Zhouzhuang dan Arsitektur Vernakular: Ketika Keindahan Itu Efek Samping

kumparan.com
9 jam lalu
Cover Berita

Belakangan ini, tren traveling ke Cina makin populer di kalangan orang Indonesia. Kota-kota besar seperti Shanghai, Chongqing, Shenzhen, Beijing, dan lain-lain sering jadi tujuan utama—metropolitan, modern, dan penuh simbol kemajuan.

Namun dalam perjalanan saya, pelajaran arsitektur yang paling kuat justru bukan datang dari gedung-gedung tinggi, melainkan dari sebuah kota air bernama Zhouzhuang.

Sebagai dosen yang mengampu mata kuliah Arsitektur Vernakular, saya sudah lama penasaran dengan kota-kota air di Cina yang sering saya jadikan studi kasus di kelas. Kesempatan itu akhirnya datang ketika saya menginjakkan kaki di Zhouzhuang, sebuah kota kecil kuno yang dikenal sebagai "Venice of the East" sekaligus kota air nomor satu di Cina.

Di sini saya makin paham: dalam arsitektur vernakular, kecerdasan sering tersembunyi di detail—dan keindahan bukan selalu tujuan. Ia justru muncul sebagai efek samping dari logika desain yang tepat: adaptif terhadap iklim, memanfaatkan material lokal, dan menyatu dengan kebiasaan hidup komunitasnya.

Zhouzhuang: Permata Sejarah yang Sempat “Terlupakan” Waktu

Zhouzhuang bukan sekadar destinasi turis biasa. Terletak di Kunshan, Provinsi Jiangsu—hanya sekitar 75 menit dari Shanghai—kota ini adalah permata sejarah yang sudah dihuni sejak 6.000 tahun lalu.

Namun, Zhouzhuang baru benar-benar "naik daun" sebagai pusat perdagangan strategis sekitar tahun 1086 di era Dinasti Song Utara dan terus mencapai kejayaannya pada masa Dinasti Ming dan Qing.

Karena posisinya yang dikelilingi air, Zhouzhuang seolah punya "benteng alam" yang membuatnya aman dari kekacauan perang. Alhasil, suasana kota tuanya tetap lestari selama lebih dari 900 tahun.

Uniknya, keterlambatan infrastruktur darat hingga tahun 1980-an justru menjadi berkah tersembunyi. Saat daerah lain sibuk merobohkan rumah tua demi pabrik, Zhouzhuang tetap utuh karena aksesnya yang sulit ditembus mobil.

Kini, meski telah bertransformasi menjadi salah satu destinasi populer di Tiongkok dengan berbagai predikat bergengsi—dari CNN, UNESCO, hingga PBB sebagai salah satu dari World’s Top 10 “Most Beautiful Small Towns” dan “Excellent Global Ecological Area”—pemerintah setempat berhasil menjaga "ruh"-nya.

Mereka mempertahankan zona inti yang bebas kendaraan bermotor, memastikan 14 jembatan batu kunonya tetap ikonik, kanal tetap jernih, dan 60% bangunan aslinya tetap berdiri tegak.

Sejarah itu tidak berhenti sebagai cerita di buku. Begitu sore turun, saya merasakannya langsung dalam cara kota ini bernapas: cahaya, air, dan langkah manusia bergerak dalam tempo yang sama.

Pemandangan di Zhouzhuang kian menawan saat senja mulai turun. Pendar lampion dari teras rumah-rumah penduduk mulai menyala satu per satu, menciptakan pantulan cahaya dan bayangan bangunan kuno yang berdansa cantik di atas permukaan air yang tenang.

Suasana yang memukau ini semakin lengkap dengan kehadiran perahu-perahu kayu yang meluncur pelan, silih berganti melewati kanal dan kolong jembatan batu tua yang ikonik.

Di atas perahu, para Boat-lady mendayung sambil melantunkan nyanyian tradisional yang suaranya menggema syahdu di sela-sela dinding kota. Kunjungan itu benar-benar membekas di hati—bukan sekadar karena keindahan visualnya, melainkan juga karena perasaan 'pulang' ke sebuah masa lalu yang tenang, sederhana, dan penuh harmoni.

Pengalaman menelusuri kanal-kanal Zhouzhuang membuat saya sadar bahwa rasa “membumi” itu sering muncul dari hal-hal yang terlihat sederhana: aliran air yang benar-benar dipakai warga, jalur perahu yang menyatu dengan akses rumah, sampai aturan ruang yang membuat orang berjalan pelan dan menikmati sekitar.

