Apa yang Terjadi hingga Anak SD di NTT Bunuh Diri?

kompas.id
5 jam lalu
Cover Berita
Berikut beberapa poin yang bisa Anda dapatkan dari artikel ini:
  1. Apa yang membuat anak SD di Ngada memilih bunuh diri?
  2. Mengapa persoalan ekonomi bisa begitu memukul anak?
  3. Apa peran kurangnya dukungan emosional dalam tragedi ini?
  4. Mengapa kasus ini disebut kegagalan sistemik?
  5. Apa yang seharusnya dilakukan agar tragedi serupa tak terulang?
1. Apa yang membuat anak SD di Ngada memilih bunuh diri?

Tragedi ini diduga berawal dari persoalan yang tampak sederhana, korban meminta uang kurang dari Rp 10.000 untuk membeli buku dan pena. Permintaan itu tak terpenuhi karena ibunya benar-benar tidak memiliki uang. Penolakan itu diduga menjadi pemicu awal rasa putus asa.

Di balik peristiwa itu, terdapat kondisi kemiskinan ekstrem yang kronis. Ibu korban adalah orangtua tunggal dengan lima anak. Ia bekerja sebagai petani dan buruh serabutan. Untuk mengurangi beban, korban tinggal terpisah bersama neneknya yang lanjut usia di sebuah pondok sederhana.

Keterpisahan fisik dan ekonomi ini memperlemah dukungan emosional. Anak menghadapi tekanan hidup orang dewasa tanpa kemampuan mengolahnya. Dalam kondisi itu, rasa bersalah dan perasaan menjadi beban tumbuh tanpa jalan keluar.

Bunuh diri dinilai bukan pilihan sadar untuk mati, melainkan ekspresi keputusasaan. Anak tidak ingin mengakhiri hidup, tetapi ingin mengakhiri penderitaan yang tak mampu ia ungkapkan dengan kata-kata.

Baca JugaAnak SD Bunuh Diri lantaran Tak Mampu Beli Buku dan Pena, Tamparan bagi Negara
2. Mengapa persoalan ekonomi bisa begitu memukul anak?

Anak memang tidak sepenuhnya memahami ekonomi, tetapi sangat peka terhadap tekanan di sekitarnya. Mereka menyerap kecemasan orangtua, keterbatasan hidup, dan suasana kekurangan sebagai beban personal. Dalam diam, anak merasa dirinya bagian dari masalah.

Pada kasus ini, permintaan alat sekolah yang ditolak dinilai bukan sekadar soal uang. Bagi anak, hal itu bisa terasa sebagai kegagalan, rasa bersalah, dan ketidakberdayaan. Ia melihat ibunya letih dan tak sanggup, lalu menyimpulkan bahwa dirinya merepotkan.

Psikiater menjelaskan, anak usia 9–10 tahun sudah memahami kematian sebagai sesuatu yang permanen, tetapi belum mampu menimbang konsekuensi jangka panjang. Cara berpikir mereka masih hitam-putih dan impulsif saat tertekan.

Oleh karena itu, tekanan ekonomi yang terus-menerus dapat berubah menjadi beban psikologis akut. Anak tidak melihat solusi, hanya melihat jalan berhenti dari rasa sakit yang ia anggap tak berujung.

Baca JugaBunuh Diri pada Anak, Alarm Sunyi Saat Tak Mampu Ungkapkan Keputusasaan
3. Apa peran kurangnya dukungan emosional dalam tragedi ini?

Dukungan emosional adalah pelindung utama kesehatan mental anak. Dalam keluarga miskin ekstrem, energi orangtua sering habis untuk bertahan hidup, bukan untuk hadir secara emosional. Bukan karena tak sayang, melainkan karena kelelahan struktural.

Korban hidup terpisah dari ibunya dan diasuh nenek berusia 80 tahun. Situasi ini membatasi ruang anak untuk bercerita, mengeluh, atau divalidasi perasaannya. Kesedihan dan kegelisahan pun dipendam sendiri.

Padahal, anak yang didengarkan tidak akan mencari jalan ekstrem. Psikiater menegaskan, bunuh diri pada anak sering lahir dari perasaan tidak dilihat, tidak didengar, dan tidak dimengerti.

Ketika emosi tidak punya bahasa, tubuh dan tindakan menjadi sarana ekspresi. Dalam sunyi itulah, kematian dipilih sebagai bentuk ”berhenti” dari tekanan yang tak terucap.

Baca JugaAnak SD di NTT Bunuh Diri, Tinggalkan Sepucuk Surat buat Ibunya . . .
4. Mengapa kasus ini disebut kegagalan sistemik?

Tragedi di Nusa Tenggara Timur (NTT) ini dinilai tidak berdiri sendiri, tetapi hasil akumulasi kegagalan banyak lapisan. Kemiskinan ekstrem bertahan lama, sementara akses layanan kesehatan jiwa nyaris tak menjangkau anak-anak di daerah terpencil.

Sekolah belum memiliki sistem deteksi dini yang aktif. Lingkungan belum menjadi ruang aman untuk mengenali perubahan perilaku anak yang murung, menarik diri, atau putus sekolah sementara.

Di tingkat negara, keberhasilan administratif seperti predikat WTP tidak otomatis menjamin kehadiran negara di kehidupan paling dasar warganya. Angka kemiskinan NTT turun sangat minim selama satu dekade.

Ketika sistem gagal memeluk anak, beban orang dewasa jatuh ke pundak anak. Bunuh diri pun menjadi alarm keras dari kegagalan kolektif, bukan kesalahan individu.

Baca JugaKemiskinan dan Korupsi Masih Menjerat NTT, 10 Tahun Predikat WTP Apa Ada Maknanya?
5. Apa yang seharusnya dilakukan agar tragedi serupa tak terulang?

Pencegahan bunuh diri pada anak harus dilakukan secara berlapis. Keluarga perlu dibantu agar mampu hadir secara emosional, bukan hanya bertahan secara ekonomi. Anak harus diyakinkan bahwa kesulitan bukan kesalahannya.

Sekolah perlu dilatih untuk mengenali tanda distres psikologis sejak dini. Konseling harus bersifat aktif, bukan menunggu tragedi. Budaya antiperundungan juga harus dijalankan nyata, bukan sekadar slogan.

Masyarakat harus membangun jejaring kepedulian. Anak miskin tidak boleh tumbuh sendirian dalam rasa malu dan kekurangan. Lingkungan adalah sistem peringatan dini terdekat.

Negara wajib memperluas layanan kesehatan jiwa anak dan memastikan kebijakan ekonomi benar-benar menyentuh keluarga rentan. Anak yang dilindungi hari ini adalah masa depan yang diselamatkan.

Baca JugaKetika Rel Kereta Menjadi Saksi Kerentanan Remaja

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie Disebut Cerai, Manajer Pastikan Hoaks
• 5 jam lalugenpi.co
thumb
Lantai Kamar Mandi Amblas, Ibu di Bandung Jatuh lalu Hilang Terbawa Arus Sungai
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Persik Kediri Resmi Rekrut Ernesto Gomez dan Rodrigo Dias untuk Perkuat Lini Depan
• 17 jam lalupantau.com
thumb
Muhadjir: Pemuka Agama Memahami Alasan Gabung Board of Peace
• 15 jam lalumetrotvnews.com
thumb
3 Intelektual dari Kufah Masa Klasik
• 10 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.