Bisnis.com, JAKARTA — PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mengungkapkan sejumlah strategi untuk menutup kekurangan produksi minyak 2 juta barel dari Blok Rokan imbas kebocoran pipa gas milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI).
Adapun, pipa gas yang berlokasi di Desa Batu Ampar, Kecamatan Kemuning, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau itu bocor disertai semburan api pada 2 Januari 2026. Kebocoran pipa itu menyebabkan produksi minyak dari Blok Rokan hilang 2 juta barel lantaran mesin-mesin pompa angguk tak bisa beroperasi optimal.
Direktur Manajemen Risiko PHE Whisnu Bahriansyah menjelaskan, kebocoran pipa membuat pasokan gas untuk pembangkit listrik dan uap injeksi WK Rokan berkurang. Hal itu pun berimbas pada penurunan produksi.
Oleh karena itu, PHE melalui PT Pertamina Hulu Rokan (PHR) harus memutar otak. Untuk jangka pendek pihaknya mengambil sumber gas dari tempat lain.
"Itu bisa mengurangi kekurangan produksi. Maksudnya harusnya kurangnya banyak, jadi kurangnya tak sebanyak itu. Ini berdampak pada penurunan produksi. Yang kami lakukan secara jangka pendek mengalihkan ke sumber lain," tutur Whisnu dalam acara DETalk yang disiarkan secara daring, Rabu (4/2/2026).
Sementara untuk jangka menengah, PHR menyiapkan sumber listrik alternatif, baik dari internal maupun eksternal.
"Supaya kalau terjadi lagi di belakang hari dampaknya tak sebesar sekarang karena kita punya alternatif suplai listrik untuk mempertahankan produksi," jelasnya.
Dalam kesempatan yang sama, Deputi Eksplorasi, Pengembangan, dan Manajemen Wilayah Kerja SKK Migas Rikky Rahmat Firdaus menuturkan, kebocoran pipa itu tak hanya berdampak pada produksi minyak PHR. Menurutnya, terdapat delapan hingga sembilan kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) lain yang ikut terdampak.
"Ada 8-9 KKKS di Provinsi Riau yang mengalami kendala produksi. Selain itu, pemasok gas utama Sumatra Selatan juga berdampak karena tak bisa mengalirkan," ucapnya.
Oleh karena itu, pihaknya meminta KKKS untuk meningkatkan kegiatan sumur eksplorasi. Dia menuturkan pada work program and budget (WP&B) 2026, KKKS mengusulkan 39 kegiatan eksplorasi.
Rikky pun mengungkapkan, kini sudah ada tambahan 13 kegiatan sumur eksplorasi. Kendati demikian, pihaknya meminta tambahan ditingkatkan lagi hingga 48. Dengan begitu, total kegiatan sumur eksplorasi tahun ini bisa mencapai 100.
"Arahan bapak kepala supaya penambahan rencana kegiatan dari sumur-sumur eksplorasi yang ada di fasilitas produksi terdekat," ucap Rikky.
Di samping itu, dia juga meminta KKKS segara mengeksekusi sumur-sumur yang telah ditemukan sejak tahun-tahun sebelumnya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan produksi minyak dari Blok Rokan hilang 2 juta barel buntut kebocoran pipa gas milik PT TGI.
Bahlil mengatakan kebocoran gas itu turut mengganggu kegiatan operasional minyak dan gas bumi (migas) di Blok Rokan. Padahal, pemerintah tengah mengejar target lifting minyak sebesar 610.000 barel per hari (bph) pada 2026 ini.
"Bahwa kita di awal tahun ini mengalami ada sedikit musibah kecil di Sumatra, pipa kita bocor, yang kehilangan potensi lost 2 juta barel di awal tahun," ucap Bahlil dalam Rapat Kerja bersama Komisi XII DPR RI, Kamis (22/1/2026).
Kendati demikian, Bahlil berjanji bakal membuat perhitungan. Dia mengatakan, bakal memberikan sanksi kepada pejabat Kementerian ESDM yang bertanggung jawab.
Menurunya, meski kebocoran pipa gas itu kecelakaan, tapi tetap saja ada unsur kelalaian.
"Saya akan langsung berikan sanksi pada pejabat di ESDM dan di BUMN terkait karena ini saya anggap, betul kecelakaan, tapi ada ketidak ikhtiaran dari kami. Apapun itu kesalahan kami," ucap Bahlil.
Baca Juga
- Produksi Blok Rokan Sempat Lumpuh, PHR Andalkan Solar untuk Pompa Minyak
- Produksi Minyak Rokan Hilang 2 Juta Barel Imbas Kebocoran Pipa Gas TGI
- Insiden Pipa Gas Bocor di Riau Mengancam Lifting Minyak Nasional





