Bisnis.com, JAKARTA — PT Krakatau Steel Tbk. (KRAS) blak-blakan mengungkap manuver produsen baja China yang menggempur pasar Indonesia, tak hanya lewat produk impor, tetapi juga relokasi pabrik ke dalam negeri.
Direktur Utama KRAS Akbar Djohan mengatakan, kondisi tersebut membuat industri baja nasional sulit bersaing hingga akhirnya beberapa perusahaan memilih untuk gulung tikar.
Baru-baru ini, perusahaan patungan antara Krakatau Steel dengan perusahaan Jepang, Osaka Steel mengumumkan penutupan operasional pada April 2026.
"Sebelumnya, kurang lebih Oktober lalu, juga terjadi penutupan pabrik long product di Surabaya, Jawa Timur Ispat Indo, ini merupakan milik daripada raja baja di dunia yaitu Metal Steel Group," kata Akbar dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi VI DPR RI, Rabu (4/2/2026).
Setelah ditelusuri, dua perusahaan yang memproduksi long product baja, termasuk besi ulir, besi polos, hingga channel itu kalah bersaing dengan produk-produk impor China yang jauh lebih murah.
Kondisi ini pun disayangkan lantaran Indonesia banyak memiliki proyek strategis nasional (PSN) yang dapat menjadi momentum pemanfaatan produk baja lokal.
Baca Juga
- Osaka Steel Hengkang dari RI, Tutup Perusahaan Patungan dengan KRAS
- Osaka Steel Hengkang, KRAS Ungkap Kondisi Pasar Besi Beton yang Tertekan
- Baja RI Kalah Saing dengan Produk Impor, Ini Biang Keroknya
"China bukan lagi hanya mengimpor barangnya tapi melakukan relokasi pabrik China di Indonesia yang sudah berlangsung 10-12 tahun sebelumnya," tuturnya.
Kehadiran produsen China di Indonesia disebut menggunakan teknologi induction furnace yang merupakan alat peleburan logam menggunakan energi listrik.
"Induction furnace juga ada hubungannya dengan mengimpor scrap yang tercemar nuklir [Cesium-137] jadi dampaknya ke mana-mana. Dengan RDP ini kita patut bersama untuk melakukan transformasi tata niaga impor bisa kita lakukan," terangnya.
Sebelumnya, The Indonesian Iron and Steel Association (IISIA) menyebut gelombang penutupan operasional pabrik baja telah terlihat sejak tahun lalu. Awal tahun ini, usaha patungan Osaka Steel Ltd. dengan PT Krakatau Steel (Persero), PT Krakatau Osaka Steel juga tak bisa bertahan.
Direktur Eksekutif IISIA Harry Warganegara mengatakan, fenomena yang dialami KOS bukan kasus yang berdiri sendiri. Pasalnya, beberapa perusahaan baja nasional juga menghadapi tekanan yang relatif serupa.
“Salah satu contohnya adalah PT Ispat Indo, yang memiliki kapasitas produksi sekitar 700.000 ton per tahun dan menyerap kurang lebih 700 tenaga kerja, yang secara resmi menghentikan operasional pabriknya pada 25 Agustus 2025,” kata Harry kepada Bisnis, Jumat (30/1/2026).
Dia menerangkan bahwa penyebab kondisi ini tak lain karena pelemahan pasar baja domestik, yang dipengaruhi oleh menurunnya permintaan serta masuknya produk baja impor dengan harga murah.


