Presiden Prabowo Subianto menggagas penggunaan genteng sebagai atap rumah atau yang ia sebut sebagai program ‘gentengisasi’. Prabowo ingin, semua rumah di Indonesia menggunakan atap dari genteng.
Menanggapi hal itu, perajin genteng di Sentra Industri Genteng Godean, Sleman, Moh Albani (52), berharap program ‘gentengisasi’ benar-benar melibatkan perajin kecil seperti dirinya.
“Harapannya uangnya sampai ke pengrajin kecil, belinya ke pengrajin kecil, enggak berhenti di pabrik besar,” kata Albani saat ditemui Pandangan Jogja di lokasi usahanya, Rabu (4/2).
Albani telah menekuni usaha genteng selama lebih dari 25 tahun. Dalam sehari, ia biasa memproduksi 200 genteng, karena semua prosesnya dilakukan secara manual.
Meski masih rutin berproduksi, ia menghadapi kendala keterbatasan bahan baku tanah liat yang semakin sulit didapat di wilayah Sleman.
Dalam lima tahun terakhir, Albani terpaksa mengambil bahan baku genteng dari luar daerah. Selama ini, pemasaran genteng hasil produksinya masih terbatas di sekitar rumah produksi.
“Paling ramai tahun 1995. Sekarang bahannya dulu ambil di bukit, ditambangi semua, ada yang dibikin perumahan. Sekarang mulai ngambil di Kulon Progo,” ujarnya.
Harapan serupa juga disampaikan perajin genteng lainnya di Godean, Sukamto (60). Ia berharap gagasan ‘gentengisasi’ dapat meningkatkan omzet sekaligus menciptakan sistem pemasaran yang lebih adil, terutama dalam peran pengepul.
“Harapan saya rakyat jual, laris, laku. Kalau bisa tanah genteng dari sini nggak dari luar. (Misalnya) genteng Kudus ya dijual di Kudus, genteng Godean dijual di Godean,” kata Sukamto.
Sukamto menyebut masa kejayaan penjualan genteng terjadi pada rentang 1980–1990-an. Hingga kini ia masih memproduksi genteng setiap hari, meski penjualannya tidak selalu stabil.
Saat ini, Sukamto memasarkan genteng produksinya melalui aplikasi WhatsApp. Mayoritas pembeli berasal dari wilayah Yogyakarta, meski dalam beberapa bulan terakhir produknya sempat dikirim ke luar daerah.
“Pembelian rata-rata di Jogja. 3 bulan terakhir pernah ke Serang, Banten. Rata-rata beli 3.000 itu buat rumah kecil, ada yang 5.000 untuk rumah besar tapi jarang sekali,” ujarnya.


/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2025%2F12%2F30%2Fef6932ffc24684f9fa08848e5bcb1040-20251229ronF.jpg)