Geolog Sarankan Pengalihan Aliran Air untuk Cegah Pergerakan Longsoran Raksasa di Aceh Tengah

tvonenews.com
5 jam lalu
Cover Berita

Banda Aceh, tvOnenews.com — Fenomena longsoran tanah raksasa di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, dinilai memerlukan penanganan segera. Ahli Geologi Universitas Syiah Kuala Banda Aceh, Bambang Setiawan, menyarankan pengalihan aliran air permukaan sebagai langkah jangka pendek untuk memperlambat pergerakan tanah di lokasi tersebut.

Menurut Bambang, air permukaan yang melintasi area pergerakan tanah berpotensi mempercepat longsoran. Karena itu, pengalihan aliran air dinilai penting agar tidak melewati titik kejadian.

“Untuk menangani fenomena tersebut dalam jangka pendek, saya menyarankan agar aliran air permukaan dialihkan sehingga tidak melewati lokasi pergerakan tanah,” ujar Bambang di Banda Aceh, Rabu, menanggapi fenomena longsoran di Ketol.

Namun demikian, Bambang menegaskan bahwa pengalihan aliran air, termasuk penentuan lintasan alirannya, harus mempertimbangkan kondisi geologi di lapangan agar tidak memicu permasalahan baru di wilayah lain.

Lubang Raksasa Terus Membesar

Seperti diketahui, dalam beberapa bulan terakhir masyarakat Aceh dihebohkan dengan longsoran tanah di Ketol, Aceh Tengah, yang membentuk lubang raksasa. Lubang tersebut awalnya berukuran kecil sejak awal tahun 2000-an dan terus bergerak secara bertahap sejak 2004.

Berdasarkan perhitungan tim geologi Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Aceh, luas lubang kini telah melebihi 30 ribu meter persegi. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan pada 2021 yang tercatat sekitar 20.199 meter persegi, atau bertambah sekitar 10 ribu meter persegi dalam lima tahun terakhir.

Bambang menyebut, fenomena lubang raksasa di kawasan Ketol masih menjadi misteri dan memerlukan penelitian geologi lanjutan. Secara geologi, kondisi tersebut berpotensi mengarah pada fenomena sinkhole sebagai pemicu terbentuknya lubang besar.

Potensi Sinkhole dan Risiko Geologi

Ia menjelaskan, berdasarkan peta geologi lembar Takengon yang disusun Cameron dan rekan-rekannya pada 1983, kawasan tersebut tersusun atas formasi Sembuang berupa batu gamping atau batu kapur yang mengalasi batuan vulkanik satuan Lampahan di permukaan.

Di sisi lain, batuan vulkanik penyusun satuan Lampahan memiliki potensi longsor yang tinggi, terutama pada lereng yang curam.

“Permasalahan akan menjadi rumit jika fenomena sinkhole yang memicu munculnya lubang raksasa tersebut, karena penanganan teknisnya memerlukan upaya dan sumber daya yang jauh lebih besar dibandingkan longsor biasa,” kata Bambang.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Siswa SMP Sungai Raya Kalbar Lempar Molotov di Sekolah, Densus Beberkan Penyebabnya!
• 6 jam laluokezone.com
thumb
Desa Wisata Kampung Prai Ijing Sabet Penghargaan ASEAN Tourism Awards 2026
• 23 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Waka Komisi X DPR: Negara Wajib Pastikan Anak Tak Terbebani Kemiskinan
• 13 jam laludetik.com
thumb
Mengapa "Anjing" dan "Bangsat" Menjadi Titik Koma Remaja Masa Kini?
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Foto: Merawat Tradisi Barter di Pasar Warloka Pesisir, Manggarai Barat
• 23 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.