Dalam film tersebut, Ayu memerankan karakter Tante Yeni. Ia mengaku pengalaman memerankan karakter ini sangat berbeda dari proyek-proyek sebelumnya karena skala produksi dan interaksi yang intens dengan banyak pemain.
Ayu merasa bahwa setiap adegan dan dialog memberi ruang belajar baru baginya. Tantangan itu membuatnya semakin bersemangat menjalani peran ini.
“Saya pengalaman pertama bermain film yang orangnya banyak sekali. Dalam artian beberapa film sebelumnya memang orangnya banyak, cuma kalau yang berkaitan langsung dialog dan peristiwanya bersamaan ini adalah pengalaman pertama. Jadi setiap peran adalah ruang belajar baru buat saya,” ujarnya saat berada di Plaza Senayan, Jakarta Pusat pada Selasa (3/2/2026).
Ayu menjelaskan bahwa penampilannya juga berbeda dari proyek sebelumnya. Ia berharap bisa memenuhi harapan sutradara dan penulis dalam menghadirkan karakter Tante Yeni.
“Penampilan saya juga berbeda di sini dan itu satu hal yang buat saya adalah pengalaman baru dan moga-moga bisa memberi harapan, terutama keinginan sutradara dan penulis yang menciptakan karakter dari Tante Yeni. Semoga saya bisa memenuhi keinginan dari penulis untuk perwujudan dari karakter Tante Yeni,” tuturnya.
Di film ini, Ayu juga akan beradu akting dengan para aktris muda. Perbedaan generasi dan cara berpikir membuat proses ini terasa menantang.
“Sangat challenging dan sangat menantang karena kita berhadapan dengan anak-anak muda yang pikiran dasarnya seperti kekinian dan kita yang lahir dari generasi terdahulu harus mengejar ketinggalan,” ungkapnya.
Selain itu, wanita berusia 58 tahun ini menekankan pentingnya belajar toleransi. Ia merasa setiap pengalaman baru menjadi ruang belajar yang berharga, baik sebagai manusia maupun sebagai aktor.
“Harus banyak belajar sekaligus belajar toleransi. Baik sebagai manusia dan sebagai orang yang berperan begitu. Itu lumayan, lumayan menjadi ruang belajar yang baru buat saya,” jelasnya.
Di balik layar, Ayu juga menemukan dinamika unik antara generasi. Ia melihat bahwa komunikasi dan toleransi menjadi kunci dalam bekerja sama.
“Hal baru yang ditemukan di belakang layar banyak sekali, kalau dijelaskan mungkin enggak cukup waktunya. Jadi justru kadang renungannya seperti ini, saya sebagai orang tua yang harus toleransi atau anak muda yang harus toleransi kepada orang tua,” katanya.
“Kalau di zaman saya terdahulu kan anak muda yang toleransi. Nah ini kayaknya di zaman kekinian orang-orang yang lebih berusia juga harus rela untuk toleransi mengikuti kebiasaan anak-anak muda saat ini,” lanjutnya.
Ia menegaskan bahwa perbedaan generasi tidak menghalangi proses kreatif. Diskusi dan komunikasi menjadi cara terbaik untuk menyatukan perbedaan itu di set.
“Tapi mereka asyik dalam artian kadang-kadang bisa kok diseneni (dimarahi), bisa kok dikritik gitu loh dengan cara bercerita misalnya. Jadi segala perbedaan itu kita sampaikan dalam bentuk diskusi,” tutupnya.
Pengalaman ini membuat Ayu semakin menghargai dinamika dunia akting modern. Ia menyadari setiap proyek baru selalu menjadi kesempatan belajar dan memahami generasi berbeda.(*)
Artikel Asli




