Panggilan Moral dalam Realitas Ekonomi: Pengabdian Guru Menjadi Beban Struktural

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Di Indonesia, guru sering dipuji sebagai "pahlawan tanpa tanda jasa". Sebuah frasa yang terdengar mulia, tetapi menyimpan persoalan serius. Di balik pujian itu, tersembunyi ekspektasi ta tertulis; guru harus selalu kuat, sabar, dan ikhlas—apa pun kondisi material yang mereka hadapi.

Di titik inilah panggilan moral bergeser makna. Tidak lagi sekadar nilai luhur, tetapi berubah menjadi mekanisme sosial yang membebani satu profesi secara tidak adil.

Ideologi Pengabdian Menjadi Normalisasi Ketimpangan

Antonio Gramsci menjelaskan bahwa ketimpangan sering bertahan bukan karena paksaan langsung, melainkan karena hegemoni—ketika nilai tertentu diterima sebagai kewajaran bersama (Gramsci, 1971).

Narasi "mengajar adalah ibadah" membentuk kesadaran kolektif bahwa menuntut kesejahteraan adalah sesuatu yang memalukan. Tanpa disadari, guru ikut mereproduksi ideologi yang justru melemahkan posisi tawarnya sendiri.

Ketimpangan tidak diprotes karena sudah dianggap bagian dari kodrat profesi.

Kekerasan Simbolik Menjadi Rasa Bersalah yang Ditanamkan

Konsep Symbolic Violence Pierre Bourdieu menjadi relevan. Kekerasan simbolik bekerja ketika kelompok yang dirugikan menerima ketidakadilan sebagai hal yang sah dan wajar (Bourdieu, 1991).

Guru yang mempertanyakan honor sering dicap kurang ikhlas. Guru yang lelah dianggap kurang panggilan jiwa. Rasa bersalah ditanamkan bukan oleh ancaman, melainkan oleh bahasa moral.

Akibatnya, banyak guru memilih diam—bukan karena tidak sadar, tetapi karena takut dianggap tidak bermoral.

Profesionalisme yang "Dipreteli" Maknanya

Eliot Freidson dalam teori profesi menegaskan bahwa, profesionalisme adalah kontrak sosial: masyarakat memberi penghormatan dan kesejahteraan, profesional memberi layanan berkualitas (Freidson, 2001).

Di Indonesia dalam praktik pendidikan, kontrak ini timpang. Guru diminta profesional dalam tanggung jawab, tetapi tidak diperlakukan profesional dalam jaminan hidup. Profesionalisme direduksi menjadi kepatuhan administratif, bukan otonomi dan kesejahteraan.

Ini bukan profesionalisme, melainkan disiplin terselubung.

Guru Honorer dalam Logika Kapitalisme Pendidikan

Kondisi guru honorer mencerminkan apa yang disebut Guy Standing sebagai precariat—kelas pekerja baru yang hidup tanpa kepastian ekonomi dan perlindungan sosial (Standing, 2011).

Ironisnya, pendidikan—yang seharusnya melawan ketimpangan—justru mereproduksi logika pasar: efisiensi, kontrak jangka pendek, dan fleksibilitas tenaga kerja. Guru diperlakukan sebagai sumber daya yang bisa diganti, bukan subjek pendidikan.

Ketika pendidikan tunduk pada logika ekonomi semata, nilai kemanusiaan guru menjadi korban pertama.

Kelelahan Guru karena Alienasi

Karl Marx menjelaskan alienasi sebagai kondisi ketika pekerja terpisah dari makna pekerjaannya sendiri. Dalam konteks guru, alienasi terjadi ketika mengajar tidak lagi dirasakan sebagai aktivitas bermakna, melainkan rutinitas hidup (Marx, 1844).

Administrasi berlebihan, target kinerja yang kaku, dan tekanan ekonomi membuat guru menjauh dari esensi mendidik. Mereka hadir di kelas, tetapi secara emosional terkuras.

Akhirnya, kebutuhan dasar menjadi batas idealisme.

Moslow menempatkan keamanan ekonomi sebagai fondasi sebelum aktualisasi diri. Pendidikan sering menuntut guru berada di puncak idealisme, sementara fondasi kehidupannya rapuh (Moslow, 1943).

Ini bukan kegagalan individu, melainkan kegagalan struktural. Tidak ada idealisme yang bisa bertahan lama jika kebutuhan dasar terus diabaikan.

Menuntut pengabdian tanpa jaminan hidup adalah bentuk eksploitasi yang dibungkus moralitas.

Pendidikan Kritis Mustahil Tanpa Guru yang Berdaulat

Pendidikan dalam pandangan Paulo Freire, pendidikan pembebasan hanya mungkin jika pendidiknya juga merdeka—secara berpikir dan secara sosial-ekonomi (Freire, 1970).

Guru yang hidup dalam ketakutan kehilangan pekerjaan atau penghasilan akan sulit mengajarkan keberanian berpikir kritis. Pendidikan yang membungkam kesejahteraan guru secara perlahan juga membungkam kesadaran siswa.

Mengakhiri Romantisasi dengan Memulai Kejujuran

Pengabdian guru selama ini menutup kegagalan negara dan sistem dalam menjamin keadilan profesi. Pujian moral tidak boleh lagi menggantikan kebijakan yang berpihak.

Menghormati guru bukan dengan meminta mereka terus mengalah, tetapi dengan memastikan mereka hidup layak, aman, dan bermartabat. Karena pendidikan yang dibangun di atas pengorbanan sepihak, pada akhirnya akan runtuh dari dalam.

Jika guru terus diminta ikhlas, sementara sistem terus abai, maka yang sedang kita rawat bukan pendidikan—melainkan ketimpangan.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Angin Kencang Porak-porandakan 14 Rumah di Bulukumba
• 23 jam laluharianfajar
thumb
7 Rekomendasi Televisi untuk Keluarga di Tahun 2026
• 5 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Bapanas Pastikan Neraca Pangan Surplus Jelang Ramadhan dan Idul Fitri 2026
• 5 jam laludisway.id
thumb
Kapal Tanker AS Didekati Kapal Perang Iran di Selat Hormuz
• 2 jam laluerabaru.net
thumb
Bakal Saingi Nvidia, Intel Akan Fokus Bangun GPU
• 14 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.