EtIndonesia. Menurut catatan pada lempengan tanah liat yang digali dari peradaban Babilonia kuno, orang terkaya di Babilonia bernama Arkad. Banyak orang iri dan kagum pada kekayaannya, sehingga mereka datang kepadanya untuk menanyakan rahasia menjadi kaya.
Pada awalnya, Arkad hanyalah seorang pengrajin yang bekerja mengukir tulisan pada batu bata tanah liat. Suatu hari, seorang pria kaya bernama Algamish memesan kepadanya sebuah lempengan tanah liat berisi hukum-hukum tertulis. Arkad berkata bahwa dia bersedia bekerja semalaman dan menyelesaikannya sebelum fajar, dengan satu syarat: Algamish harus mengajarinya rahasia untuk menjadi kaya.
Algamish menyetujui syarat tersebut. Saat fajar menyingsing, Arkad menyelesaikan pekerjaannya, dan Algamish pun menepati janjinya.
Dia berkata: “Rahasia menjadi kaya adalah: dari uang yang kamu peroleh, sisihkan sebagian untuk ditabung.”
Dia melanjutkan: “Kekayaan itu seperti pohon. Dia tumbuh dari biji yang sangat kecil. Uang pertama yang kamu tabung adalah benih dari pohon kekayaanmu. Tidak peduli seberapa sedikit penghasilanmu, kamu harus selalu menabung sepersepuluhnya.”
Setahun kemudian, Algamish kembali dan bertanya kepada Arkad apakah dia benar-benar mengikuti nasihat tersebut—menyisihkan sepersepuluh dari penghasilannya.
Dengan bangga, Arkad menjawab bahwa dia telah melakukannya.
Algamish lalu bertanya: “Lalu, bagaimana kamu menggunakan uang tabungan itu?”
Arkad menjawab: “Aku memberikannya kepada seorang tukang batu bernama Aluma. Dia akan pergi ke negeri jauh untuk membeli permata langka dari orang Filistin. Ketika dia kembali, kami akan menjual permata itu dengan harga tinggi dan membagi keuntungannya.”
Mendengar itu, Algamish menegur dengan keras: “Hanya orang bodoh yang melakukan hal seperti itu! Mengapa membeli permata tetapi mempercayai tukang batu? Tabunganmu sudah lenyap! Anak muda, kamu telah mencabut pohon kekayaanmu sampai ke akar-akarnya. Jika ingin membeli permata, bertanyalah kepada pedagang permata. Jika ingin membeli wol, bertanyalah kepada pedagang wol. Jangan berbisnis dengan orang yang bukan ahlinya!”
Seperti yang dikatakan Algamish, tukang batu itu tertipu oleh orang Filistin. Yang dibawanya pulang hanyalah kaca murahan yang tampak seperti permata.
Arkad kembali bertekad untuk menabung sepersepuluh dari penghasilannya.
Pada tahun berikutnya, ketika Algamish datang lagi dan menanyakan hasil tabungannya, Arkad menjawab: “Aku meminjamkannya kepada seorang pandai besi untuk membeli bahan perunggu. Dia membayarku bunga setiap empat bulan.”
Algamish berkata : “Bagus. Lalu, bagaimana kamu menggunakan bunga yang kamu terima?”
Arkad menjawab: “Aku menggunakan uang bunga itu untuk menikmati jamuan makan yang lezat dan membeli pakaian yang bagus. Aku juga berencana membeli seekor keledai untuk ditunggangi.”
Algamish tersenyum dan berkata: “Kamu telah menghabiskan anak-anak dari uangmu. Bagaimana kamu berharap mereka dan keturunannya bisa terus bekerja untukmu dan menghasilkan lebih banyak uang? Nikmatilah kekayaan hanya setelah dia cukup besar, agar kamu bisa menikmatinya tanpa kekhawatiran.”
Dua tahun kemudian, Algamish kembali bertanya: “Apakah kamu sudah mencapai kekayaan yang kamu impikan?”
Arkad menjawab: “Belum. Namun aku telah menabung sejumlah uang, dan uang itu kini menghasilkan uang, lalu uang itu kembali menghasilkan uang.”
Algamish bertanya lagi: “Apakah kamu masih meminta nasihat kepada tukang batu?”
Arkad menjawab: “Untuk urusan membuat batu bata, nasihat mereka sangat berguna.”
Algamish tersenyum puas dan berkata : “Kamu telah mempelajari rahasia kekayaan. Pertama, kamu belajar menyisihkan uang dari penghasilanmu. Kedua, kamu belajar meminta nasihat dari orang yang ahli. Ketiga, kamu belajar membuat uang bekerja untukmu, sehingga uang bisa menghasilkan uang. Kamu telah belajar bagaimana memperoleh kekayaan, menjaga kekayaan, dan menggunakan kekayaan.”
Sejak delapan ribu tahun yang lalu, bangsa Babilonia telah menyadari bahwa orang sukses adalah mereka yang pandai mengelola, menjaga, dan menggunakan kekayaan untuk menciptakan lebih banyak kekayaan.
Jalan menuju kekayaan terletak pada mendengarkan nasihat profesional dan memegang prinsip tersebut sepanjang hidup.
Dalam kebijaksanaan kuno ini tersimpan lima hukum emas tentang uang:
Hukum Pertama Uang
Uang perlahan mengalir kepada mereka yang mau menabung. Menyisihkan minimal sepersepuluh penghasilan setiap bulan, lama-kelamaan akan membentuk kekayaan yang besar.
Hukum Kedua Uang
Uang mau bekerja untuk orang yang tahu cara menggunakannya. Mereka yang bersedia mendengarkan nasihat ahli dan menempatkan uangnya pada investasi yang aman dan produktif akan membuat uang berkembang dan menciptakan kekayaan tanpa henti.
Hukum Ketiga Uang
Uang akan bertahan bersama mereka yang tahu cara melindunginya. Orang yang menghargai nilai waktu, bersabar, berhati-hati, dan tidak tergoda keuntungan cepat akan melihat kekayaannya terus bertumbuh.
Hukum Keempat Uang
Uang akan menjauh dari orang yang tidak pandai mengelolanya. Bagi mereka, peluang investasi tampak ada di mana-mana, tetapi sesungguhnya jebakan juga tersembunyi di mana-mana. Kesalahan penilaian sering kali berujung pada kerugian.
Hukum Kelima Uang
Uang akan menjauh dari orang yang menginginkan keuntungan instan. Investasi memiliki tingkat pengembalian yang wajar. Mereka yang serakah mengejar keuntungan besar sering tertipu dan kehilangan uang. Kurangnya pengalaman dan pengetahuan adalah penyebab utama kegagalan investasi.
Hikmah Cerita
Kisah ini diambil dari cerita pengelolaan keuangan tentang Arkad, orang terkaya di Babilonia. Kekayaannya begitu besar hingga bahkan raja Babilonia pun meminta nasihat kepadanya—sebuah bukti betapa luar biasanya pencapaiannya.
Semoga melalui cerita hari ini, kita semua bisa belajar dan menerapkan jalan menuju kesejahteraan yang bijak dan berkelanjutan, bukan hanya dalam mencari uang, tetapi juga dalam menjaga dan menggunakannya dengan benar. (jhn/yn)


