JAKARTA, KOMPAS.com - Khoirul Anam (28), anggota satuan pengamanan (satpam) sebuah bank BUMN di Tanjung Priok, Jakarta Utara, mencatatkan prestasi nasional dengan menyabet rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai satpam dengan karya ilmiah terbanyak.
Perjalanan Anam sebagai seorang satpam bermula pada 2018. Saat itu, ia nekat merantau dari kampung halamannya di Kabupaten Tanggamus, Lampung, ke Jakarta, hanya dengan modal Rp 1 juta.
“Saya nekat merantau dari Lampung sampai ke Jakarta hanya modal biaya satu juta rupiah untuk bertahan hidup di Jakarta,” katanya saat ditemui Kompas.com pada Selasa (2/2/2026).
Anam kemudian mendatangi perusahaan penyedia jasa keamanan di wilayah Kapuk, Jakarta Utara. Beruntung, ia langsung diterima bekerja.
Perjalanan hidup Anam tidak selalu mulus. Pada 2018, ia sempat sakit hingga kritis, bahkan koma. Kondisi tersebut sempat membuat keluarga pesimis terhadap peluang hidup Anam.
“Saat itu ada insiden saya seperti sakit, tetapi sakitnya itu tidak terdeteksi medis. Sempat koma dan dirawat di beberapa rumah sakit dulu di Lampung,” ujarnya.
Ia menyebut pengalaman tersebut menjadi titik balik hidupnya untuk berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.
“Dari sakit itu sebenarnya sih ada motivasi. Saya harus hidup di umur kedua ini harus menjadi yang lebih baik,” kata Anam.
Setelah kembali bekerja, Anam mulai menekuni dunia pendidikan dan penulisan. Ia memulai kebiasaan menulis untuk mengisi waktu luang di sela tugasnya sebagai satpam.
Anam menempuh pendidikan S1 Manajemen di Universitas Pamulang pada 2019 melalui kelas karyawan. Ia harus membagi waktu antara bekerja dengan sistem shift sambil berkuliah.
Setelah lulus pada 2023, Anam melanjutkan pendidikan S2 Manajemen di Universitas Dirgantara Marsekal Suryadarma. Bersamaan dengan itu, ia juga menempuh pendidikan S1 kedua di STIT Bustanul Ulum Lampung Tengah pada Program Studi Pendidikan Agama Islam.
Dalam proses akademiknya, Anam aktif menghasilkan karya tulis ilmiah dan buku. Hingga saat ini, ia telah mempublikasikan 13 karya ilmiah di jurnal nasional dan internasional, serta delapan buku yang telah terdaftar di Perpustakaan Nasional.
Baca juga: Siswa SD di NTT Diduga Akhiri Hidup Dikenal Pendiam, Nenek: Kami Berusaha Penuhi Semampu Kami
"Terus untuk dua jurnal lagi itu sudah diserahkan ke pihak kampus karena sebagai tugas akhir skripsi dan tesis begitu. Ada tiga buku lagi yang sedang saya garap sekarang," ungkapnya.
Anam bertekad untuk terus menempuh pendidikan. Ia bercita-cita menjadi seorang pengajar.
Ia pun berpesan kepada masyarakat untuk terus menuntut ilmu tanpa mengenal batas profesi.
“Jangan pernah lelah untuk menuntut ilmu. Karena sekecil apa pun ilmu itu sangat-sangat bermanfaat di kehidupan kita,” tambahnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


