EtIndonesia. Perang Rusia–Ukraina memasuki fase krusial baru. Pada 4–5 Februari 2026, perwakilan Ukraina, Rusia, dan Amerika Serikat dijadwalkan bertemu di Uni Emirat Arab untuk membahas kemungkinan solusi politik guna mengakhiri konflik yang telah berlangsung hampir dua tahun. Pertemuan ini dinilai sebagai salah satu titik balik paling menentukan sejak perang dimulai, dengan implikasi luas terhadap tatanan keamanan global.
Menurut laporan Financial Times, yang mengutip sumber internal diplomatik, Ukraina telah mencapai kesepahaman awal dengan Amerika Serikat dan negara-negara Eropa mengenai mekanisme respons jika Rusia kembali melanggar kesepakatan gencatan senjata.
Skema Respons Bertahap Barat terhadap Rusia
Dalam kesepakatan tersebut, disusun mekanisme penegakan berlapis sebagai bentuk pencegah yang lebih kredibel:
- 24 jam pertama: Peringatan diplomatik resmi dilayangkan kepada Moskow.
- Tahap lanjutan: Ukraina diberi legitimasi melakukan respons militer terbatas.
- Tahap kedua: Pengerahan pasukan koalisi sukarelawan, yang melibatkan sejumlah negara Uni Eropa, Inggris, Norwegia, Islandia, dan Turki.
- 72 jam berikutnya: Jika eskalasi berlanjut, akan diaktifkan mekanisme koordinasi militer yang melibatkan Amerika Serikat.
Skema ini dirancang untuk meningkatkan efek gentar dan mencegah Rusia secara sepihak merusak kesepakatan.
Namun, Rusia tetap bersikukuh menuntut Ukraina menyerahkan seluruh wilayah Donbas, tuntutan yang secara tegas ditolak Kyiv. Kementerian Luar Negeri Rusia bahkan memperingatkan bahwa kehadiran pasukan atau fasilitas militer asing di Ukraina akan dianggap sebagai campur tangan langsung dan menjadi target sah militer Rusia.
Putin Menyetujui Permintaan Trump, Lalu Melanggar Janji
Pada 29 Januari, Donald Trump mengungkapkan bahwa Ukraina tengah menghadapi gelombang dingin ekstrem, dan dia secara pribadi meminta Vladimir Putin untuk menahan serangan terhadap Kyiv dan kota-kota besar lainnya selama satu minggu. Permintaan itu, menurut Trump, disetujui Putin.
Namun kenyataan di lapangan berkata lain.
Serangan Terbesar Musim Dingin (2–3 Februari)
Pada malam 2 Februari hingga dini hari 3 Februari, Rusia melancarkan serangan udara terbesar sepanjang musim dingin ini. Menurut laporan Angkatan Udara Ukraina, Rusia menembakkan:
- 71 rudal, dan
- 450 drone, termasuk hampir 300 drone Shahed.
Serangan tersebut memicu pemadaman listrik dan sistem pemanas di berbagai wilayah, menyebabkan ratusan ribu warga terdampak di tengah suhu ekstrem yang turun hingga di bawah minus 20 derajat Celsius.
Ironisnya, alarm serangan udara di Kyiv dibunyikan tepat pada 3 Februari, saat Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte tengah melakukan kunjungan resmi ke ibu kota Ukraina.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy, pada 3 Februari, menyatakan bahwa Kyiv menunggu respons tegas Amerika Serikat, seraya menegaskan bahwa penghentian serangan terhadap infrastruktur energi selama masa diplomasi adalah permintaan pribadi Presiden Trump.
Rutte menilai tindakan Moskow menunjukkan bahwa Rusia tidak sungguh-sungguh menginginkan perdamaian. Sikap serupa disampaikan Presiden Komisi Eropa, Ursula von der Leyen, yang menegaskan persatuan Eropa dalam menghadapi agresi Rusia.
Perkembangan Militer: Dari Starlink hingga Ruang Angkasa
Di medan perang, Ukraina melaporkan keberhasilan menembak jatuh helikopter Mi-35 Rusia serta melancarkan serangan drone terhadap jalur logistik musuh. Rusia, di sisi lain, terpantau mengonsentrasikan drone di sekitar Kyiv dan Ukraina barat, mengindikasikan persiapan serangan lanjutan.
Ukraina juga mulai menerapkan sistem whitelist terminal Starlink, sehingga perangkat yang tidak terverifikasi tidak dapat digunakan. Langkah ini dinilai berpotensi melumpuhkan operasi drone Rusia secara signifikan.
Pada 3 Februari, Jerman mengumumkan investasi sekitar 35 miliar euro untuk membangun jaringan satelit militer orbit rendah yang mencakup lebih dari 100 satelit, guna komunikasi aman dan sistem peringatan dini rudal. Militer Jerman menegaskan bahwa perang Rusia–Ukraina telah membuktikan ruang angkasa kini menjadi medan tempur strategis baru.
Tekanan AS Meningkat: Tomahawk hingga Sanksi Energi
Pada 3 Februari, Senator AS, Lindsey Graham menyatakan bahwa strategi diplomatik untuk menekan Putin telah gagal. Dia mendesak Trump agar segera mengirimkan rudal jelajah Tomahawk ke Ukraina, yang menurutnya dapat mengubah keseimbangan perang secara drastis.
Graham juga mendukung kebijakan tarif Trump terhadap India, yang berdampak langsung pada penurunan tajam pembelian minyak Rusia. Tekanan ekonomi ini dinilai dapat mempercepat berakhirnya perang, sembari memperingatkan bahwa negosiasi yang “memberi hadiah pada agresi” akan membawa bencana global.
Krisis Nuklir dan Ancaman Tanpa Batas
Situasi semakin genting karena Perjanjian New START (2010) akan berakhir pada 5 Februari. Jika tidak diperpanjang, untuk pertama kalinya dalam beberapa dekade AS dan Rusia tidak lagi dibatasi jumlah senjata nuklir strategis.
Wakil Menteri Luar Negeri Rusia, Sergei Ryabkov, menyatakan di Beijing bahwa Moskow siap menghadapi realitas tanpa pembatasan senjata nuklir, bahkan memperingatkan akan mengambil langkah militer jika AS menempatkan sistem pertahanan rudal di Greenland.
Pergeseran Global: Korea Utara, Panama, dan Krisis PBB
Di Asia Timur, Korea Utara merilis kalender resmi 2026 yang memuat hadiah dari pemimpin dunia. Menariknya, hadiah dari Putin tercantum dua kali, sementara tidak ada satu pun hadiah dari Xi Jinping, kecuali catatan lama tahun 1991 untuk Kim Il-sung. Analis menilai ini sebagai sinyal pergeseran orientasi Pyongyang ke Moskow.
Di belahan lain, perusahaan Eropa mengambil alih pengelolaan pelabuhan strategis di sekitar Terusan Panama, langkah yang dipandang menghancurkan ambisi geopolitik Partai Komunis Tiongkok di kawasan tersebut.
Sementara itu, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menghadapi krisis keuangan serius akibat tunggakan iuran negara anggota, menambah ketidakstabilan global di tengah eskalasi konflik.
Penutup: Dunia Berubah Cepat, Kepastian Makin Langka
Rangkaian peristiwa ini menunjukkan bahwa tatanan dunia tengah direstrukturisasi secara besar-besaran—dari perang konvensional, tekanan ekonomi, hingga ancaman nuklir dan militerisasi ruang angkasa. Di tengah ketidakpastian global yang kian tajam, satu hal yang semakin jelas: stabilitas internasional kini berada pada titik paling rapuh dalam beberapa dekade terakhir.




