Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun meminta langkah yang lebih berani dan taktis dari Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah volatilitas yang meningkat. Saat ini rupiah tertekan oleh ketidakpastian di pasar keuangan global.
Menurut Misbakhun, kondisi global saat ini, mulai dari kebijakan suku bunga tinggi yang bertahan untuk jangka panjang (high for longer) The Fed hingga tensi geopolitik, menuntut respons kebijakan moneter yang tidak biasa. Ia menilai otoritas moneter tidak boleh pasif menunggu pasar menyesuaikan diri secara alami.
“Bank Indonesia (BI) perlu melakukan intervensi yang lebih agresif namun tetap terukur, baik di pasar valas maupun obligasi. Volatilitas yang dibiarkan terlalu liar akan membentuk sentimen negatif di pasar," kata Misbakhun, dalam keterangan tertulis, di Jakarta (4/2).
Misbakhun mengatakan BI memiliki instrumen yang lengkap dan cadangan devisa yang memadai untuk memastikan rupiah tidak tertekan berlebihan hingga berdampak ke sektor riil dan daya beli masyarakat.
“Stabilisasi nilai tukar bukan semata persoalan pergerakan angka, tetapi juga menjaga kepercayaan investor dan pelaku usaha. Karena itu, optimalisasi instrumen moneter seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan instrumen pro-market lainnya untuk menarik kembali capital inflow sekaligus menahan capital outflow,” katanya.
Di sisi lain, Misbakhun mengatakan fundamental ekonomi nasional masih kuat. Ia menilai Indonesia menunjukkan ketahanan yang relatif lebih baik dibanding negara-negara tetangga, hal ini tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang tetap positif, inflasi yang terjaga dalam sasaran, serta kinerja neraca perdagangan yang solid.
“Fundamental ekonomi kita tidak rapuh. Di tengah ketidakpastian global yang menekan banyak negara, Indonesia menunjukkan resiliensi yang kuat. Ini modal besar yang harus terus dikapitalisasi, sembari BI meredam gejolak nilai tukar agar tidak mengganggu capaian ekonomi yang sudah berada di jalur yang tepat,” ujarnya.
Misbakhun mengatakan Komisi XI DPR RI akan terus mengawal langkah strategis BI dan pemerintah dalam bauran kebijakan fiskal dan moneter.
“Sinergi antarlembaga sangat krusial untuk memitigasi risiko global dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Misbakhun.



