TAMAN Nasional Yellowstone menjadi panggung bagi salah satu dinamika predator paling menarik di Amerika Utara. Sebuah studi terbaru yang diterbitkan dalam jurnal PNAS mengungkapkan bagaimana singa gunung (cougar) berhasil bertahan hidup dan berdampingan dengan serigala, meskipun keduanya sering terlibat dalam konflik mematikan.
Kunci keharmonisan ini ternyata bukan terletak pada kelimpahan mangsa, melainkan pada kemampuan singa gunung untuk beradaptasi dengan mengubah pola makan dan memanfaatkan lanskap yang beragam.
Dominasi Serigala dan Adaptasi Singa GunungSejak serigala (Canis lupus) diperkenalkan kembali ke Yellowstone pada 1990-an, mereka menjadi predator dominan. Meski memiliki ukuran tubuh yang hampir sama, serigala memiliki keunggulan karena bergerak dalam kelompok, sementara singa gunung (Puma concolor) adalah pemburu soliter. Hal ini sering kali berujung pada pencurian mangsa kawanan serigala, bahkan pembunuhan terhadap singa gunung.
Baca juga : DNA Serigala Masih Tersisa di Sebagian Besar Ras Anjing Modern
"Interaksi ini sangat sepihak," ujar Wesley Binder, penulis utama studi dari Oregon State University kepada Live Science. "Namun, singa gunung memiliki kemampuan untuk beradaptasi dalam beberapa hal."
Data GPS dan observasi lapangan selama sembilan tahun di hampir 4.000 lokasi menunjukkan singa gunung mulai beralih memburu mangsa yang lebih kecil untuk menghindari konfrontasi. Antara tahun 1998 dan 2024, proporsi rusa elk dalam makanan singa gunung turun dari 80% menjadi 53%, beralih ke mangsa yang lebih kecil seperti rusa biasa.
Mengecilkan Mangsa demi KeselamatanStrategi ini terbukti efektif. Jika singa gunung membunuh mangsa besar seperti elk, mereka membutuhkan waktu lebih lama untuk menghabiskannya. Hal ini memberi peluang lebih besar bagi serigala untuk menemukan lokasi tersebut dan menyerang.
Baca juga : Prancis Kewalahan Mengatasi Populasi Serigala
"Kami menemukan serigala dan singa gunung enam kali lebih mungkin berinteraksi saat singa gunung membunuh elk, dibandingkan dengan rusa. Rusa berukuran kurang dari setengah elk, sehingga singa gunung memakannya jauh lebih cepat, dan serigala memiliki lebih sedikit kesempatan untuk menemukan lokasi pembunuhan tersebut," jelas Binder.
Di sisi lain, populasi serigala juga mulai menyesuaikan diri dengan lebih banyak memangsa bison seiring menurunnya populasi elk di Yellowstone secara umum.
Peran Penting Lanskap YellowstoneSelain perubahan pola makan, medan Yellowstone yang beragam menjadi penyelamat bagi singa gunung. Keberadaan tebing berbatu atau pepohonan yang bisa dipanjat memberikan "jalur pelarian" yang krusial saat serigala mendekat. Saat ini, populasi kedua predator puncak ini dilaporkan dalam kondisi stabil.
Chris Wilmers, ahli ekologi satwa liar dari University of California, Santa Cruz, menilai Yellowstone sebagai sistem yang luar biasa karena kembalinya karnivora besar secara lengkap.
"Sangat menarik untuk melihat dampak spesies-spesies ini satu sama lain saat populasi mereka pulih. Ini adalah awal dari pengungkapan kisah antara serigala dan singa gunung," kata Wilmers.
Penelitian ini memberikan gambaran penting bagi para ilmuwan tentang bagaimana interaksi antar-predator dapat menciptakan efek domino yang memengaruhi seluruh ekosistem. (Live Science/Z-2)



