Bisnis.com, JAKARTA — Kadin Indonesia mewanti-wanti gejolak harga sejumlah pangan strategis seperti beras, daging, ikan, hingga cabai menjelang Ramadan dan Lebaran 2026. Hal ini sejalan dengan adanya potensi lonjakan permintaan yang meningkat pada momentum tersebut.
Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang mengatakan permintaan akan mengalami kenaikan tiga hingga empat lipat dari hari biasannya untuk keperluan keluarga maupun katering, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Lonjakan permintaan ini harus di barengi dengan ketersediaan stok yang berlimpah guna menjaga psikologi pasar sehingga antara demand dan supply ada seimbang sehingga harga harga terjaga dan terjangkau oleh masyarakat,” kata Sarman dalam keterangan tertulis, Selasa (3/2/206).
Menurutnya, perlu ada koordinasi antara Kementerian Pertanian (Kementan) dan Kementerian Perdagangan (Kemendag) dalam hal transparansi data stok pangan. Dia menyebut ketersediaan stok di lapangan dan gudang harus terjamin agar gejolak harga pangan bisa dihindari saat permintaan meningkat.
Sarman menambahkan, jika muncul isu keterbatasan salah satu bahan pokok, respons pasar akan negatif dan harga bisa melambung. Oleh karena itu, perhitungan stok harus matang dan berdasarkan data akurat, sehingga pasokan selalu siap memenuhi setiap permintaan pasar.
Di sisi lain, Sarman juga menyampaikan adanya program makan bergizi gratis (MBG) yang kini menjangkau lebih dari 60 juta penerima manfaat.
Baca Juga
- Duh! Harga Beras Kompak Naik di Penggilingan & Eceran Jelang Ramadan
- Bapanas Proyeksi Stok Beras Surplus 14,5 Juta Ton hingga Maret 2026
- Kemendag Waswas Dampak Cuaca Ekstrem ke Distribusi & Harga Pangan
Sebagai gambaran, dia merincikan bahwa kebutuhan daging ayam untuk satu dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) mencapai 200–350 kilogram per hari, daging sapi 20–25 kilogram, dan telur 1.500–3.000 butir setiap hari.
“Bisa dibayangkan jika permintaan meningkat menjelang bulan puasa dan Idulfitri, maka persediaan harus dipastikan mencukupi. Jika tidak, gejolak harga akan terjadi,” tuturnya.
Menurutnya, pemerintah harus mengantisipasi kebutuhan pokok pangan menjelang bulan puasa dan Idulfitri, lantaran situasinya yang berbeda dibanding tahun lalu.
Dia menjelaskan ketersediaan bahan pokok seperti daging sapi dan ayam, gula, bawang, telur, dan minyak goreng berpotensi bergejolak jika pasokan tersendat. Selain itu, stok pangan juga perlu diperiksa, begitu pula dengan jalur distribusi yang harus tepat waktu.
Di samping itu, sambung dia, pemerintah juga perlu melaksanakan operasi pasar dua pekan sebelum perayaan Idulfitri untuk menjaga harga tetap terjangkau dan meyakini pasokan pangan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Sarman menilai, dengan terpenuhinya berbagai kebutuhan pokok, maka konsumsi rumah tangga diperkirakan akan tumbuh positif.
“Dan pada akhirnya akan dapat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi di kuartal I/2026 yang diharapkan di angka 5% lebih,” pungkasnya.



