Tragedi Siswa SD di NTT Bunuh Diri karena Orang Tua Tak Mampu Beli Buku dan Pena, Alarm Keras Bagi Negara

rctiplus.com
3 jam lalu
Cover Berita

Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian menilai, tragedi siswa SD kelas IV yang memilih mengakhiri hidup lantaran orang tua tak mampu membeli buku dan pena, bukanlah sekedar kabar duka. Baginya, tragedi itu merupakan alarm keras negara untuk memperhatikan rakyat kecil.

"Tragedi ini bukan sekadar kabar duka, melainkan alarm keras bagi negara dan masyarakat. Peristiwa yang sangat menyayat hati dan tidak bisa diterima di negara mana pun," ujar Hetifah saat dihubungi, Rabu (4/2/2026).

Hetifa menegaskan, anak berumur 10 tahun harusnya mendapat perlindungan dan bantuan dari negara, bukan mengakhiri hidup karena putus asa orang tua tak mampu membeli buku dan pena. Dari tragedi ini, Hetifah menilai, perlu koreksi kebijakan sistem pendidikan dan perlindungan sosial.

Baca juga: Mendikdasmen Buka Suara soal Siswa SD Bunuh Diri Tak Mampu Beli Pena: Kita Selidiki

"Kasus ini menunjukkan, bahwa sangat penting bagi kita, untuk mengoreksi sistem pendidikan, perlindungan sosial, dan kepedulian lingkungan sekitar," ujar Hetifah.Hetifah menegaskan, pendidikan dasar seharusnya gratis dan inklusif, tanpa membebani anak dari keluarga miskin. Untuk itu, ia menikai, sistem pendidikan di tanah air harus menjamin sekolah tanpa biaya, termasuk alat belajar.

"Ke depan, sistem pendidikan harus benar-benar menjamin sekolah dasar gratis termasuk perlengkapan belajar. Perlindungan sosial harus aktif dan tepat sasaran bagi keluarga rentan tanpa menunggu tragedi terjadi," tegas Hetifah.

"Kepedulian sosial juga wajib dibangun kuat di sekolah dan masyarakat agar setiap anak yang kesulitan segera dibantu dan tidak pernah merasa sendirian menghadapi kemiskinan," pungkasnya.

Lihat video: Mendikdasmen Ungkap 19 Sekolah di Sumut Belajar Pakai TendaSeperti diketahui, seorang siswa kelas IV SD di Ngada, NTT berinisial YBS (10), ditemukan meninggal dunia dalam kondisi gantung diri, Kamis, 29 Januari 2026.

Korban ditemukan tergantung di pohon cengkeh yang berada tidak jauh dari pondok sederhana tempat dia tinggal bersama neneknya di Dusun Sawasina, Desa Naruwolo, Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT.Informasi diperoleh, kejadian siswa SD gantung diri di Ngada ini pertama kali diketahui warga sekitar yang kemudian melaporkannya kepada polisi. Dalam proses olah tempat kejadian perkara (TKP), anggota Polres Ngada menemukan sepucuk surat tulisan tangan yang diduga ditulis korban sebelum meninggal dunia. Surat tersebut ditemukan di sekitar lokasi kejadian.

Surat itu ditujukan kepada sang ibu dan ditulis menggunakan bahasa daerah Ngada. Di bagian akhir surat, korban juga menggambar simbol wajah menangis.

Isi surat tersebut antara lain menyebutkan permintaan agar sang ibu tidak menangis dan merelakan kepergiannya. Surat itu memperkuat dugaan bahwa korban mengakhiri hidupnya dengan sadar.

Original Article


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Rapper Jay-Z Disebut 95 Kali di Epstein Files, Pernah Culik Wanita Bersama Harvey Weinstein
• 20 jam laludisway.id
thumb
Kemensos Catat 37 Kejadian Bencana di Awal 2026, Banjir Masih Jadi Ancaman Utama
• 22 jam lalusuara.com
thumb
Ini yang Harus Dilakukan Pemilik Sertifikat Tanah Girik, Petok Hingga Letter C Tahun 1967-1997 yang Tak Berlaku Lagi Sejak 2 Februari 2026
• 5 jam lalutvonenews.com
thumb
KPK Telusuri Aset Ridwan Kamil yang Belum Dilaporkan ke LHKPN
• 14 jam lalurctiplus.com
thumb
Festival Rujak Uleg dan Surabaya Vaganza Masuk Event Kementerian Pariwisata 2026
• 6 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.