GenPI.co - Lonjakan anjuran protein mencerminkan dilema baru dalam kebijakan gizi modern yang bisa memunculkan risiko salah kaprah pola makan sehat.
Protein merupakan makronutrien yang terdapat di setiap sel tubuh manusia.
Zat ini berperan penting dalam pertumbuhan dan perbaikan otot, tulang, kulit, rambut, organ, dan jaringan lainnya.
Selama beberapa dekade, pedoman diet Amerika Serikat merekomendasikan konsumsi 0,8 gram protein per kilogram berat badan per hari, sekitar 54 gram per hari untuk seseorang dengan berat 150 pon (68 kg).
Rekomendasi terbaru menaikkan angka tersebut menjadi 1,2-1,6 gram protein per kilogram berat badan per hari atau hingga dua kali lipat dari anjuran sebelumnya.
Panduan ini juga menyebutkan bahwa orang dewasa sebaiknya mengonsumsi setidaknya 100 gram protein per hari, dengan setengah atau lebih berasal dari sumber hewani.
Namun, ahli nutrisi mempertanyakan dorongan peningkatan konsumsi protein ini.
Orang AS disebut sudah mengonsumsi protein lebih dari cukup dan tidak ada bukti baru yang menunjukkan perlunya peningkatan drastis.
Bahkan, bagi banyak orang, konsumsi protein berlebih justru berpotensi meningkatkan lemak tubuh dan risiko diabetes.
Ahli nutrisi dari Universitas Tufts Dariush Mozaffarian mengatakan jika aktif membangun otot melalui latihan kekuatan atau angkat beban, tambahan protein memang bisa membantu.
"Jika tidak, kemungkinan besar kamu sudah mendapatkan cukup protein," ujarnya, dilansir AP News, Selasa (3/1).
Pedoman ini juga dinilai mempercepat tren industri makanan yang mendorong konsumsi protein tambahan dalam berbagai produk, mulai dari camilan, sereal, makanan ringan, hingga air minum.
Penjualan makanan kemasan yang diperkaya protein diperkirakan meningkat.
"Saya rasa ini akan sangat membingungkan masyarakat," katanya.
Dia mengatakan kelebihan protein bisa diubah menjadi lemak oleh hati.
Kondisi ini bisa meningkatkan penumpukan lemak berbahaya di sekitar organ vital dan menaikkan risiko diabetes. (*)
Simak video menarik berikut:





