Bisnis.com, JAKARTA — Arab Saudi akan berinvestasi sekitar US$2 miliar atau sekitar Rp33,56 triliun untuk membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Turki. Rencana investasi ini merupakan tahap pertama dari kesepakatan luas kedua negara dalam pengembangan energi terbarukan.
Dalam investasi ini, perusahaan Saudi akan mengembangkan proyek PLTS dengan kapasitas hingga 2.000 megawatt (MW) di Provinsi Sivas dan Karaman, Turki. Kesepakatan yang ditandatangani di Riyadh pada Selasa (3/2/2026) itu juga mencakup rencana lanjutan pembangunan pembangkit surya dan angin dengan total kapasitas 3.000 MW.
Menteri Energi Turki Alparslan Bayraktar menyebut proyek ini akan memiliki tingkat lokalisasi atau kandungan lokal sebesar 50% yang akan memberikan kontribusi signifikan bagi sektor peralatan dan jasa kelistrikan di Turki. Ia menambahkan, proyek akan dibiayai melalui pendanaan eksternal, termasuk dari lembaga internasional.
Baca Juga
- Pembangkit Energi Surya China Diramal Lampaui Batu Bara untuk Pertama Kali
- Industri Energi Asia Pasifik Berkembang Pesat, Apa Pendorongnya?
- Pertamina NRE Resmi Genggam 20% Saham Emiten EBT Filipina Citicore
Mengutip Bloomberg, pengumuman proyek ini pun mendorong kenaikan saham sejumlah perusahaan energi terbarukan di Turki. Saham Kalyon Gunes Teknolojileri Uretim AS melonjak 10%, sementara Alfa Solar Enerji Sanayi ve Ticaret AS naik 6,7%.
Sebelumnya, Bloomberg melaporkan bahwa perusahaan utilitas Arab Saudi, ACWA Power Co., akan menjadi pengembang proyek PLTS tersebut.
Pemerintah Turki akan membeli listrik dari proyek Sivas selama 25 tahun dengan harga 2,3415 sen euro per kilowatt-hour (kWh) dan dari Karaman sebesar 1,995 sen euro/kWh. Bayraktar menyebut harga ini sebagai yang terendah dalam sejarah tarif energi terbarukan di Turki.