Di titik ini, saya jadi teringat bahwa di Indonesia pun kita punya banyak contoh arsitektur vernakular yang lahir dari logika serupa—misalnya desa adat, seperti Penglipuran di Bali, atau kampung-kampung tradisional lain yang menjaga tata ruang dan keteraturan hidup warganya lewat aturan lokal dan kebiasaan sehari-hari.

Saya tidak sedang membandingkan secara langsung, tetapi menyebutnya sebagai jembatan agar pembaca punya gambaran: vernakular itu bukan “gaya”, melainkan cara sebuah komunitas merancang hidupnya agar selaras dengan konteks tempat.

Di titik ini, kekaguman saya bergeser dari sekadar menikmati suasana ke arah logika desain yang bekerja di balik suasana dan jawabannya mengarah pada satu kata kunci: vernakular—arsitektur yang lahir dari konteks, bukan dari tren.

Keajaiban Arsitektur Vernakular: Bukan Sekadar Pajangan

Di balik keindahannya, arsitektur Zhouzhuang menyimpan kecerdasan yang luar biasa. Di sini kita melihat gaya Jiangnan yang ikonik: dinding putih tinggi dan atap ubin abu-abu gelap dengan ujung melengkung.

Dinding ini berfungsi sebagai pelindung terhadap cuaca sekaligus menjaga tradisi budaya. Arsitektur ini juga merupakan hasil adaptasi terhadap mobilitas berbasis air di mana rumah-rumah memiliki tangga batu yang langsung menuju ke kanal.

Lebih jauh lagi, arsitektur vernakular digerakkan oleh filosofi ruang yang tidak selalu tertulis, tetapi terasa dalam cara kota ini “tumbuh”. Zhouzhuang berkembang organik mengikuti aliran sungai dan kanal, seolah mengunci hubungan antara manusia dan air: orientasi rumah, jalur sirkulasi, sampai ritme aktivitas sehari-hari ikut ditentukan oleh lanskapnya.

Pola seperti ini juga mudah kita temukan dalam banyak tradisi ruang di Nusantara—bahwa ruang bukan sekadar bangunan, melainkan juga cara komunitas menata hubungan: dengan lingkungan, dengan sesama, dan dengan nilai-nilai yang mereka jaga.

Arsitektur sebagai Cermin Adaptasi dan Budaya

Perjalanan ini menguatkan keyakinan saya bahwa arsitektur vernakular bekerja seperti kecerdasan yang rendah hati: tidak berisik, tetapi tepat. Ia lahir dari kebutuhan nyata—iklim, material yang tersedia, mobilitas, norma sosial, hingga cara warga memaknai ruang.

Karena itu, Zhouzhuang terasa membumi bukan karena ia “dibuat indah”, melainkan karena ia dibangun untuk bertahan dan digunakan. Kota ini tidak memaksa alam mengikuti desain; justru desainnya tumbuh dari konteks air, sejarah, dan budaya warganya.

Di titik ini, keindahan hadir sebagai efek samping—bukan tujuan utama. Dinding putih dan atap ubin khas kawasan Jiangnan, kanal yang berfungsi sebagai “jalan” dan membentuk orientasi rumah, serta zona inti yang membatasi kendaraan bermotor memperlihatkan satu hal yang sering kita lupakan: ruang yang baik tidak selalu yang paling mencolok.

Yang lebih penting adalah ruang yang paling "nyambung" dengan hidup—peka konteks, hemat energi secara alami, dan berakar pada kebiasaan komunitasnya.

Mungkin di era ketika desain sering berlomba menjadi spektakuler, Zhouzhuang memberi pengingat sederhana: tidak semua kemajuan harus berisik. Kadang yang paling maju adalah yang paling mampu menjaga hubungan—antara manusia, lingkungan, dan waktu.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Dongkrak Likuiditas, COIN Siap Turunkan Biaya Transaksi Bursa Kripto CFX
• 1 jam laluidxchannel.com
thumb
DPR nilai insiden siswa di NTT jadi alarm serius pemenuhan hak anak
• 6 jam laluantaranews.com
thumb
Kapolri usulkan Bintang Bhayangkara untuk Meri Hoegeng
• 1 jam laluantaranews.com
thumb
Jangan Remehkan Bintang Baru Persija Mauro Zijlstra! Statistik Mentereng: 77 Laga, 50 Gol, dan 19 Assist
• 29 menit laluharianfajar
thumb
Yeremia Mendrofa: Efisiensi Anggaran RS Banten Tak Boleh Kurangi Tenaga Kerja
• 13 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.