Di tengah teriknya matahari Kota Surabaya pukul 13.30 WIB, Sakir memarkirkan sepedanya di trotoar kawasan Makam Sunan Ampel, Jalan Nyamplungan, Surabaya.
Ia mulai menata tahu goreng, garam, serta cabai rawit yang ditaruh di papan kayu di sepedanya. Dilanjut dengan membungkus petis di plastik kecil.
Setelah tertata rapi, Sakir duduk bersantai depan ruko mencicipi bekalnya, yakni buah jambu biji sambil menawarkan tahu petis ke orang yang melintas.
Begitulah kegiatan Sakir, pria penjual tahu petis asal Peterongan, Jombang. Ia berjualan tahu petis di Surabaya sekitar 45 tahun. Jarak kedua kota ini sekitar 80 km. Jika pulang-pergi, maka dia menempuh jarak sekitar 160 km.
"Asal Peterongan, Jombang, dekat Pondok Darul Ulum. Ini baru sampai. (Jualan) sudah dari zamannya Pak Soeharto. 45 tahunan. Dulu (jualan) di dekat Suramadu, masih mancal (naik sepeda)," kata Sakir saat ditemui di sekitar Makam Sunan Ampel, Rabu (4/2).
Pria 65 tahun ini setiap dua hari sekali pergi dari Jombang ke Surabaya untuk berjualan tahu petis.
Sedari pagi, ia mengambil tahu petis dari produsen di Jombang. Kemudian, ia susun rapi barang bawaannya di sepeda tuanya tersebut.
Kemudian Sakir mencari tumpangan truk untuk mengangkut dagangan bersama sepeda tuanya hingga ke Surabaya.
"Ya, dinaikkan ke truk. Setoran (ke produsen tahu) ini, ambil di Jombang," ucapnya.
Sesampainya di Kota Pahlawan, Sakir mulai berkeliling. Seringnya, Sakir mangkal di kawasan Makam Sunan Ampel hingga ke wilayah Blauran.
Ia menjual tahu petis hingga malam hari antara pukul 21.00 WIB hingga 23.00 WIB. Setelah itu, Sakir kembali ke daerah Medaeng untuk mencari truk tebengan lagi untuk pulang ke Jombang.
Sakir berjualan dua hari sekali. "(Jualan) dua hari sekali. Malam pulang ke Medaeng buat nebeng truk," ujar dia.
"Ya, pulang jam 9 malam sampai 11 malam. Nggak mesti tergantung rezekinya," tambahnya.
Seharinya, Sakir bisa mendapat penghasilan Rp 400 ribu yang kemudian disetorkan kepada produsen tahu.




