepala.
Contoh lainnya lagi, konsep abstrak “belajar” menampakkan visualisasi tangan bergerak seperti mengambil dari buku imajiner dan mendekatkannya ke arah dahi. Visualisasi ini seakan hendak menunjukkan bahwa pembicara bahasa isyarat itu memasukkan informasi ke dalam kepala atau pikirannya.
Seterusnya ada konsep abstrak “berpikir” (thinking) yang lokasi visualisasinya di kepala. Contoh, jari telunjuk menunjuk pelipis atau dahi. Gerakan memutar jari telunjuk di pelipis untuk memvisualisasikan “berpikir keras”. Adapun mengetuk pelipis dapat berarti “ide” atau “tahu”.
Canggih dan Unik
Sebagai sarana komunikasi, bahasa isyarat itu canggih dan unik karena kemampuannya menyampaikan gagasan puitis dan kompleks. Kemampuan memvisualisasikan gagasan di ruang tiga dimensi menyebabkannya menjadi medium seni yang begitu kuat dan unik. Bahasa isyarat bukan sekadar gestur tangan biasa, melainkan mempunyai struktur gramatika tersendiri untuk komunitas Tuli.
Kecanggihan dan kekompleksan bahasa isyarat, terkait dengan eksistensinya sebagai komunikasi multidimensional yang memanfaatkan ruang (space) untuk mengonstruksi konteks, menunjukkan waktu (lampau, kini, dan akan datang), serta memetakan posisi subjek/objek.
Di samping itu, kecanggihan dan kekompleksan itu hadir berkat adanya libatan non-manual markers, yaitu ekspresi wajah, posisi bahu, dan gerak tubuh guna memvisualisasikan emosi, intonasi, dan penekanan makna, di luar pola-pola gerakan tangan.
Keunikan lainnya, bahasa isyarat berbasis visual-spasial dan gestural. Dengan demikian, memungkinkan penyampaian informasi secara simultan. Misalnya seorang pembicara Tuli ingin menginformasikan tentang peristiwa “orang bernama Y memarahi X”. Dia mengangkat kedua tangannya setinggi dada. Tangan kiri menandai posisi “orang X” di sebelah kiri ruang komunikasi. Sementara itu, tangan kanannya menandai posisi “orang Y” di sebelah kanan ruang komunikasi.
Nah, selanjutnya pembicara bahasa isyarat itu dapat melakukan informasi secara simultanitas. Caranya, dia menggerakkan tangan kanan (orang Y) mendekati tangan kiri (orang X) sambil memvisualisasi ekspresi wajah yang penuh luapan kemarahan. Dalam satu detik gerakan dia dapat langsung menginformasikan kejadian “Y menghampir X dengan sangat marah”.
Dalam komunitas Tuli, ada isyarat ikonik yang menyerupai bentuk, gerakan, atau karakteristik objek. Misalnya untuk memvisualisasikan “rumah”, kedua telapak tangan merapat di atas kepala membentuk atap segitiga dengan gerakan ke samping dan turun di kedua sisi membentuk dinding.
Untuk visualisasi “minum”, tangan kanan membentuk huruf C terbalik, seperti memegang gelas, mendekatkan ke arah mulut. Adapun visualisasi “makan”, merapatkan ujung jari tangan kanan, kemudian melakukan gerakan ke dekat mulut berkali-kali, mirip dengan gerakan menyuapkan makanan.
Contoh lainnya, isyarat ikonik juga untuk memvisualisasikan “buku”. Kedua telapak tangan terbuka dan dirapatkan (seperti buku), kemudian dibuka dan ditutup. Visualisasi “pesawat”, ibu jari dan telunjuk serta kelingking diangkat dengan posisi seperti pesawat dengan kedua sayapnya, selanjutnya digerakkan seperti melayang.
Selain isyarat ikonik, ada pula isyarat simbolis. Makna yang terkandung di dalamnya mengacu pada kesepakatan atau konvensi di dalam komunitas Tuli. Sifatnya abstrak. Misalnya visualisasi ucapan “terima kasih”, dengan cara tangan kanan menyentuh dagu atau bibir, lalu menggerakkannya ke arah depan (menjauh dari dagu atau bibir).
