Di Tangan Anak Muda, Tradisi Topeng Labu Kian Menyala

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

Tradisi topeng labu bertransformasi di Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi. Dua dasawarsa silam, tarian itu hanya dibawakan oleh kaum lelaki paruh baya. Kini, di tangan anak muda, nyala tradisi itu kian benderang.

Puluhan penari memenuhi jalan setapak di tengah desa tatkala musik melayu mengudara. Dengan wajah berselimut topeng-topeng buruk rupa, para penari bergoyang menyesuaikan irama.

Gerakan tarian mereka spontan sehingga kadang-kadang tubuh saling beradu, memancing gelak tawa pengunjung. Apalagi menyaksikan para penari bertubuh mungil tampak tenggelam di balik daster longgar pinjaman ibu mereka.

Sesaat setelah musik berhenti, suasana penuh semarak itu mereda dan satu per satu topeng dilepas. Tampaklah wajah-wajah muda para penari. Sebagian di antara mereka masih berusia belia, seperti Alifah (10).

Saat mengetahui rencana perhelatan Anarta Topeng Labu di Desa Muaro Jambi, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi, Alifah bersemangat ikut serta. Dalam lomba bertopeng labu, penilaiannya ada pada desain topeng dan keserasian dengan kostum yang dipakai.

Alifah pun mendesain dan membuat topeng labu dengan bantuan sang ayah. Ia menggunakan kulit labu manis yang berbentuk panjang dan berwarna coklat kehijauan. Bagian atasnya dilubangi menjadi dua bola mata yang tampak besar. Sekeliling mata dilukis dengan warna hitam tebal.

Lalu, ia menempel kertas berbentuk kerucut tajam untuk menjadi bagian hidung. Pada bagian mulut, menyembul taring-taring tajam. ”Dilukis seperti ini topengnya agar tampak seram,” ujarnya.

Baca JugaRitus Garis, Memanggungkan Cerita dari Muarajambi

Peserta lainnya, Pita (12), tak kalah semangat membuat topeng labu. Dibantu juga oleh sang ayah, Pita membuat mata topeng tampak sipit seperti matanya serta berambut ijuk tebal dan berkuncir dua persis dengan kebiasaannya menguncir rambut. Jika dipikir-pikir, topeng tersebut mirip dengan citra dirinya, hanya saja dibuat dalam versi buruk rupa.

Perhelatan Anarta Topeng Labu yang diselenggarakan komunitas Rumah Menapo menjadi wadah ekspresi anak-anak muda menghidupkan tradisi itu. Dalam dua dasawarsa terakhir, topeng labu kian hidup di desa itu setelah sempat meredup lama.

Uniknya, gerakan pelestarian topeng labu kini dikuatkan oleh generasi muda. Kondisi ini menghadirkan transformasi pada tradisi lokal yang telah diwariskan turun-temurun itu.

Jika sebelumnya tari topeng labu hanya dimainkan oleh kaum laki-laki berusia paruh baya, kini anak-anak muda yang menjadi tulang punggung kelangsungan tradisi. Mereka rutin berkegiatan seni di Graha Menapo yang dibangun swadaya oleh komunitas itu.

”Setiap hari Minggu anak-anak muda berkumpul. Kami menggelar Sekolah Alam dan ada pertemuan rutin untuk menghidupkan tradisi lokal,” ujar Mukhtar Hadi, pemuda setempat yang menghidupkan lagi tradisi itu.

Rekonstruksi

Topeng labu di Desa Muaro Jambi sempat meredup lama. Pada 2007, Mukhtar mengajak para pemuda Desa Mulau merekonstruksi tradisi itu. Mereka mendatangi para sesepuh desa untuk menggali cerita lawas. Dari situ, sejarah topeng labu di desa itu mengalir. Para pemuda lalu menginventarisasi pula lirik-lirik pantun pengiring tarian.

Kompas pernah mengangkat perihal tradisi topeng labu di Desa Muaro Jambi pada 2009. Salah satu penarinya bernama Hasan Alif yang kala itu telah berusia 60 tahun. Ia kini telah wafat.

Hasan saat itu menceritakan, pada masa lalu, penyakit kusta pernah mewabah di desa tersebut. Sampai-sampai warga yang mengidapnya harus ngutan alias masuk hutan agar tidak menulari warga lainnya.

Sewaktu perbekalan di hutan telah habis, para penderita kusta pun kembali ke desa untuk mengemis. Karena malu akan kondisi tubuhnya, mereka mengenakan topeng dan baju tertutup.

Baca JugaAku Menari, Jiwaku Berseri-seri

Mereka masuk desa dan meminta belas kasihan warga sambil menggendong ambung (bakul) di punggung. Dengan topeng, mereka juga menari untuk menghibur masyarakat setempat. Gerakan tari yang bebas dengan wajah topeng yang buruk rupa dan berambut ijuk itu kerap mengundang gelak tawa orang, sekaligus membikin ngeri anak-anak kecil.

