Belasan siswi SMPN 2 Marga, Kabupaten Tabanan, Bali, diduga mengalami kerauhan atau kesurupan massal pada Rabu (4/2) pagi. Insiden itu terjadi saat sekolah menggelar kegiatan literasi internal.
Plt Kepala SMPN 2 Marga, Ni Made Dian Kurnia, mengatakan, fenomena ini bermula saat siswa berkumpul di halaman sekolah.
Kegiatan diawali dengan persembahyangan kemudian dilanjutkan upacara. Namun, dirigen upacara bendera tiba-tiba pingsan saat hendak memimpin siswa menyanyikan lagu Indonesia Raya.
"Dia lalu dibawa ke ruang UKS, ternyata sampai ruang UKS anaknya itu teriak-teriak seperti kerauhan, kesurupan," katanya saat dikonfirmasi, Rabu (4/2).
Beberapa saat kemudian, belasan siswa lainnya ikut berteriak bak mengalami kesurupan massal di halaman sekolah. Dian Kurnia tidak mengetahui penyebab para siswa mengalami kesurupan massal.
Namun, lokasi SMPN 2 Marga Tabanan memang masih satu areal dengan sebuah pura milik desa. Di sebelah barat sekolah terdapat sebuah pelinggih atau tempat pemujaan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Pihak sekolah selanjutnya memisahkan murid dan berusaha menenangkan siswa yang kesurupan. Pihak sekolah juga meminta bantuan Pemangku Pura atau tokoh agama di Pura memulihkan kondisi belasan siswi itu.
"Karena sekolah ini arealnya Pura Dangke. Jadi kami minta bantuan ke Mangku di Pura. Jadi anak-anak sudah tenang dan sadarkan diri kembali," katanya.
Pihak sekolah selanjutnya memutuskan kegiatan belajar mengajar ditiadakan. Seluruh siswa pulang ke rumah masing-masing setelah menyantap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Hal ini untuk menjaga kondisi psikologis seluruh siswa yang sempat khawatir melihat kejadian kerusuhan massal ini. Seluruh pelajar akan kembali aktif bersekolah besok, Kamis (5/2).
"Karena situasi ya siswa itu udah kerauhan, kondisi psikologi anak-anak yang lain itu kan sedikit tegang, tidak tenang untuk belajar. Jadi kami berkoordinasi dengan Dinas Pendidikan agar anak-anak dipulangkan lebih awal begitu," sambungnya.
Menindaklanjuti fenomena ini, pihak sekolah juga berencana melakukan upacara persembahyangan ke pura dan di area sekolah pada Sabtu (7/2) mendatang. Dian Kurnia mengatakan, upacara ini sebagai doa memohon berkat dan permohonan maaf secara niskala.



