Harga emas dan perak dunia kembali menguat setelah sempat terperosok tajam dari level tertingginya. Koreksi yang dinilai sebagai kejatuhan historis ini justru memancing minat investor pemburu harga murah untuk kembali masuk ke pasar logam mulia.
Mengutip Bloomberg, harga emas pada perdagangan Selasa (3/2) di New York sempat menguat ke level USD 4.946,49 per troy ounce pada pukul 15.49 waktu setempat, atau naik 6,1 persen dibandingkan hari sebelumnya. Namun, pada pukul 18.20 waktu New York (EST), harga emas terkoreksi ke level USD 4.932,85 per troy ounce, turun 0,27 persen.
Sementara itu, harga perak menguat 7,04 persen menjadi USD 84,85 per ounce, sementara platinum dan paladium juga mencatat kenaikan. Indeks Bloomberg Dollar Spot, yang mengukur kekuatan dolar AS, turun 0,3 persen. Perak terpantau melesat lebih dari 12 persen dan diperdagangkan di atas USD 89 per ounce, seiring membaiknya sentimen risiko di pasar global dan melemahnya dolar AS.
Kedua logam mulia tersebut mencatat reli tajam sepanjang bulan lalu, didorong oleh momentum spekulatif, gejolak geopolitik, serta kekhawatiran terhadap independensi Federal Reserve (The Fed).
Namun, reli ini terhenti secara mendadak pada akhir pekan lalu. Perak mencatat penurunan harian terbesar sepanjang sejarah, sementara emas mengalami kejatuhan paling tajam sejak 2013, setelah sejumlah pengamat pasar memperingatkan bahwa kenaikan harga sebelumnya terlalu besar dan terlalu cepat.
Dana-dana asal China serta investor ritel di negara-negara Barat sebelumnya telah membangun posisi besar di pasar logam mulia. Gelombang pembelian opsi beli (call options) serta masuknya dana ke produk ETF berleverage semakin memanaskan reli, hingga akhirnya terjadi kejatuhan mendadak saat perdagangan Asia pada Jumat (29/1). Tekanan jual berlanjut hingga Senin (2/2)
“Kami menilai koreksi ini akan menyehatkan pasar dalam jangka panjang. Periode ini dapat menjadi kesempatan bagi investor untuk membangun posisi strategis jangka panjang pada level harga yang lebih menarik,” tulis ahli strategi UBS Group AG, Joni Teves, dalam sebuah catatan.
Sebagian besar bank masih optimistis harga emas akan kembali pulih. Deutsche Bank AG, pada Senin (2/2), menyatakan tetap mempertahankan proyeksinya bahwa harga emas berpotensi naik hingga USD 6.000 per ounce.
Arah pergerakan pasar ke depan akan sangat dipengaruhi oleh sejauh mana investor China memanfaatkan koreksi harga ini untuk kembali membeli. Pada akhir pekan lalu, para pembeli memadati pasar emas terbesar di Shenzhen untuk membeli perhiasan dan emas batangan menjelang perayaan Tahun Baru Imlek.
Di sisi lain, pasar keuangan di China akan tutup selama lebih dari sepekan mulai 16 Februari. Sementara itu, bank-bank milik negara di China memperketat pengawasan terhadap investasi emas guna meredam volatilitas.
“Penurunan harga emas selama tiga hari terakhir memang merupakan koreksi yang tak terelakkan. Namun, faktor fundamental yang menopang tren kenaikan emas dalam beberapa tahun terakhir masih tetap kuat, sehingga kecil kemungkinan terjadi penurunan berkepanjangan,” ujar Pemimpin Tim MLIV Asia, Garfield Reynolds.
“Dengan kecilnya peluang pengetatan kebijakan moneter global secara cepat serta masih adanya risiko geopolitik, pergerakan harga logam mulia cenderung melanjutkan kenaikan secara lebih moderat,” sambungnya.
Investor juga mencermati meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran, setelah Presiden Donald Trump menyatakan pembicaraan terkait kesepakatan nuklir baru berpotensi digelar dalam beberapa hari ke depan. Terobosan dalam perundingan tersebut dapat mengurangi daya tarik emas sebagai aset lindung nilai dan menekan harga logam mulia.

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5480105/original/024037100_1769042357-WhatsApp_Image_2026-01-21_at_11.17.17.jpeg)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5488740/original/028030100_1769761661-IMG_6369.jpeg)

