Rupiah Melemah meski PMI Manufaktur Januari 2026 Naik Imbas Tingginya Permintaan Pasar

viva.co.id
6 jam lalu
Cover Berita

VIVA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi masih akan bergerak fluktuatif, namun ditutup melemah pada perdagangan hari ini.

Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate atau Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar Amerika Serikat berada di level Rp 16.777 per Selasa, 3 Februari 2026. Posisi rupiah itu menguat 23 poin dari kurs sebelumnya di level Rp 16.800 pada perdagangan Senin, 2 Februari 2026.

Baca Juga :
Rupiah Menguat usai Laporan BPS soal Surplus Neraca Perdagangan RI di 2025
Rupiah Menguat seiring Upaya BI Perkuat Cadangan Devisa Jaga Stabilitas Ekonomi

Sementara perdagangan di pasar spot pada Rabu, 4 Februari 2026 hingga pukul 09.04 WIB rupiah ditransaksikan di Rp 16.764 per dolar AS. Posisi itu melemah 10 poin atau 0,06 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 16.754 per dolar AS.

Ilustrasi mata uang Rupiah.
Photo :
  • Pixabay/IqbalStock

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, S&P Global Market Intelligence mencatat Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia berada di level 52,6 pada Januari 2026, naik dari level 51,2 pada Desember 2025.

"Kenaikan tergolong sedang dan pertumbuhan terus meningkat dengan indeks di atas 50. Kenaikan itu didorong oleh peningkatan berkelanjutan pada output dan permintaan baru," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Rabu, 4 Februari 2026.

Data tersebut berdasarkan survei yang dilakukan pada 12-23 Januari 2026, dengan cara menyebar kuesioner kepada para manajer pembelian dari panel terpilih yang berasal dari 400 perusahaan manufaktur. Mereka dipilih agar mencerminkan kondisi industri yang sebenarnya.

Dalam survei tersebut, perusahaan sering mengaitkan kenaikan dengan permintaan pasar atas barang yang meningkat. Kondisi permintaan terlihat didorong oleh perekonomian domestik, karena permintaan internasional menurun selama lima bulan terakhir di tengah penurunan laporan bahwa tarif menghambat permintaan luar negeri.

Sejalan dengan permintaan baru yang terus bertumbuh, produksi tercatat naik pada bulan Januari 2026. Output naik selama tiga bulan berjalan dan merupakan yang tercepat kedua dalam 11 bulan.

S&P melihat kenaikan kebutuhan produksi dan kondisi permintaan yang membaik, mendorong perusahaan untuk menaikkan pembelian input selama enam bulan berturut-turut. Perusahaan juga melaporkan upaya menaikkan inventaris pra dan pasca produksi, untuk mempersiapkan kenaikan produksi di tengah permintaan yang terus naik.

"Mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp 16.750 - Rp 16.780," ujarnya.

Baca Juga :
Rupiah Melemah, PDIP: Pemerintah Harus Cepat Atasi Ketidakpastian di Pasar Keuangan
Rupiah Melemah usai Goldman Sachs Group Inc. Turunkan Peringkat saham RI Jadi Underweight
Rupiah Melemah meski Pasar Respons Positif Langkah Purbaya Lanjutkan 4 Program Stimulus di 2026

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Video: Indonesia Mau Bangun PLTN - Trump Pangkas Tarif Impor India
• 18 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Sidang Korupsi Pertamina, Rhenald Kasali: Pangkas Rantai Pasok Impor Minyak Bukan Pidana
• 19 jam lalukompas.id
thumb
BPJPH Perkuat Pendampingan Sertifikasi Halal Jelang Wajib Halal 2026, Libatkan 309 LP3H
• 7 jam lalupantau.com
thumb
Tragis! Anggota Satpol PP Kebumen Gugur Saat Amankan ODGJ, Rencana Pernikahan Kandas
• 14 jam lalukompas.tv
thumb
Prakiraan Cuaca Jakarta Rabu: BMKG Ingatkan Potensi Hujan Petir di Jakarta Barat
• 7 jam lalusuara.com
Berhasil disimpan.