Jika Bryan Adams adalah wajah dan suara dari setiap lagu hits yang kita dengar di radio, maka Keith Scott adalah "nyawa" yang menghidupkan melodi tersebut melalui petikan gitarnya.
Dalam konser Roll With The Punches di BCIS, Selasa (3/2) malam, Scott kembali membuktikan diri sebagai salah satu gitaris paling underrated namun paling berpengaruh dalam sejarah musik rock.
Puncak unjuk gigi Scott tersaji saat lagu It's Only Love. Di tengah lagu, Bryan Adams memberikan panggung sepenuhnya kepada sahabat lamanya itu.
Scott, yang telah berdiri di samping Adams sejak 1970-an, menunjukkan kelasnya sebagai musisi legendaris.
Kualitas permainannya tidak berkurang sejengkal pun, terlihat semakin matang, bertekstur, dan penuh jiwa.
Satu hal yang menarik perhatian adalah gitar Fender Stratocaster tua miliknya yang tampak "compang-camping". Gitar yang penuh goresan dan cat yang terkelupas itu seolah menjadi saksi perjalanan ribuan panggung yang telah mereka lalui bersama.
Di tangan Scott, gitar tua itu seolah tunduk, bukan lagi sekadar instrumen, melainkan kepanjangan jari Scott yang mengeluarkan nada bluesy tajam sekaligus manis.
Meski telah menginjak usia 71 tahun, stamina Keith Scott di atas panggung di luar nalar. Ia masih melakukan aksi ikoniknya, yaitu memutar gitar di pundaknya dengan sangat enerjik di sela-sela solo yang rumit.
Bryan Adams sendiri tidak jarang menyebut nama Scott sepanjang konser.
"Keith Scott, everybody!" teriak Adams sambil mempersilakan Scott maju ke tengah panggung.
Hubungan Adams dan Scott bukan sekadar rekan kerja, melainkan jalinan musikal yang jarang ditemukan di band rock mana pun.
Adams tahu persis bahwa tanpa riff gitar Scott yang ikonik di lagu seperti Run to You, identitas musiknya tidak akan sekuat sekarang.
Penguasaan panggung Scott sangat kontras dengan penampilannya yang bersahaja. Ia tidak butuh banyak efek pedal atau peralatan modern yang rumit untuk memukau penonton Jakarta.
Cukup dengan teknik yang presisi dan vibrato dalam, ia mampu membuat bulu kuduk penonton berdiri, terutama saat sesi improvisasi di lagu-lagu bertempo cepat.
Kehadirannya memberikan pondasi rock yang kokoh pada lagu-lagu balad Adams yang manis. Di Jakarta, ia mengingatkan penonton bahwa teknik gitar yang hebat bukan hanya soal seberapa cepat jemari bergerak di atas fretboard, melainkan seberapa besar rasa yang bisa ditularkan kepada pendengar.
Aksi Keith Scott di BCIS jadi bukti bahwa usia hanyalah angka bagi semangat rock and roll sejati.
Saat menutup solo dan membungkuk di hadapan penonton Jakarta, jelas terlihat bahwa Scott memiliki api yang sama dengan saat ia pertama kali memegang gitar empat dekade lalu.




