Sebanyak 40 Juta Perempuan Indonesia Ditargetkan Menjalani Skrining Kanker Payudara

kompas.id
3 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS– Deteksi dini kanker payudara menjadi kunci keberhasilan penanganan penyakit tersebut. Namun, deteksi dini di Indonesia masih menghadapi tantangan akibat kurangnya kesadaran masyarakat. Selain itu sebagian besar kasus yang terdeteksi pun tidak melakukan pemeriksaan lanjutan.

Untuk itu deteksi dini kanker payudara pada perempuan diperluas melalui program cek kesehatan gratis (CKG). Pemeriksaan skrining kanker payudara dilakukan untuk seluruh perempuan usia 30 tahun ke atas. Pada tahun ini, ditargetkan 40 juta perempuan melakukan skrining tersebut.

Hal itu disampaikan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam acara peringatan Hari Kanker Sedunia 2026 di Jakarta, Rabu (4/2/2026). Dalam acara ini diluncurkan pula Rencana Aksi Nasional (RAN) Kanker Payudara.

“Kanker payudara merupakan pembunuh nomor satu akibat kanker pada perempuan di Indonesia. Kita telah mulai dengan cek kesehatan gratis untuk 280 juta rakyat Indonesia. Pada akhir tahun ditargetkan 40 juta perempuan lakukan skrining kanker payudara. Namun sekarang baru 4 juta yang lakukan skrining. Jadi, kita masih punya banyak pekerjaan rumah,” ujarnya.

Baca JugaKanker Payudara Tertinggi Sedari Dulu

Selain itu, persoalan lain yang dijumpai yakni rendahnya jumlah orang yang menjalani pemeriksaan lanjutan setelah terdeteksi adanya risiko kanker payudara.

Hasil cek kesehatan gratis (CKG) menunjukkan, dari sekitar 6.700 perempuan dengan kondisi abnormal payudara yang dirujuk untuk melakukan pemeriksaan lanjutan hanya 3.100 orang di antaranya yang datang ke rumah sakit. Dari jumlah itu, hampir separuhnya terdiagnosis kanker payudara.

Budi menegaskan, cakupan skrining kanker payudara harus diperluas. Melalui skrining, deteksi dini bisa dilakukan secara optimal tanpa harus menunggu saat kondisi sudah buruk.

Kanker payudara merupakan pembunuh nomor satu akibat kanker pada perempuan di Indonesia.

Sementara saat ini sebagian besar kanker payudara baru ditemukan di stadium lanjut. Padahal kanker pada stadium lanjut sulit diobati, membutuhkan biaya yang besar, serta memiliki angka harapan hidup yang rendah.

“Kanker itu bisa disembuhkan, asalnya diketahui, dideteksi (stadium) dini. Jadi tidak perlu takut melakukan pemeriksaan kanker. Segera datang ke fasilitas kesehatan karena pemerintah akan lengkapi semua alatnya agar deteksi dini bisa dilakukan dengan baik,” ungkapnya.

Untuk mendukung upaya tersebut, Budi menambahkan, pemerintah telah melengkapi alat Ultrasonografi (USG) di 10.000 puskesmas di seluruh Indonesia. Alat USG ini digunakan untuk mendeteksi adanya kelainan pada payudara yang menjadi salah satu indikasi kanker payudara.

Alat mamografi juga disediakan di setiap rumah sakit daerah di 514 kabupaten/ kota. “Mamografi ini bisa untuk skrining kanker payudara dan juga tatalaksana kanker,” tuturnya.

Meski begitu, ketersediaan alat kesehatan tersebut harus dipastikan dapat ditunjang dengan tenaga kesehatan dan tenaga medis yang kompeten. Persoalan ketersediaan tenaga kesehatan dan tenaga medis terkait kanker masih kurang.

Baca JugaKesintasan Kanker Payudara Rendah, Kejar 60 Persen Kasus Terdeteksi Dini
Baca JugaPasien Kanker Payudara Cenderung Menunda Perawatan karena Stigma dan Misinformasi

Oleh karena itu, ia berharap pembentukan pendidikan kedokteran berbasis rumah sakit bisa menjadi solusi atas permasalahan tersebut. Pendidikan ini akan dibuka untuk dokter dari daerah yang tidak memiliki dokter spesialis tertentu, termasuk spesialis kanker dengan dana pendidikan dari pemerintah.

Kesadaran

Secara terpisah, pendiri sekaligus Ketua Yayasan Kanker Payudara Indonesia (YKPI) Linda Agum Gumelar menyampaikan, data Globocan 2020 menunjukkan ada sekitar 66.000 kasus kanker payudara di Indonesia. Dari jumlah itu, 79 persen di antaranya meninggal dunia. Hal itu terjadi karena kanker baru ditemukan pada stadium akhir sehingga terlambat ditangani.

Menurut dia, deteksi dini kanker payudara yang masih rendah di Indonesia dipengaruhi oleh banyak faktor. Hal itu meliputi antara lain, adanya mitos-mitos yang masih dipercaya masyarakat. Tidak sedikit warga takut harus berakhir dengan kebotakan karena kemoterapi yang dijalankan.

Banyak juga perempuan yang takut dengan diagnosis kanker sehingga mereka pun menyangkal saat terdeteksi kanker payudara, terutama saat terdeteksi pada stadium awal. Akibatnya, mereka pun enggan berobat secara medis yang justru membuat kondisinya semakin memburuk.

Baca JugaKanker Payudara yang Melumpuhkan Kehidupan

“Masalah lain juga karena memang informasinya tidak sampai ke masyarakat. Karena itu, LSM-LSM (lembaga swadaya masyarakat) turun langsung ke masyarakat untuk melakukan edukasi mengenai pentingnya pemeriksaan dini lewat skrining,” ujar Linda.

Ia mengungkapkan, kolaborasi semua pihak amat diperlukan. Harapannya, adanya Rencana Aksi Nasional (RAN) Kanker Payudara dapat memperkuat kolaborasi tersebut. Dalam rencana aksi ini akan mengatur secara jelas peran dan tanggung jawab dari masing-masing pihak terkait, terutama untuk peningkatan akses layanan kesehatan, penguatan deteksi dini, dan pengobatan yang komprehensif.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Satu Tahun Melayani: KA Madiun Jaya Catatkan 43.387 Penumpang dan Terus Bertransformasi
• 17 jam lalumediaapakabar.com
thumb
Sungai Suci Berubah Jadi Bencana, Warga India Mandi Lima Hari Sekali
• 11 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Ramalan Zodiak Hari Ini, Rabu 4 Februari 2026: Aries Jangan Gegabah, Pisces Soal Perasaan Menguat
• 5 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Efek Pengumuman MSCI Merembet ke Pasar Obligasi, Lelang SUN Sepi Peminat
• 4 menit lalubisnis.com
thumb
P2MI cabut izin PT Multi Intan Amanah karena langgar terkait deposito
• 3 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.