Bumi Sudah Berubah, Peneliti Ungkap Fakta 66 Juta Tahun Lalu

cnbcindonesia.com
2 jam lalu
Cover Berita
Foto: Pemandangan dari tepi angkasa terlihat dari pesawat ruang angkasa pariwisata roket berawak Virgin Galactic, SpaceShipTwo, selama penerbangan uji antariksa di atas Mojave, California, AS, 13 Desember 2018. Virgin Galactic / Handout melalui REUTERS.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pada satu waktu, Bumi pernah berubah dari iklim yang tropis hangat menjadi sangat dingin. Para peneliti dari Universitas Southampton bersama beberapa peneliti dari China, AS, Israel, Denmark, Jerman, Belgia dan Belanda berupaya untuk menjawab misteri 66 juta tahun lalu atau setelah zaman dinosaurus.

Menurut para peneliti, perubahan ini terjadi karena kadar kalsium yang ada di air laut. Terdapat penurunan kadar laut lebih dari 50% selama 66 juta tahun terakhir, yang mengubah cara lautan berinteraksi dengan atmosfer.


Penulis utama, David Evans menjelaskan kadar kalsium yang larut mencapai dua kali lebih tinggi pada awal Era Senozoikum. Kadar yang tinggi ini membuat karbondioksida yang disimpan lebih sedikit dan melepaskannya di udara.

Namun saat kadar menurun, membuat Co2 terlepas dari atmosfer. Kemudian juga menurunkan suhu mencapai 20 derajat celcius.

"Seiring menurunnya kadar itu, Co2 terserap keluar dari atmosfer dan suhu Bumi ikut turun, membuat iklim turun hingga 15-20 derajat Celcius," kata Evans dikutip dari ScitechDaily, Rabu (4/2/2026).

Tim peneliti melakukan penelitian dengan sisa fosil makhluk laut kecil yang ditemukan dengan menggali dari sedimen di dasar laut. Ini dilakukan untuk menyusun catatan kimia laut yang lebih mendetil.

Mereka juga membuat model buatan komputer, yang menunjukkan kadar kalsium yang tinggi dan mengubah jumlah karbon yang berada di lautan seperti karang hingga plankton.

Pilihan Redaksi
  • Badai Leonardo Mengamuk! Spanyol-Portugal Siaga Tinggi, Sekolah Lumpuh
  • Tanda Kiamat Makin Cepat Muncul dari Besi di Dalam Es

Lebih lanjut para peneliti menemukan penurunan kadar kalsium laut ini juga sejalan dengan proses pemekaran dasar samudera yang melambat. Ini adalah proses vulkanik untuk menciptakan dasar laut yang baru.

Proses yang melambat itu membuat pertukaran kimia antara batuan dan air laut juga berubah. Pada akhirnya membuat adanya penurunan konsentrasi kalsium terlarut secara bertahap.

"Biasanya kimia air laut menjadi sesuatu yang dipandang untuk merespon faktor-faktor lain penyebab perubahan iklim, bukan sebagai penyebab itu sendiri," jelas peneliti lainnya dari Universitas Rutgers AS, Yair Rosenthal.

"Mungkin saja perubahan pada proses di kedalaman Bumi adalah yang bertanggung jawab pada pergeseran iklim selama waktu geologis," dia menambahkan.


(fab/fab)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Cara Cloud Bantu Bisnis e-Commerce - Bank Makin Efisiensi

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pertamina Hemat US$ 9,6 Juta Karena Sewa Terminal BBM PT OTM
• 11 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Respons Anak SBY soal Jokowi Dukung Prabowo-Gibran 2 Periode
• 15 jam lalukompas.com
thumb
Profil G-Dragon, Leader Boyband Big Bang yang Berpengaruh dan Diakui Bakatnya di Industri Musik Korea Selatan
• 6 jam lalugrid.id
thumb
Mendikti Ungkap Progres Sekolah Garuda: 4 Dibangun, Juli Mulai Belajar
• 21 jam laludetik.com
thumb
Gunung Api Ile Lewotolok Alami Erupsi Pertama Awal Februari, Kolom Abu Capai 200 Meter
• 1 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.