JAKARTA, DISWAY.ID-- Menteri Kesehatan RI, Budi Gunadi Sadikin buka suara terkait kasus bunuh diri anak SD di NTT dikarenakan tidak mampu beli alat tulis dan buku.
Menkes Budi mengaku sudah mendegar kabar tersebut dan mengambil langkah penanggulangan serta pencegahan kasus bunuh diri pada anak dengan menerjunkan psikolog klinis di puskesmas.
BACA JUGA:Mengapa Banyak Pemain Naturalisasi Timnas Merapat ke Persija? Ini Jawaban Souza
BACA JUGA:Mauro Zijlstra Resmi Gabung Persija, Ini Komentar Mauricio Souza
Sehingga, kata Menkes, seseorang yang sudah terdiagnosa gangguan jiwa bisa langsung ditangani di puskesmas dan tidak langsung ke Rumah Sakit Jiwa (RSJ).
"Sekarang saya mau menyiapkan ada psikologi klinis di masing-masing Puskesmas. Supaya penyakit-penyakit jiwa itu enggak masuk rumah sakit jiwa, tapi bisa ditangani di Puskesmas," ujar Menkes Budi ditemui South Quarter Jakarta Selatan, Rabu 4 Februari 2026.
Lebih lanjut, Menkes Budi memaparkan data gangguan jiwa pada anak dari program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Hasilnya, ditemukan sebanyak 10 juta anak yang berpotendi terkena gangguan jiwa.
"Kesehatan mental anak memang kita sudah screening, kita nemu ada 10 juta (anak yang berisiko)" ucap Menkes.
BACA JUGA:Beredar Foto-Foto Denada dan Ressa Kecil Jalan-Jalan ke Luar Negeri, Fakta Diungkap Sang Adik
BACA JUGA:PTPN IV PalmCo Raup USD 10.5 Juta dari Penjualan CPO Bersertifikasi RSPO
"Kan baru mulaipenyaringan-nya. Sebelumnya kan enggak, kita enggak tahu ada masalah kejiwaan pada anak. Sekarang sudah tahu ada 10 juta," sambungnya.
Oleh karena itu, Menkes Budi Gunadi ikut mengambil langkah preventif dengan menerjunkan psikolog klinis di puskesmas dan di sekolah.
Langkah ini diambil agar bisa mendeteksi serta mengobati gangguan jiwa pada anak.
"Nah, itu harus ditangani dengan menaruh psikologi klinis di Puskesmas, kerja sama dengan sekolah, supaya bisa diobati secara preventif, promotif," tutur Menkes.




