EtIndonesia. Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali meningkat tajam hanya beberapa hari menjelang jadwal perundingan yang semula direncanakan berlangsung pada Jumat, 6 Februari 2026, di Turki. Rangkaian insiden militer, manuver diplomatik mendadak, hingga laporan ledakan di ibu kota Iran mempertegas rapuhnya situasi keamanan kawasan Timur Tengah.
Perundingan Dijadwalkan, Format Mendadak Diubah
Sebelumnya, kedua negara dikabarkan siap melanjutkan pembicaraan nuklir di Istanbul, dengan melibatkan perwakilan Mesir, Arab Saudi, serta sejumlah negara Timur Tengah lain sebagai pihak pendukung. Namun, menurut laporan Reuters, Iran secara tiba-tiba meminta perubahan signifikan.
Teheran mengusulkan agar lokasi perundingan dipindahkan ke Oman, sekaligus mengubah format pembahasan menjadi murni bilateral—hanya antara Iran dan Amerika Serikat—dengan fokus terbatas pada isu nuklir. Permintaan ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan militer di laut, yang dinilai banyak pengamat sebagai sinyal tarik-ulur strategi Iran.
Insiden Selat Hormuz: Kapal Pesiar AS Dikejar
Pada awal Februari 2026, enam kapal patroli milik Garda Revolusi Iran dilaporkan bertindak agresif di Selat Hormuz, mencoba menahan sebuah kapal pesiar berbendera Amerika Serikat. Kapal Iran memerintahkan kapal tersebut untuk berhenti, namun kapal pesiar justru meningkatkan kecepatan.
Setelah pengejaran singkat, kapal-kapal Iran menghentikan aksinya. Kapal pesiar itu kemudian bertemu dengan kapal Angkatan Laut AS dan dikawal hingga tiba dengan aman di Bahrain. Insiden ini menambah daftar panjang konfrontasi berisiko tinggi di jalur pelayaran paling vital dunia tersebut.
Drone Iran Ditembak Jatuh di Laut Arab
Ketegangan meningkat lebih jauh pada 3 Februari 2026, ketika militer AS menembak jatuh sebuah drone Iran yang bertindak agresif dan mendekati USS Abraham Lincoln di Laut Arab. Saat itu, kapal induk AS tersebut berlayar sekitar 500 mil dari pantai selatan Iran.
Drone tersebut ditembak jatuh oleh jet tempur F-35 yang lepas landas dari USS Abraham Lincoln. Tak lama berselang, Iran dilaporkan mengirimkan drone kedua untuk memantau kapal induk tersebut. Menurut laporan yang belum sepenuhnya dikonfirmasi, drone kedua itu juga berhasil ditembak jatuh oleh militer AS.
Manuver Militer AS dan Rusia
Di tengah memanasnya situasi, Amerika Serikat menarik Kelompok Tempur Kapal Induk Lincoln ke Teluk Aden, sekitar 1.400 kilometer dari Iran, tepat ketika proses diplomasi AS–Iran mulai berjalan. Langkah ini dipandang sebagai sinyal tekanan militer sekaligus upaya menjaga fleksibilitas operasional.
Sementara itu, di Teheran, Iran pada hari yang sama mengumumkan penerbangan perdana jet tempur MiG-28 Rusia yang baru dibeli—sebuah demonstrasi kekuatan yang dinilai sarat pesan politik di tengah ketegangan dengan Washington.
Gedung Putih: “Semua Opsi Ada di Meja”
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt mengonfirmasi insiden penembakan drone dan menegaskan bahwa Presiden Donald Trump selalu memiliki berbagai opsi, termasuk penggunaan kekuatan militer. Dia menyebut Iran memahami risiko tersebut, seraya merujuk pada preseden Operasi Midnight Hammer sebagai contoh nyata.
Trump tetap bersikukuh bahwa Iran harus memenuhi empat tuntutan utama dalam perundingan 6 Februari:
- Menghentikan seluruh program nuklir
- Mengakhiri pengembangan rudal balistik
- Menghentikan pendanaan terhadap seluruh kelompok proksi
- Memperlakukan demonstran anti-pemerintah secara adil
Israel Dorong Kebebasan Bertindak Militer
Menurut laporan Channel 14, Israel terus memperingatkan Washington bahwa Iran tidak akan secara sukarela membongkar program nuklir maupun kemampuan misilnya. Penundaan perundingan dinilai sebagai upaya Teheran memindahkan senjata ofensif ke lokasi yang lebih aman.
Pada hari yang sama, Perdana Menteri Israel, Menteri Pertahanan, Kepala Staf Angkatan Bersenjata Letnan Jenderal Eyal Zamir, serta Kepala Mossad menggelar pertemuan tertutup selama tiga jam dengan utusan khusus AS, Steve Witkoff. Dalam pertemuan itu, pihak Israel memaparkan intelijen terbaru mengenai ancaman Iran dan menyatakan keyakinan bahwa Trump tengah membuka jalan bagi kemungkinan serangan besar terhadap Teheran.
Ledakan dan Kebakaran di Teheran
Di tengah tekanan eksternal, situasi domestik Iran juga bergejolak. Pada hari ini, sejumlah ledakan dilaporkan terjadi di wilayah barat Teheran, disusul kebakaran besar di Pasar Zanat. Asap hitam tebal menyelimuti sebagian kota, memicu kepanikan warga dan memperkuat spekulasi tentang kerentanan stabilitas internal Iran.
Sumber-sumber regional menyebutkan bahwa pimpinan Iran kini berada dalam kondisi tertekan, khawatir serangan AS dapat memicu kemarahan publik dan mendorong gelombang protes anti-pemerintah kembali merebak.
Analisis: Mengapa Iran Tetap Memprovokasi?
Meski menyadari kesenjangan kekuatan militer dengan Amerika Serikat, Iran tampaknya sengaja memainkan strategi provokasi terkendali. Tujuannya dinilai berlapis: meningkatkan posisi tawar menjelang perundingan, menguji batas respons AS, sekaligus menunjukkan ketegasan kepada publik domestik dan sekutu regional.
Namun, dengan meningkatnya insiden bersenjata, pengerahan militer, dan tekanan diplomatik, ruang kesalahan semakin menyempit. Satu langkah keliru berpotensi mengubah ketegangan ini menjadi konflik terbuka—sebuah risiko yang kini menghantui seluruh kawasan.





