- KPK menahan Bupati Pati Sudewo dan tiga kepala desa terkait dugaan pemerasan pengisian 600 lebih formasi perangkat desa.
- Para tersangka diduga mematok tarif Rp165 hingga Rp225 juta per calon perangkat desa sejak November 2025.
- Penyidik KPK mendalami dana desa terkait gaji perangkat dan telah mengamankan barang bukti uang Rp2,6 miliar.
Suara.com - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengaku mendalami alasan di balik kosongnya lebih dari 600 posisi perangkat desa di 21 kecamatan yang ada di Kabupaten Pati.
Hal itu berkaitan dengan kasus dugaan pemerasan pengisian jabatan desa di lingkungan Kabupaten Pati yang menjerat Bupati Pati Sudewo.
“Tentu ini juga menjadi pengayaan bagi penyidik ya, yang melatarbelakangi mengapa ada sejumlah jabatan 600 lebih ya formasi calon perangkat formasi perangkat desa yang kosong di wilayah Pati. Dari 21 kecamatan di kabupaten tersebut,” kata Budi kepada wartawan, dikutip pada Rabu (4/2/2026).
Pendalaman materi itu, lanjut Budi, dilakukan penyidik melalui pemeriksaan terhadap sejumlah saksi. Para saksi juga dimintai keterangan soal mekanisme pengisian jabatan hingga rencana penggunaan anggarannya.
“Di mana para perangkat desa ini nantinya kan digaji ya setiap bulan begitu, yang bersumber dari dana desa. Apakah kemudian di dana desa ini juga sudah direncanakan atau sudah dialokasikan untuk pembayaran gaji para perangkat desa yang dibuka formasinya di Maret 2026 ini,” tutur Budi.
Sebelumnya, KPK melakukan penahanan terhadap terhadap Bupati Kabupaten Pati Sudewo (SDW) usai terjaring OTT. Penahanan itu dilakukan setelah Sudewo ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan pemerasan terkait pengisian jabatan desa di lingkungan Kabupaten Pati.
“KPK selanjutnya melakukan penahanan terhadap para tersangka untuk 20 hari pertama sejak tanggal 20 Januari sampai dengan 8 Februari 2026. Penahanan dilakukan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Cabang Gedung Merah Putih KPK,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Deputi Penindakan dan Eksekusi KPK Asep Guntur Rahayu di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Selasa (20/1/2026).
Selain Sudewo, KPK juga menahan Kepala Desa Karangrowo, Kecamatan Jakenan Abdul Suyono (YON); Kepala Desa Arumanis, Kecamatan Jaken Sumarjiono (JION); serta Kepala Desa Sukorukun, Kecamatan Jaken Karjan (JAN).
Para tersangka diduga melanggar Pasal 12 huruf e UU No 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001 juncto Pasal 20 huruf c KUHP.
Baca Juga: KPK Incar Harta Bos Asing di BUMN, Direksi WNA Wajib Lapor LHKPN
Asep menjelaskan bahwa pada akhir tahun 2025, Pemerintah Kabupaten Pati mengumumkan akan membuka formasi jabatan perangkat desa pada Maret 2026.
Kabupaten Pati diketahui memiliki total 21 kecamatan, 401 desa, dan 5 kelurahan. Saat ini, diperkirakan terdapat 601 jabatan perangkat desa yang kosong.
Hal itu kemudian diduga dimanfaatkan Sudewo bersama sejumlah anggota tim suksesnya untuk meminta sejumlah uang kepada calon perangkat desa.
“Sejak bulan November 2025, diketahui SDW telah membahas rencana pengisian jabatan perangkat desa tersebut bersama timsesnya,” ujar Asep.
Pada masing-masing kecamatan, ditunjuk Kepala Desa (Kades) yang juga merupakan bagian dari tim sukses Sudewo sebagai Koordinator Kecamatan (Korcam) atau dikenal sebagai Tim 8.
Kemudian, Suyono dan Sumarjiono menghubungi para kepala desa di wilayah masing-masing untuk menginstruksikan pengumpulan uang dari para calon perangkat desa.