Namun, masyarakat menyukai tarian topeng dan memberi sumbangan ala kadarnya. Mereka memasukkan sumbangan ke dalam ambung. ”Terkadang diberi kelapa, pisang, ubi. Tetapi, ada juga yang ngasih uang,” ujar Hasan Alif. Dari situlah Tari Topeng lahir sebagai bagian dari tradisi masyarakat setempat.

Dalam perkembangannya, kata Hasan, topeng labu disukai banyak orang sehingga tradisi itu dapat hidup. Tariannya dibawakan setiap hari pertama Lebaran. Saat itu, kelompok penari topeng berkeliling kampung untuk menghibur masyarakat. Mereka mendapatkan imbalan sukarela dari penonton.

Seingat Hasan, kelompok penari topeng dari desanya pernah diundang oleh Residen Belanda di kawasan Pelabuhan Bom Batu, dekat Pasar Angso Duo. Mereka menari di hadapan pemerintah kolonial pada 31 Agustus 1937.

Setiap hari Minggu anak-anak muda berkumpul. Kami menggelar Sekolah Alam dan ada pertemuan rutin untuk menghidupkan tradisi lokal

Menari di hadapan penjajah Belanda, kenang Hasan, menumbuhkan kebanggaan warga setempat. Sejak itu, makin banyak warga ingin menjadi penari topeng.

Tari ini tidak mengisahkan alur cerita tertentu. Gerakan-gerakannya pun dibuat berdasarkan kreasi masing-masing penari.

Sebelum berpentas, para penari bersembunyi di dalam salah satu rumah personel kelompok tari untuk mengenakan kostum masing-masing. Oleh karena itu, ketika mereka mulai berkeliling kampung untuk menari, tak akan ada satu warga pun yang dapat mengenali identitas si penari.

Menjelang pertunjukan, suara gong dibunyikan untuk menarik minat masyarakat. Gong menjadi penanda bahwa sebentar lagi pertunjukan dimulai.

Setelah itu, muncullah tarian yang dibawakan oleh para penari, diiringi gendang, harmonika, dan gong yang membawakan musik-musik Melayu. Suara musiknya riuh, dengan tepukan tangan penonton, sementara penari bergoyang bebas.

Baca JugaKisah Keragaman Padi Lokal Desa Senaung Digempur Target Lumbung Pangan

Di masa pendudukan Jepang, tarian ini pernah tenggelam karena besarnya tekanan penjajah. Kehidupan di kala itu sudah sangat sulit. Warga selalu dibayangi ketakutan sehingga tak terpikir lagi untuk menari.

Setelah tentara Jepang hengkang, barulah Tari Topeng kembali muncul. Namun, di masa revolusi, tarian ini redup lagi.

Mukhtar Hadi menyebut, dua puluh tahun setelah rekonstruksi dilakukan, tradisi topeng labu kembali hidup. Pada waktu-waktu istimewa, warga melakukan pawai Tari Topeng Labu dengan iringan musik tradisional. Mereka berjalan dan menari mengelilingi desa hingga sepanjang 2,5 kilometer dari wilayah Danau Kelari hingga Sungai Melayu.

Budayawan Jambi, Ujang Hariadi, mengatakan, topeng labu yang kembali hidup di masa kini dapat memperkuat pariwisata setempat. Apalagi Desa Muaro Jambi berada persis di tengah Kawasan Cagar Budaya Nasional Muarajambi.

Topeng labu dapat menjadi atraksi rutin wisata. Ekonomi masyarakat juga akan semakin terangkat jika mereka mengelola labu menjadi ragam suvenir tematik topeng labu. ”Para pemuda desa bisa membuat suvenir topeng labu atau gantungan kunci dari labu. Itu pasti akan semakin menarik untuk wisatawan,” ujarnya.

Kepala Desa Muaro Jambi Abuzar berharap adanya dukungan bagi desanya untuk menghidupkan wisata lewat labu. Selain Tari Topeng Labu, potensi lain yang bisa dikelola adalah kuliner labu dan suvenir labu.

Namun, di masa kini, ketersediaan buah labu di desa kian berkurang. Oleh karena itu, Abuzar pun berharap ada dukungan untuk budidaya labu bagi masyarakat agar tradisi itu menjadi semakin lengkap pengembangannya dari hulu ke hilir.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Dua pemain timnas futsal Indonesia antusias kembali bertemu Kensuke
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
Kementerian ESDM Targetkan Bauran EBT Naik 17% di 2026
• 23 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
TP PKK Bulukumba Pimpin Penyaluran MBG Bumil dan Busui
• 18 jam laluharianfajar
thumb
Pramono Pastikan Belum Ada Laporan Kasus Infeksi Virus Nipah di Jakarta
• 19 jam laluidxchannel.com
thumb
TVRI Siapkan Komentator Mumpuni untuk Piala Dunia 2026, Tekankan Nilai Edukasi dan Kepublikan
• 14 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.