Kemudian untuk memvisualisasikan “teman/sahabat”, dengan cara mengaitkan jari telunjuk kiri dan kanan. Lambang kedekatan atau persaudaraan. Untuk “apa kabar?”, kedua tangan dengan posisi ibu jari ke atas (isyarat “baik”) di depan dada, lalu gerakkan sedikit ke depan dengan sertaan ekspresi wajah bertanya.
Lalu visualisasi “tuli (orang tuli)”, dengan mengarahkan jari telunjuk dari depan telinga, memutar ke dagu (menunjukkan area telinga dan mulut). Kemudian visualisasi isyarat dasar “selamat” dengan menempelkan ujung jari tangan kanan (posisi telapak terbuka atau mengepal) di dada atau dagu, lalu menggerakannya ke depan seolah menghembuskan napas atau memberi salam.
Untuk visualisasi “selamat pagi”, setelah isyarat “selamat” selanjutnya tangan kanan bergerak ke atas (seperti matahari terbit). “Selamat siang”, setelah isyarat “selamat”, tangan kanan tegak lurus ke atas kepala (menunjukkan matahari di atas kepala). “Selamat sore”, setelah isyarat “selamat”, memiringkan tangan kanan ke bawah (tanda matahari mulai terbenam). “Selamat malam”, setelah isyarat “selamat”, kedua tangan menyilang atau tangan kanan turun menutupi tangan kiri (melambangkan kegelapan/tidur).
Kecanggihan bahasa isyarat juga tampak dari kecerdasan adaptasinya dalam membaca kemajuan zaman. Dewasa ini, bahasa isyarat telah tersentuh penelitian intens yang menghasilkan inovasi terbaru, sehingga menjadi jembatan dari kelahiran inovasi baru yang memberi jalan yang sangat lempang bagi terjadinya komunikasi tanpa batas.
Satu di antaranya adalah temuan sarung tangan pintar (smart gloves) dengan kelengkapan sensor gerak dan mesin pembelajaran (machine learning). Dengan demikian, berkat adanya intervensi Artificial Intelligence (AI), bahasa isyarat bisa memperoleh langkah penerjemahan ke teks atau ucapan bahasa kode verbal. Bahkan, pengaksesannya bisa terjamah telepon seluler (ponsel).
Di samping itu, terdapat aplikasi berbasis AI, seperti Hear Me, yang dapat mengubah suara orang Dengar menjadi animasi bahasa isyarat secara real-time. Aplikasi ini memberi kemudahan interaksi dua arah antara orang Tuli dan orang Dengar. Yang juga unik bahasa isyarat, ternyata mempunyai dialek daerah. Isyarat untuk memvisualisasikan kata yang sama dapat berlainan antara komunitas Tuli di Jakarta dan di Yogyakarta atau Bali. Hal itu terjadi karena pengaruh budaya lokal yang berkembang secara alami.
Bahasa isyarat ternyata bukan bahasa yang universal. Tiap negara memiliki sistem masing-masing. American Sign Language (ASL) sungguh berlainan dengan British Sign Language. Demikian pula dengan SIBI ataupun Bisindo. Oleh karena itu, untuk pertemuan global terdapat International Sign (IS) berfungsi sebagai bahasa isyarat di dunia internasional. Tujuannya, agar komunitas Tuli di seantero jagat bisa menjalin komunikasi.
Bahasa isyarat ternyata juga relevan penggunaannya bagi orang Dengar dalam situasi tertentu. Antara lain bisa menjadi media komunikasi alternatif di tengah suasana yang penuh kebisingan suara, seperti saat berlangsung konser. Bisa juga untuk berkomunikasi secara diam-diam, untuk sejoli muda-mudi yang tengah memadu kasih, tapi orang tua kedua pihak tidak merestui hubungan mereka. Keduanya bisa melakukan lewat jendela rumah masing-masing yang berjarak cukup jauh. Atau, dapat digunakan saat sedang makan agar tidak tersedak. Atau lagi, bagi penyelam saat bertemu penyelam lain di dalam laut. ***

