Mengapa "Anjing" dan "Bangsat" Menjadi Titik Koma Remaja Masa Kini?

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bahasa adalah entitas yang hidup dan terus bertransformasi, namun bagi sebagian orang, bahasa yang digunakan remaja saat ini tampak seperti sedang mengalami pergeseran nilai yang mengkhawatirkan. Jika kita berjalan di koridor sekolah, pusat perbelanjaan, atau sekadar memantau kolom komentar di media sosial, kita akan sering menangkap kosakata yang dulunya dianggap tabu dan sangat dilarang.

Kata-kata seperti anjing, bangsat, tolol, hingga goblok kini tidak lagi diucapkan dengan nada kemarahan yang meluap-luap atau sebagai bentuk serangan fisik secara verbal. Sebaliknya, kata-kata tersebut mengalir begitu saja dalam percakapan santai sehari-hari, seolah-olah berfungsi sebagai tanda baca, imbuhan, atau penekanan emosi semata yang telah kehilangan daya kejutnya.

Fenomena ini menggambarkan sebuah realitas sosiolinguistik yang drastis di kalangan Generasi Z dan Alpha, di mana penggunaan kata kasar telah bermutasi dari instrumen penghinaan menjadi simbol keakraban dan identitas kelompok. Dahulu, menyebut seseorang dengan kata "Anjing" adalah undangan terbuka untuk sebuah perkelahian fisik atau konflik yang serius.

Namun hari ini, dalam konteks pergaulan remaja, kalimat seperti "Anjing, keren banget sepatu lo!" justru mengandung makna kekaguman yang mendalam. Di sini, kata makian tersebut kehilangan makna denotatifnya sebagai sebutan hewan dan beralih fungsi menjadi sebuah interjeksi atau kata seru untuk mengekspresikan intensitas perasaan yang meluap.

Normalisasi ini dipicu secara masif oleh pengaruh media sosial dan budaya digital yang tidak mengenal sekat. Di platform seperti TikTok, X, dan Instagram, bahasa kasar sering digunakan oleh para pembuat konten atau pemain gim sebagai bagian dari persona yang dianggap autentik dan apa adanya. Ketika seorang remaja melihat idola digital mereka berteriak "Bangsat!" saat mengalami kegagalan dalam permainan, mereka menyerap kata tersebut bukan sebagai pelanggaran norma, melainkan sebagai reaksi alami yang patut ditiru.

Selain itu, ada kebutuhan psikologis akan solidaritas kelompok di mana menggunakan kata-kata "terlarang" menciptakan rasa eksklusivitas. Remaja merasa bahwa dengan saling memanggil "Goblok" atau "Tolol" tanpa merasa tersinggung, mereka telah mencapai tingkat kedekatan tertentu di mana kesopanan formal tidak lagi diperlukan untuk membuktikan persahabatan mereka.

Keadaan ini diperparah dengan terjadinya desensitisasi linguistik, yaitu penumpulan saraf sensorik terhadap kekasaran kata akibat frekuensi penggunaan yang sangat tinggi. Karena telinga mereka sudah terlalu sering terpapar, kata-kata tersebut tidak lagi dianggap kotor. Dalam sebuah simposium mengenai perkembangan bahasa remaja, Dr. Lestari Handayani, seorang pakar Psikolinguistik, pernah menyampaikan keresahannya dalam sebuah pidato yang menekankan bahwa bahasa remaja adalah dialek pemberontakan sekaligus pencarian jati diri.

Beliau menyatakan bahwa ketika mereka menggunakan kata-kata kasar secara kasual, mereka sebenarnya sedang menegosiasikan batas-batas sosial yang ada, namun bahayanya terletak pada hilangnya kemampuan mereka untuk membedakan ruang privat yang akrab dengan ruang publik yang formal. Beliau memperingatkan bahwa jika kata "bangsat" sudah menjadi titik koma dalam hidup mereka, maka struktur empati dalam berkomunikasi sedang mengalami pendangkalan yang serius.

Dampak nyata dari pergeseran ini adalah terjadinya reduksi bahasa yang membatasi kecerdasan emosional. Daripada berupaya mencari kosakata yang tepat untuk mendeskripsikan perasaan yang kompleks, remaja cenderung menggunakan kata makian sebagai jalan pintas untuk mewakili segalanya.

Alih-alih mengatakan bahwa mereka merasa sangat kecewa, mereka hanya akan melontarkan kata "Babi" atau "Anjing" untuk merangkum seluruh kekesalan tersebut. Secara jangka panjang, kebiasaan ini dapat terbawa ke ranah profesional atau situasi formal di mana mereka mungkin akan gagap saat harus berkomunikasi dengan elegan tanpa bantuan kata-kata kasar.

Fenomena ini membuktikan bahwa bahasa tetaplah cermin dari cara seseorang berpikir dan memproses dunia. Meskipun kata-kata kasar saat ini terasa seperti bumbu yang membuat percakapan menjadi lebih seru dan akrab, kualitas diri seseorang akan tetap dinilai dari bagaimana ia memperlakukan bahasa dalam berbagai situasi.

Remaja perlu menyadari bahwa memiliki kemampuan untuk menyesuaikan gaya bicara atau register bahasa adalah bentuk kecerdasan yang jauh lebih tinggi daripada sekadar mengikuti tren yang mendegradasi martabat verbal. Jangan biarkan kosakata yang luas terjebak dalam lingkaran makian sempit, karena dunia yang lebih besar menuntut komunikasi yang penuh hormat dan ketepatan kata.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
KPK Amankan 3 Orang di OTT Kalsel, Salah Satunya Kepala KPP Madya Banjarmasin
• 1 jam lalukompas.tv
thumb
Ekonom Soroti Gebrakan Purbaya Rombak Pegawai Bea Cukai dan Pajak
• 16 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Polda Metro Jaya Panggil Pandji Pragiwaksono Buntut Laporan Soal "Mens Rea": Kami Minta Klarifikasi
• 11 jam lalukompas.tv
thumb
Mbizmarket Apresiasi Daerah dan RS yang Dorong Transformasi Pengadaan Digital
• 19 jam lalurepublika.co.id
thumb
Komdigi Bicara Aturan Turunan PP Tunas: Seimbangkan Hukum-Fleksibilitas Norma
• 10 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.