Pemerintah memastikan proyek gentengisasi yang digagas Presiden Prabowo Subianto tidak akan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara berlebihan.
Kementerian Keuangan menilai kebutuhan dana program penggantian atap rumah dari seng ke genteng tanah liat masih dalam batas yang terkendali.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan, angka anggaran yang selama ini beredar di publik cenderung terlalu besar karena dihitung dengan asumsi seluruh rumah harus mengganti atap.
Padahal, sasaran program ini hanya rumah-rumah tertentu yang masih menggunakan seng.
Menurut Purbaya, kebutuhan dana proyek gentengisasi diperkirakan masih berada di bawah Rp 1 triliun. Nilai tersebut dinilai realistis karena cakupan program tidak menyeluruh.
“Gentengisasi enggak sampai Rp 1 triliun (anggarannya),” kata Purbaya di Hotel Shangri-La Jakarta, Selasa (3/2).
Ia menjelaskan, pembengkakan estimasi anggaran terjadi karena semua rumah seolah-olah masuk dalam perhitungan. Faktanya, tidak semua hunian menggunakan seng dan tidak seluruhnya akan diganti dalam program ini.
“Yang diganti paling berapa puluh persen diganti yang pakai seng. Jadi harusnya angkanya lebih kecil,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Purbaya menyebut perhitungan anggaran tersebut masih bersifat awal dan belum ditetapkan secara final. Pemerintah masih memiliki ruang untuk melakukan penyesuaian agar belanja negara tetap efisien dan terjaga.
Soal pendanaan, Purbaya mengatakan pemerintah memiliki sejumlah alternatif sumber pembiayaan. Selain memanfaatkan ruang fiskal, dana juga bisa berasal dari cadangan negara atau pos anggaran lain yang sudah tersedia.
“Ada kemungkinan dari situ (anggaran Makan Bergizi Gratis yang dipotong), ada kemungkinan dari tempat lain. Tapi cukuplah nggak banyak-banyak banget kalau nggak salah anggarannya,” jelasnya.
Gagasan gentengisasi sebelumnya disampaikan Presiden Prabowo Subianto sebagai upaya memperindah wajah bangunan di Indonesia sekaligus meningkatkan kualitas hunian masyarakat. Prabowo menilai penggunaan seng masih cukup masif di berbagai daerah, padahal material tersebut dinilai kurang awet dan tidak ramah lingkungan.
“Seng ini panas untuk penghuni, seng ini juga berkarat, jadi tidak mungkin Indonesia indah kalau semua genteng dari seng. Maaf saya tidak tahu ini dari dulu industri aluminium dari mana ya, maaf bikin yang lain-lain deh,” kata Prabowo dalam Rakornas Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul, Jawa Barat pada Senin (2/2).
“Saya ingin semua atap Indonesia pakai genteng. Jadi nanti ini gerakannya adalah gerakan, proyeknya adalah proyek gentengisasi ke Indonesia,” lanjutnya.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2022, mayoritas rumah tangga di Indonesia sebenarnya sudah menggunakan genteng. Sebanyak 57,93 persen atau 40.913.287 rumah tangga tercatat memakai genteng sebagai atap rumah.
Sementara itu, 31,48 persen atau 22.232.058 rumah tangga masih menggunakan seng. Material ini dikenal ringan, relatif awet, dan lebih murah, namun kerap dikeluhkan karena menimbulkan suara bising saat hujan serta membuat suhu rumah terasa lebih panas akibat sifat logam yang menyerap panas.



