Kemendikdasmen Soal Siswa SD di NTT Bunuh Diri: Almarhum Penerima PIP

kumparan.com
10 jam lalu
Cover Berita

YBS (10), siswa laki-laki kelas IV SD di Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), ditemukan tewas gantung diri, Kamis (29/1). Ia sempat minta buku dan pena, tapi keluarganya tak mampu membelikan karena tak ada uang.

Terkait peristiwa itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyampaikan dukacita.

"Kami menyampaikan empati dan belasungkawa kepada keluarga, teman, guru, serta seluruh warga sekolah yang terdampak," ujar Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Atip Latipulhayat, dalam rilisnya, Rabu (4/2).

Kemendikdasmen, menurut Atip, memandang peristiwa ini sebagai kejadian yang sangat serius dan mengingatkan bahwa kesejahteraan psikososial anak merupakan isu yang kompleks.

Ia menjelaskan bahwa kondisi emosional anak dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait, sehingga memerlukan perhatian dan dukungan berkelanjutan dari keluarga, sekolah, masyarakat, dan negara.

Namun demikian, lanjutnya, Kemendikdasmen menegaskan bahwa pemenuhan hak dan perlindungan anak, khususnya bagi anak dari keluarga rentan, tidak dapat berhenti pada dukungan finansial semata, melainkan harus mencakup pendampingan psikososial, perhatian moral, serta lingkungan tumbuh kembang yang suportif.

Atip menuturkan bahwa saat ini Kemendikdasmen melalui Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) NTT telah berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan perangkat daerah terkait untuk melakukan pendampingan kepada keluarga, termasuk menyiapkan dukungan keberlanjutan pendidikan bagi anggota keluarga lainnya.

Selain itu, lanjutnya, koordinasi lintas sektor juga dilakukan guna memastikan keluarga memperoleh akses layanan sosial dan pendidikan yang dibutuhkan.

"Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua akan pentingnya menghadirkan lingkungan yang aman, nyaman, dan suportif bagi tumbuh kembang anak. Satuan pendidikan, bersama orang tua dan masyarakat, memiliki peran penting dalam membangun komunikasi yang terbuka, sehingga setiap anak merasa aman mengekspresikan kerentanan mereka, mendapatkan kepedulian terhadap kondisi emosionalnya, serta merasa didengar, dihargai, dan didampingi secara memadai," ujar Atip.

Ia melanjutkan, "Kemendikdasmen mengajak seluruh pihak untuk menyikapi informasi secara bijak serta menghindari penyebaran spekulasi yang berpotensi menambah beban psikologis bagi keluarga korban dan komunitas sekolah."

"Dukungan bersama dari sekolah, keluarga, masyarakat, media, serta pemerintah pusat dan daerah sangat diperlukan dalam menghadirkan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan suportif sebagai bagian dari upaya pencegahan peristiwa serupa di masa mendatang," ujar Atip.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Edwin Soeryadjaya Serok Saham Saratoga (SRTG) Senilai Rp2,47 Miliar
• 16 jam lalubisnis.com
thumb
Pramono Janji Sikat Spanduk-Baliho Parpol Tak Berizin: Enggak Lihat Partai ABCD
• 17 jam lalukompas.com
thumb
Pemesanan Tiket KA Angkutan Lebaran 1447 H, Hingga H-4 Sudah Dapat Dipesan, Daop 7 Madiun Tembus 19.110 Pelanggan
• 5 jam lalumediaapakabar.com
thumb
KPK sebut persidangan ekstradisi Paulus Tannos sudah masuk babak akhir
• 19 jam laluantaranews.com
thumb
Inilah Tampang Liu Xiaodong, WN Cina Otak Pelaku Pencurian Emas 774 Kg di Ketapang!
• 16 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.